Tuesday, 14 August 2012

Beneath the moonlight


"Bulan...apa iya, angin bisa nyampai'in pesan-pesanku ke dia?" tanyaku asal kepada bulan yang sedang tergantung indah di langit. Sudah berapa kali ya aku lontarkan pertanyaan itu ke Bulan? Tapi jawaban bulan selalu sama, sampai-sampai aku bosan.

Malam ini, seperti biasa- bulan menggantung indah di langit. Ya, aku sangat menyukai malam, karena saat malam, aku baru bisa melihat bulan. Bagiku, bulan sama seperti aku. Makanya, aku sangat suka sama bulan. Bulan itu- ringkih dan begitu membutuhkan orang lain. Tanpa orang lain, dia tidak akan bisa menampakkan keindahannya.

Malam ini, seperti biasa- aku hanya bisa bertanya asal ke bulan, tentangnya. Aku tatap bulan, lambat laun, bayangan bulan memudar, mengeluarkan asap putih.. Lalu, perlahan-lahan datang dan berkumpul kabut putih ke bagian tengah tempat awal si Bulan, namun kali ini bentuknya berubah... Perlahan... Kabut-kabut itu membentuk garis wajahnya... Tegas dan sangat tampan. Wajah yang selalu aku kagumi dari kejauhan. Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu datang, ya inilah bagian favoritku dari memandangi bulan. "Hehehehe sekarang bulannya kalah indah" gumamku.

Ya, malam ini seperti biasanya. Ya begini. Perlahan, kantuk mulai datang, memberatkan kepalaku. "Hoam..."  kataku sambil menutupkan tanganku ke mulut.
Hmm.. Kira-kira.. Dia sudah mendapat pesanku dari angin belum ya? Ah, mungkin kalau besok aku bertemu dia, aku harus tanyakan padanya. Ya.. kalau aku berani sih. Perlahan, garis-garis wajahnya memudar, bergabung dengan kabut putih, lalu mulai tampak.. Hamparan rumput hijau segar.. London... Eiffel..
Share:

0 komentar:

Post a Comment