21 July 2018

Tribute to My Best Manager!

Bila kau dapat mengerti
Sahabat adalah setia
Dalam suka dan duka
Kau 'kan dapat berbagi rasa
Untuknya..
Begitulah seharusnya
Jalani kehidupan
Setia....setia...setia
Dan tanpa terpaksa
Pagi ini, rasanya aku seperti baru kehilangan salah satu teman terbaikku. Bapak manajer pertama dalam perjalananku menjadi seorang pekerja. "Bapake" begitu aku biasanya memanggil beliau. Sedihnya, mulai hari ini Bapake akan kembali bekerja di kantor pusat, tidak di proyek. Jujur, saat pertama kali aku mendengar kabarnya, aku menangis saat itu juga. Tapi keesokan harinya, kami semua masih bertemu lagi dengan Bapake. So, none of us said a word about the news. Dalam hati, aku berdoa, semoga itu hanya kabar burung. Nggak lama setelah itu, Bapake mengirimiku pesan 
"sampe ketemu lagi", aku fikir, semoga bapake hanya bercanda. Karena, besoknya Bapake masih masuk proyek lagi.

Tapi, pagi ini, Bapake betulan kembali ke Surabaya. Memoriku memutar balik waktu, kembali ke saat-saat pertama aku masuk ke proyek ini. I can say, he is one of my best friend since day one. Aku masuk kantor, dengan diwawancara oleh Bapake. Kemudian, aku masuk ke proyek yang sama dengan Bapake. Mengantor bareng dari mulai di Gresik, Surabaya, sampe akhirnya pindah ke site di Kudus. It breaks my heart a lot. Aku kira, kalau kita mulainya bersama-sama, mengakhirinya pun akan di saat yang sama pula. 

Bapake adalah semangatku untuk belajar menegakkan kepalaku lagi di saat-saat terberat yang aku alami saat di proyek. Bapake yang menghiburku, kalau aku gak boleh merasa bersalah atas apa yang sedang terjadi, karena itu bukan salahku, namun salah semuanya. Bapake yang menjadi semangatku kala aku merasa rendah diri melihat tatapan-tatapan merendahkan mereka saat itu, atas apa yang sama sekali tidak mereka mengerti. Aku berhasil melalui hari-hari beratku itu, karena aku punya atasan, teman baik, sebaik Bapake. Yang selalu sabar dan sangat susah sekali untuk marah. Sesekali, mungkin beliau akan berbicara dengan nada sedikit tinggi, mungkin hanya saat beliau benar-benar merasa lelah, namun lebih banyak Bapake selalu menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan nada ramah dan sesekali bercanda. Bapake, orang yang pandai di mataku. Mungkin karena beliau sudah banyak pengalamannya. Mengerti nggak hanya tentang bidangnya, tetapi mencoba untuk juga memahami bidang-bidang lainnya, mesin, proses, pipa, sipil, elektrikal, bahkan sampai ke pelaksanaannya. 

Aku bersyukur dipertemukan Allah dengan orang baik seperti Bapake di pengalaman kerja pertamaku. Setidaknya, aku belajar agar bisa menjadi orang yang baik seperti Bapake. Bapak kepala sekolah kesayangan anak-anak engineering. I owe you a lot, Bapak. Pasti akan aneh rasanya besok masuk kantor dengan gak ada Bapak. Pasti kami bingung harus berdiskusi dengan siapa. Nggak ada yang nggudoi ciwi-ciwi lagi. Nggak ada yang tiba-tiba nggudoi kalo saya lagi makan sendirian hahahaha karena nggak bisa nawarin. Nggak ada yang kita ajakin pulang bareng-bareng ke Surabaya. Pasti akan rindu momen-momen bersama di Rendeng.

See you again, Bapake, di hari yang lebih baik, di proyek-proyek lainnya. 
Thank you for everything, Bapake, Bapak Hana Suhana. Selamat berkumpul kembal dengan 3 krucil di rumah! Sukses selalu untuk Bapak! Bapak kepala sekolah terbaik anak-anak engineering PG Rendeng! We will miss you so much! Doakan semua dokumen kami segera selesai. Doakan kami selalu semangat walau sudah nggak ada Bapak lagi di Rendeng! :") 

P.S: Saya sedih gakpunya foto bareng Bapak! Soalnya saya kira kita semua bakal bareng2 sampe engineering selesai dan gakpernah foto bareng ya Pak! 😔

4 July 2018

Jalan-jalan ke Umbul Sidomukti!



Haloo para pembaca setia! 
Jadi weekend kemarin, aku bersama sebelas teman proyekku lainnya tamasya ke daerah Bandungan di Semarang. Yang belom pernah ke Bandungan, dia tuh daerah dataran tinggi dan dinginnya Semarang. Jadi kayak Batu sama Malang kitu coy suasananya. Adem!

Sebenernya ini dadakan sih, awalnya yang mau berangkat kesana si cowo-cowo. Terus, di Minggu pagi saat aku baru selesai ambil laundry, aku dipanggil buat nonton tipi (AADC) waktu lewat. Dan diajak lah (dengan berat hati keknya mereka tuh huakakaka) para ciwi-ciwi untuk ke Umbul Sidomukti, dengan satu syarat: Nggak boleh rewel! Soalnya mau nggembel, katanya.. 

Awalnya, dari 5 ciwi-ciwi, yang mau ikut adalah 3 biji. Namun akhirnya kelima dari kita ikut semua, HAHAHAHA dengan salah kostum! Katanya, kostum kita tuh kayak mau ngemall, mana gada yang bawa ganti pula, hahaha, soalnya di Umbul itu ada kolam renangnya gitu yekan.. Terus kita ahirnya balik ke kos lagi bawa perbekalan. Ini penampakan kita.. biar kalo mau foto-foto ada manis-manisnya gituloh maksudnya cuy.





Okey! Jadi perjalanan panjang ke Umbul dimulai jam 10 pagi dengan memesan grab untuk pergi ke terminal. (maklum bukan di kota gede cuy jadi rada ribet yahh). Kita pesen 2 mobil, karena total pesertanya kan 12 orang, sedangkan 1 grab cuman boleh diisi 6 orang. Biaya naik grab dr kos ke terminal kudus adalah Rp 22.000, karena lagi promo "AYOSMG", jd dpt potongan 6 ribu. Mayan kann! Habis itu, kita ngetem bus di pinggir jalan, tapi biasanya emang udah ada bus yang stand by di pinggir jalan itu. Paling nunggu 10 menit udah jalan busnya. Nah, biaya naik bus Kudus ke Terminal Terboyo Semarang ini, biaya nya Rp 10.000. Jaraknya ngga begitu jauh sih, kalo lagi ngga macet satu jam udh bisa sampe di Semarang. Kalo macet dan banjir bisa sampe 2-3 jam. Tapi karena sekarang jalan nya sudah diperbaiki, semoga ngga pernah nyampe 3 jam lagi kitu yah..




Sesampenya di Terboyo, kita langsung imbal naik Bus Trans Semarang. Dengan naik BRT yang cuman bayar Rp 3.500 ini, kita langsung bisa sampe ke titik terdekat ke Bandungan, yaitu kita turun di Ungaran nya! Ajib banget lah, kalo naeknya di terminal, insyaAllah bisa dapet duduk, jadi kalo tujuannya jauh, jangan khawatir yaa! Kalo kalian kepo sama penampakannya BRT, langsung cekidot di video di atas yahh! Bagus lah masih, karena masih baru dan dirawat jg yah. Harus dibanyakin lah transport umum yg kaya gini. Perjalanan dari Terboyo ke Ungaran kurang lebih hampir sejam juga. Dan Alhamdulillah perjalanan lancar & ga sumuk beb.. hehe!

Di Ungaran, kita turun di alun-alun Ungaran sembari istirahat makan dan shalat. Karena aku lagi gak bisa makan/minum, aku hemat uang karena cuman nabung beli jajan (siomay) buat jaga-jaga ajah. Dan di dekat alun-alun itu, ada masjid bagus, jadi enak deh. Setelah selesai ishoma, kita pesen grab buat ke Bandungan nya, karena masih lumayan jaoh dan agak masuk. Biaya ngegrab dari alun-alun Ungaran ke Umbul Sidomukti ini adalah Rp 55.000 untuk 6 orang. Murah lah menurutku.. Karena jalannya naik.. belum lagi kalau macet kayak aku kemarin. Kasihan Bapak grabnya, bisa gak balik modal kitu kan.. Jalan dari jalan utama ke Umbul nya lumayan masuk sih dan lewat jalanan permukiman gitu, jadi nggak seberapa besar ruasnya, tapi sudah di atur jalan masuk dan keluar nya sedemikian rupa, sehingga nggak sempit-sempitan banget, dan kalo provider kalian nggak yang "itu", udh gaada sinyal cuy.. wkwkwk. Perjalanan ke Umbul Sidomukti ini, menghabiskan waktu hampir 2 jam.. jadi kita sampe disana udah hampir jam 4 sore gitu. Sedangkan wisata utama di Umbul Sidomukti tutupnya jam setengah 6. Kalau mau main flying fox, sepeda angin, jam setengah 5 udah tutup. Jadi, kalau mau kesini, mending berangkat pagian! Kalo tiket masuknya sih cuman Rp 13.000 kalau mau main yang lain, nambah lagi biayanya paling mahal Rp 40.000 an.




Akhirnya, kita pulang dari Umbul Sidomukti pake grab lagi ba'da Magribh, dan jalan dari alun-alun ke Terboyo jam 20.00 dengan naik bus. Dan sampe di Kudus jam 23.00.. Overall, perjalanan yang menyenangkan sama temen2 proyek. Akhirnya pergi ke tempat selain mall, bioskop. Walaupun effortnya lumayan banget! Hahaha, the perks of living in a small city! Ngga punya kendaraan sendiri. Dinikmati aja! Okeyy, sampe jumpa di cerita selanjutnya! Stay tuned!

Salam hangat,
R.

10 June 2018

Blablabla

1 day..

1 day until my age turns into 23. Who knows, another chapter of my life will turn to the new one. Time flies. I say it quite often. I feel so much burden within me lately. It was a terrible feeling, because I don't know where to share it, where to start, where to blabber everything about this.. I just don't feel good. I guess, this is where I end up in my lowest point. Finally, I got days off after non-stop 10 months worked on the factory and lived in a smaller city. Which sometimes feels so boring yet exciting cause I got my friends around me. Twenty three.. It's not a small number of ages. I wish, I could pursue my dreams at this year. Be better in every aspect. Live a happy and healthy life with my lovely people. Last but not least, have a better romance life, cause I've been so tired with this stuff that I don't really think a lot about it..

I hope that I can turn back the time
To make it all alright, all alright for us
I'll promise to build a new world for us two
With you in the middle


8 June 2018

Guwd



"Imma innahu kaana in kaana yas'a 'alaa waa lidaihi aw ahadimaa fa huwa fii sabilillah"

If there is a person who makes efforts to provide for his parents, your parents are getting old, they can't afford anything for themselves, you have to do extra regular time, because your regular job is  enough only to pay for yourself. But now your parents are sick, so you have to do an extra job to support them. so what did the Prophet said about this? "fa huwa fii sabilillah", that person is struggle in the path of Allah.

"Fa idza qudhiyatish-sholaah fantasyiruu fil-ardh wabtaghuu min fadhlillaa" when the prayer is done, go spread out in the land, everywhere you have to go, and pursue Allah's favors. 

3 April 2018

Bekerja di Kudus


Oke, jadi sebenernya agak dongkol waktu harus nulis ulang cerita ini. Cerita yang sebelumnya hilang karena kesalahan teknis, pernah ngalamin hal yang serupa sebelumnya, jadi yaudah sabar aja wkwk 😔 So, here I am right now, jadi salah satu penduduk sementara Jawa Tengah.

Bekerja di Kudus, semacam a twist plot in my story. Sebelumnya, aku berencana untuk melanjutkan studiku selepas wisuda. Namun ternyata takdir berkata lain, sampai sekarang aku belum diizinin Allah buat kuliah. And for some reasons, aku merasa harus menyelesaikan tanggung jawabku disini. Jadi, aku sekarang kerja di proyek revitalisasi pabrik gula. Semacam dateng ke wisata sejarah kalo kalian kesini. Karena pabrik ini sudah berdiri sejak tahun 1840. Yang menarik, dari bekerja disini adalah aku dapat ilmu yang ga aku dapat selama kuliah. Karena, nggak cuman encourage ilmu ketekniksipilan aja, tapi juga tahu tentang mekanikal, proses, dan lain-lain.

Selain itu, yang paling utama, disini aku dapat kesempatan buat self-improving banget banget banget. Dari yang semula anak mama cuman pernah pisah selama 6 bulan karena harus nemenin sodara, hahaha kalo kali ini beneran jadi anak rantau ya. Terus kalian tahu, keseharianku disini itu bener-bener beda sama kalo aku di Surabaya. Kudus itu kotanya bisa dibilang sepi kalo dibandingin sama di Surabaya. Jam 9 disini udah bener-bener sepi. Pertokoan dan mall-mall disini pun nggak selengkap kalo di Surabaya, susah kalo lagi pengen apa gitu, jadi seringkali aku sangat bergantung sama online shop hahahaha.  Biasanya, kalo weekend dan kita semua masih kaya, kita main ke Semarang buat nyari hiburan. Sederhana sih, biasanya ke mall, buat nonton, beli makan, atau sekedar windows shopping. Kalo di Surabaya, aku punya kendaraan, jadi kemana-mana gitu kan gampang ya. Kalo disini, berangkatnya di jemput, pulangnya jalan kaki. mau pergi jauh dikit, pake grab. Kalo yang cowo-cowo lagi baik, ya dianterin sama mereka. :D (dan mereka baik semua wkwk). Meski sebulan sekali masih bisa pulang ke Surabaya, sering banget rindu sama rumah. Karena kadang kalo lagi di titik jenuh, butuh hiburan, susah nyarinya kalo disini hehehe. 

Sampe waktu itu pernah kepikiran sama temen kantor, seru kali yaa, kalo masa muda kita digunain buat nyari pengalaman sebanyak mungkin. Move from one place to another place. Berada di lingkungan baru, ketemu orang baru, ketemu keadaan baru. Jadi nggak sabar aja.. untuk punya pengalaman lain, khususnya sebelom memutuskan untuk nikah dan being settle. Dan apalagi perempuan, pertimbangannya lebih banyak lagi kalau mau hidup nomaden.

Percayalah, kemana besok akan membawa kita, disana-lah pembelajaran baru siap memberi pelajarannya. Banyakin sabar dan syukur. Karena itu adalah apa yang dapat membantu kita menerima dan menyayangi apa yang hidup beri untuk kita, entah yang kita sukai, atau yang semula kita tak sukai.



Ditulis di Kudus, 2018.
R.

26 March 2018

Kontemplasi


Aku itu orangnya perfeksionis. Setidaknya kepada diriku sendiri. Tapi di sisi lain, aku bukan orang yang suka menuntut. Setidaknya, aku paham apa tanggung jawabku, apa yang harus aku selesaikan, bagaimana aku menyelesaikannya, dan semampu mungkin, aku nggak akan merepotkan orang lain. Begitu prinsipku. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari setiap dinamika kehidupan kita. Orang yang kita temui, keadaan yang harus kita hadapi, permasalahan yang harus kita selesaikan, dan banyak hal lainnya yang telah mengantar kita ke suatu titik tertentu dan mengubah kita tanpa sadar. Mungkin itulah sebuah proses menentukan jati diri, membangun pribadi, dan membentuk mental.

Akhir-akhir ini, kesabaranku terasa sering diuji. Mungkin, Tuhan sedang ingin mengajarkanku untuk meninggikan level toleransiku. Jujur saja, aku bukannya orang yang tak toleransi, kadang aku hanya ingin dihargai. Kata orang, kalo kita ingin dihargai orang, maka kita harus menghargai orang lain juga. Namun kadang, rumus hidup nggak semudah itu buat dipraktekkan. Semisal kita sudah mati-matian belajar menghargai orang dengan cara setulus mungkin; tanpa embel-embel karena kita ingin dihargai juga. Pada akhirnya, orang itu juga sama aja perlakuannya ke kita. Okeh, jangan kecewa. Karena memang seharusnya kita nggak berharap kepada orang. Hahaha ikhlas itu emang sesusah itu loh!

Di detik, aku menulis post ini, aku memiliki kepercayaan kalau ngebiasain hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari kita itu sedikit banyak membantu kita membentuk mental dan pribadi kita masing-masing. Kadang, aku suka kesal sama orang yang menyepelekan hal-hal kecil seolah itu sesuatu “yang gapapa” untuk mereka lakuin gak cuman sekali dua kali, padahal kebiasaan-kebiasaan mereka itu bisa jadi ngerugiin orang lain tanpa mereka sadar. 

Semisal aku ambil contoh, di lingkungan sekolah bahkan sampe aku kerja sekarang ini, ada orang-orang yang memakai barang orang lain, paling simpel nih, aku ambil contoh, bolpen. Aku yakin, pasti ada individu-individu yang sengaja gak bawa bolpen karena punya mindset “ah nanti pasti ada kok si A/B/C yang bawa, aku pake aja punya mereka.” Nah, masih bagus kalau maksudnya pake itu pinjem, miris lagi kalau pake itu maksudnya ambil, apalagi yg gak pake izin, tiba-tiba sudah hilang aja. Itu sebenernya sepele bgt loh, kayak apasih bolpen aja. Ini aku belum bahas merknya, harganya, tempat belinya. Tapi pernah gak sih mereka mikir gitu, gimana kira-kira perasaannya si empunya bolpen? Sekali dua kali ilang aku yakin sih dia gak rasa apa-apa. Tapi coba kembaliin hal kyk gt ke diri kalian sendiri, bakal kesel nggak? Bakal ngerasa apa gitu gak? Itu sebenernya bentuk mentalitas seseorang loh.

Banyak sih ya. Contoh lagi, misal ada si A ya, yang menurut kalian, hidupnya berkecukupan banget. Terus karena ngerasa gitu, semisal kita lagi dalam hal apa lalu dia yang bayarin kita dulu, apakah dengan begitu kewajiban kita untuk bayar sendiri jadi hilang? Semua itu sepele sebenernya kan. Tinggal pinjam, tinggal balikin, tinggal bayar, tinggal minta, tapi buktinya juga masih banyak yang serta merta nggak bisa melakukannya. Coba kita belajar jadi pribadi yang saling menghargai. Saling mengerti apa tanggung jawab, kewajiban, atau haknya. Bukan berarti jadi orang yang individualis atau gak mau bantu dan masa bodoh. Emang ada saatnya kitu butuh bantuan, tapi bukan berarti meremehkan atau menggampangkan hak orang lain, kan? 

Mari belajar menjadi besar dimulai dari hal-hal kecil. Aku sih gak mau memaparkan mental dan pribadi apa yang tergambarkan dari contoh-contoh sangat kecil di atas takutnya ada yang tersinggung atau jadi judgmental, karena ku tahu semua punya alasannya sendiri-sendiri. Semoga, cuap-cuap ini bisa jadi sarana instropeksi diri. Bersyukurlah kita yang diberi orang tua yang mungkin kerap kali cerewet ke kita, mengajarkan dan mengingatkan ini itu berkali-kali ke kita. Aku yakin, semua itu adalah apa yang akan membentuk diri kita di saat dewasa, di saat kita bisa menentukan pilihan kita masing-masing.

Salam hangat,
R


15 January 2018

Welcome 2018!


Akhirnya punya keinginan buat menyapa blog ini (dan pembacanya- mungkin), di tahun 2018! Hahahaha! Percaya gak? Sekarang sudah bukan tahun 2017 lagi, melainkan sudah berubah ke tahun 2018! Setahun berlalu lagi begitu saja. Entah kenapa semakin tambah umur, waktu-waktu yang berlalu jadi semakin cepet aja heuheu. Apa kabarnya netizen semua? Things went well, weren't they?

Sebelumnya, aku ingin membuka cerita ini dengan salah satu ayat suci Al-Quran yang berbunyi..

"Katakanlah: ""Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui."" Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." - QS. 3:29

Entah kalian bener-bener percaya atau nggak dengan potongan ayat di atas, tapi aku sangat percaya dengan ayat di atas. Karena jujur aja, banyak penggalan cerita dalam hidup aku yang sudah membuktikan kebenaran firman Allah di atas. Bahkan, semakin tua aku ini, semakin jarang aku menyampaikan apa yang aku pengen sama Allah. Meski prinsip ini sangat berlawanan dengan ilmu yang aku dapat semasa aku duduk di bangku sekolah. Bukannya aku udah nggak meminta lagi sama Allah, tapi lebih banyak aku sampaikan isi hatiku, dengan benar-benar bicara lewat hati sama Allah.
Dan terbukti, udh banyak hal yang ga perlu aku meminta secara lisan, tapi Allah diam-diam kabulkan di waktu paling baik menurut-Nya. Terkadang cepat, terkadang lama, seringkali di saat-saat yang aku nggak bener-bener harapin, doaku terkabul. Jadi, kalimat klise ini, "semua akan indah pada waktunya", ternyata banyak benernya! Ajaib, udah gitu aja..

Selamat datang tahun yang baru! Semoga segala cita-cita, doa, resolusi, keinginan kita di tahun ini, Allah beri kelancaran dan kabulkan! Semangat selalu untuk kalian semua! I love you all!


Salam,
anak rantau yang kangen ibunya.
R.


1 November 2017

Oh, hello! I'm the past!


Everybody has a past. Either, it's a good past, bitter past, worse past, any forms of past. It's something that will always following us in our present or future. We can not run from it but we can choose what we are gonna do about it. I am a kind of person who think hard about my past, not about other subject or object who is correlated with my past, but about my self who was facing it. Yet, once, I made to leave it in a box inside my mind, I know, there will be a time, when, one of it may burst out and scatter again and again, cause of some things that I can not control. 

Dear future me,
I know you have a lot in mind about me, your past. But, please, don't stuck too long. You deserve a new day, a new chance, a new opportunity to fix me and be better. Don't be scare and feel guilty about me. 

You know, time has brought us to experience so many things and meet so many people along the way, sometimes they remain in our life, sometimes too, they get move on without us, and that is okay. I'd like to give credit to us, for being such a brave girl that we could be, for swallowing the ego and pride to just talk and be honest about the way we feel. Because I finally realize that being honest and letting out the feelings are much better than trapping them inside. I never regret any single moments, I never regret meeting every single person. 

I don't have any particular things that I want to say to you, dear future me. Because, I don't know, what might happen to you, even after one second I write this. But still I want to write it. In hope, that when you read it, you will be just fine and feel less missing. I write because I want you to let go, I write because I want you to know, I write because I feel miserable right now, and I want you to be free, from me.

1 October 2017

Oktober, 2017


Jam dinding telah menunjukkan hari sudah larut malam. Namun apa daya, fikiran ini masih belum ingin beristirahat tampaknya.

Sebuah fenomena penuh tanda tanya yang namanya naik turunnya emosi seorang wanita sesekali di setiap bulan, yang mungkin bisa disebut sebagai PMS. Sebuah momen dimana beraneka macam perasaan tetiba bersarang dan berkecamuk di dalam hati, membawa berbagai macam pertanyaan ini dan itu yang entah jawabannya bisa didapatkan di belahan bumi bagian mana...

"Gakboleh, sedih" aku sering bilang gitu sama diriku sendiri. Kapanpun ketika rasa sedih, gundah, kecewa, tiba-tiba datang menghampiri tanpa sebab yang pasti, apalagi solusinya, duh!

Pernah nggak sih, kalian merasa rendah diri, seperti "Apalah aku, yang cuman.." bla bla bla. Ketika mungkin kalian sedang menengok kehidupan seseorang, memang katanya, rumput tetangga itu selalu terlihat lebih hijau! Ngga baik kan ya? Itulah mengapa harus banyak-banyak mengingat Allah dan nikmat-nikmat Nya, sehingga kecukupan dan rasa syukur adalah yang selalu memenuhi hati. Percaya aja, Allah adalah yang Maha Mengetahui dan yang akan mengatur segala sesuatunya sesuai waktu  dan kadar yang paling tepat menurut Nya.

Oh iyaa! Alhamdulillah aku sudah wisuda lohh! Berasa jadi princess sehari, karena kapan lagi aku pake make up, pake kebaya, dikasih bunga dan macem-macem hadiah lainnya, kan jarang-jarang tuh yaa. Thanks a lot semuanya! :) It means a lot to me! Semoga bisa mengemban amanah ya, sebagai seseorang yang sudah memiliki gelar sarjana ini. Minta doanya supaya bisa nambah lagi gelarnya! :p Semoga bisa jadi insan yang bermanfaat untuk agama, bangsa, keluarga, dan lingkungan sekitar.. Aamiin Allahuma Aamiin.

R

31 August 2017

Agen Rahasia

2015-2016, yang 2014-2015 menyusul  ya 😀

Kemarin malam, aku buka instagram, beberapa saat sebelum tertidur. Hahaha, aku update sesuatu sih, terus dikomen sama temen-temenku yang sekarang lagi merantau di Jakarta. Kami dulu berada di kepengurusan yang sama selama dua tahun di bangku kuliah. Aku jarang bercerita tentang kegiatan yang satu ini, karena dulu pergerakan kita harus tersembunyi dan dibalik layar. Karena, sekarang kami sudah tidak bertugas, aku anggap aku bisa menceritakan tentang keluargaku yang satu ini ya 😆

Jadi, dulu semasa tahun kedua dan ketiga di kampus, aku merupakan bagian dari steering committee pengaderan di jurusan. Jumlah kami dulu berlima belas, dengan formasi yang diubah di tahun kedua ku berkegiatan disana. Hahaha, terlalu banyak kenangan dan kejadian mulai dari yang seneng-seneng, sedih-sedih, tegang, serius, santai, kocak, pahit, asem, manis, nano-nano dah yang sudah kita lalui.

Kaderisasi, itu adalah sesuatu yang "terlalu panas" buat dibahas saat itu. Jadi, dulu awal tahun kami bertugas, ITS lagi gencar-gencarnya melakukan patroli untuk menekan angka pengaderan yang dilakukan dalam jurusan. Mengingat, ada beberapa hal yang ga mengenakkan yang terjadi di dalam jurusan karena pengaderan. Dan sudah banyak orang tahu juga, pengaderan ITS itu agak strict karena kadang ngga mengenal waktu, sampai larut malam. Padahal, mahasiswa baru itu sedang di dalam masa transisi, mengenali lingkungan barunya, mengenali apa yang akan mereka hadapi di perkuliahan, dan menurut birokrasi, pengenalan dengan pengaderan yang sampai memakan banyak waktu, itu bukan yang seharusnya diterima oleh mereka. Jadi waktu itu, kayak ada "pakta" dimana elemen pengader harus tanda tangan diatas materai yang isinya adalah batesan pengaderan-pengaderan yang boleh dilakukan, contohnya adalah batasan waktu. Sudah lama nggak bahas ginian, udah lupa detail istilah-istilahnya, wkwk. Intinya, kalau kita nyemplung ke dunia "pengaderan", sama aja kita nyemplung ke zona perang dingin antara aktivis mahasiswa dengan birokrasinya. Namun, ini bukan rumus yang mutlak, karena beda pengurus birokrasi entah di tingkat institut, fakultas, ataupun jurusan tentu berbeda pula kebijakan-kebijakannya, dan penanganannya dalam menghadapi issue ini.

Dulu, hampir setiap hari dari pagi sampai malam (tengah malam, lebih tepatnya), aku habiskan waktuku di kampus, salah satunya untuk kegiatanku ini. Belum lagi, di tahun ketiga ku, aku aktif di himpunan dan kaderisasi, kadang sampai puyeng, dan ada ketimpangan, karena kadang aku lebih nyaman dengan teman-temanku di A daripada di B. Lebih suka mikirin tentang masalah A daripada masalah B. Nggak mesti sih, berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan keduanya.

Jadi seseorang yang pemikir, ternyata cukup cocok juga aku berkiprah di dunia ini. Kadang juga sebel sama mereka-mereka, apalagi kalo udah masuk tanggal-tanggal minggu akhir perkuliahan, udah mulai panik sama urusan akademis, padahal timeline pengaderan juga padat-padatnya dan penting-pentingnya adalah di bagian-bagian akhir juga. Emang, kadang kerasa sih, aku bukan termasuk SC yang berani buat speak up kayak para alpha male, tapi aku punya caraku sendiri. Aku lebih nyaman encourage adek-adekku secara ngobrol personal. Tukar pikiran dalam lingkup kecil, dan aku belajar banyak dari hal itu.

Teringat dalam suatu pembicaraan dengan senior mantan kahima ku, mas Taufan bilang, semoga apa yang kami kerjakan saat ini itu bisa menambah pahala dan timbangan amal kebaikan. Karena, kita nggak pernah tahu, bagian mana dari perkenalan kita dengan seseorang yang telah merubah seseorang itu. Entah, bagian sukses mana yang mereka akan capai di hari kedepan, bisa jadi, karena hal kecil yang sudah pernah kita bagi atau ajarkan ke mereka di saat perjumpaan itu. Mendidik, memang adalah sesuatu yang "ajaib".

Emang, sekarang, aku udah nggak sedeket itu sama adek-adek pendampinganku, mungkin aku emang kurang baik dalam bermanis-manis atau berbasa-basi, sama orang huhu. Tetapi, aku seneng lihat adek-adek sekarang sudah nyaman di bidangnya masing-masing. Ada yang jadi cakahima, wakahima, aktif di BEM, aktif di kegiatan ilmiah, bahkan masuk jadi tim PIMNAS dari jurusan, aktif jadi koor suporter, bisa menaikkan indeks prestasinya yang dulu sempat jatoh, jadi ketua UKM. Kalian hebat :) Maaf kalau aku masih banyak kurangnya dalam menyampaikan informasi-informasi.

Jadi kangen sama anak-anak SC yang gokil macem Saif dan Rio, huahaha. Maaf ya aku anaknya gak humoris sama sekali :)) Papi kirom, yang bijak, masih lancar juga komunikasi, wkwk biasanya sharing-sharing lamaran pekerjaan. Cornel, sang komtang-DPA. Mas Fajar, Kipli, yang own their own rules. Mas fuad yang paling diem diantara kami semua. Kangen sama azizah, bella, mbak dita (ibu kami semua), chelle, tias, mbak nana, dan KIKIK, yaampun temenku curhat dan pulang ke rumah kalo rapatnya kelewat malem. Dan yang lain belum disebutin. Terutama, buat adek-adek kyu semuanya yang sweetnya masyaAllah, ngasih kita kenang-kenangan di CD, kangen makan-makan bareng, baca doa mau rapat, kangen cerita pelatihan kita yang pertama wkwkwk. Well, too many memories, I guess.

Sukses buat semuanya! Semoga kita bisa segera ketemu lagi! Jangan lupa dateng wisudaku ya! 24 September 2017! Hahahah, wkwkwk!

R

29 August 2017

Sesuatu yang Berharga

Sesuatu yang berharga, belum tentu berani kita perjuangkan. Padahal kita tahu, padahal kita paham, padahal kita menyadarinya. Tapi, belum tentu kita berani. Dan keberanian itu memang perlu dilatih, sebagaimana melatih kesabaran. Sampai suatu saat kita tidak lagi perlu berpikir berulang kali u/ memperjuangan yang berharga, yang ada di depan mata kita. Bukankah sudah terlalu sering kita melewatkannya? Melewatkan yang baik-baik, hanya karena kita terlalu takut untuk mengambil konsekuensinya. Hanya karena kita terlalu banyak berhitung, lupa jika ada hal-hal yang lebih memerlukan iman dibanding yang lain.


- Kurniawan Gunadi