30 August 2015

Random thought...

foto lama, masa-masa hectic cari perkuliahan


Saya ingat, sewaktu SMA, saya pernah berbincang-bincang dengan salah satu teman saya di tempat kursus bahasa Inggris.  Dan beliau, adalah seorang bapak dari dua anak. Kami berbincang bincang soal kuliah dan pekerjaan. Waktu itu, beliau bertanya pada saya “Rizka, kelas berapa sekarang? Habis ini kuliah ya berarti kan setelah SMA. Cari kuliah yang prospeknya bagus dan cari kerjanya gampang aja”. Wah, sudah diultimatum gitu, mau tidak mau tertarik juga untuk mencari tau, kira-kira apa aja sih studi yang punya prospek bagus gitu.

Setelah itu, saya mencoba berkonsultasi dengan orang tua saya masalah jurusan untuk kuliah nanti. Maklum, saya waktu itu masih awal di SMA, belum punya pandangan pasti mengenai jurusan yang ingin saya ambil untuk kuliah nanti. Bahkan seiring berjalannya waktu, keinginan saya selalu berubah-ubah. Dari yang awalnya keinginan saya semasa kecil, jadi arsitek, desainer interior, pengarang buku, sampai jadi insinyur, dokter anak, dan sebagainya. Akhirnya setelah bertanya ke orangtua saya, saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan perkuliahan. 

Saya jadi ingat, waktu itu saya bertanya kepada ayah saya “Yah, jurusan apa sih yang prospektif, buat dapat kerja”. Beliau menjawab “Wah, sebenarnya kerja itu ada dimana mana, ketika kita memikirkan orang lain, disitu ada lapangan kerja. Saat ini pandangan orang ketika melihat kerjaan itu kebanyakan dari berapa besar gajinya, padahal, seharusnya kerja itu kan ibadah, rezeki itu yang nanti datang sendiri, berapa jumlahnya ya terserah Allah memberinya ke kita”. Setelah mendapat pesan tersebut, saya mulai berfikir. Dengan pandangan seperti ini, rasanya peluang kerja terbuka lebar di depan mata.
Ayah dan mama saya sering berbicara pada saya, kalau sebagai seorang perempuan, pekerjaan yang paling baik adalah menjadi tenaga pengajar, karena saya sekarang di teknik, mungkin maksudnya sebagai dosen. Kata ayah dan mama, pengajar adalah pekerjaan yang mulia, karena disanalah ilmu kita tidak akan pernah mati. Kita belajar dan selanjutnya dibagikan untuk orang lain. Selain itu, jam kerja dosen adalah teratur, sehingga tidak akan menanggalkan tugas saya sebagai seorang perempuan / ibu nantinya untuk mengurus rumah tangga dan anak.

Yah, tidak ada yang salah sih memikirkan prospek kerja sebuah jurusan, toh dari jalur jalur itulah nanti kita akan berkarya. Namun, saya ingat kata-kata sepupu saya beberapa waktu lalu, ia bertanya pada saya “Kamu kuliah mau menuntut Ilmu atau kerja kaa? Pada dasarnya, yang kita kejar sewaktu kuliah itu ya Ilmu, bukan prospek kerja”. Kata-kata ini benar sekali. Ilmu itulah yang memanusiakan manusia, yang bisa memicu terjadinya mobilisasi antar individu (vertical effect). Saat ini, mencari Ilmu lah yang paling penting. Dan yakinlah kalau rezeki akan datang dari Allah dari manapun bidang yang kita tekuni, asal kita terus berusaha dan berdoa pada-Nya.

Jujur, sampai akhirnya saya duduk di tahun ke-3 sebagai mahasiswa, saya tidak pernah memilih studi saya ini karena prospek kerja nya, yang terpenting bagi saya kemarin adalah memang ini yang terbaik untuk saya, dan disinilah saya harus menuntut ilmu. Sudah semester 5, makin banyak pikiran yang mulai membebani, mulai dari biaya pendidikan yang melambung, kerja praktek setahun lagi, bahkan untuk memilih mata kuliah pilihan, saya belum ada pandangan pasti, apalagi judul TA. rasanya kemampuan masih belum mumpuni. tapi disinilah yang namanya belajar, dengan merasa bodoh harusnya semakin giat belajar dan mencari tahu.. 

Allahuma yassir wala tu' assir. :)

No comments:

Post a Comment