13 August 2012

Fana



Orang bilang, kalau aku menutup kedua mataku, lalu menghirup udara segar, membiarkan mereka masuk menyapa paru-paruku- beban hidupku akan sedikit menghilang? Dari kata-kata itu, bolehkan kalau aku bilang mereka itu pembohong? Sudah berapa kali aku melakukan hal itu hari ini. Namun semua beban hidup masih banyak menggantung dalam kamus hidupku. Memberatkan setiap langkahku, memperbanyak peluh-peluh keringat diatas dahiku, menghalangi angin-angin yang hendak menerpa halus rambutku.. 

Sampai detik ini, aku masih tidak bisa mengerti, bagaimana mereka bisa menyimpulkan hal-hal seperti itu. Benar-benar tidak bisa masuk di akal.

Setelah beberapa saat aku mengistirahatkan tulang-tulangku, aku memutuskan menghenyakkan langkah, melanjutkan perjalananku menempuh kehidupanku yang sebentar lagi akan berkurang satu hari. "Haaah..." ucapku malas sembari menggerak-gerakkan pergelangan kaki dan tanganku perlahan.

Tak terasa, perjalananku sudah tinggal setengah jauhnya. Semangatku menambah, tak sabar rasanya aku ingin sampai di tempat tujuan. Bau-bau yang selalu datang dalam dunia imajinasiku terasa semakin kuat menggetarkan semua saraf-saraf motorikku, membuat mereka mengirimkan gelombang-gelombang energi ke setiap anggota gerak dalam tubuhku. Mungkin, kalau dibuat grafik, kini pergerakanku sedang mengalami percepatan.

Aku masih tidak tau, sebenarnya bau apakah itu yang selalu aku tunggu-tunggu? Rasa penasaranku lah yang membuatku ingin terus berjalan, dan mencari tahu bau apa itu. Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan Oksigen yang telah Ia berikan padaku secara cuma-cuma. Makanya aku akan terus berjalan sampai aku tau. Kini, jaraknya sudah tidak jauh lagi. Hmmm, rasa lelahku akan segera terbayar.

"Braak... Auwwwwwww."
Badanku terhuyung. Hamparan aspal kusapa dengan ramahnya. Kini ku terduduk diatas mereka. Tak sadar selama ini aku berjalan dengan jutan mili darah segar yang mengucur. Astaga. "Apa yang harus kulakukan?" batinku. Perjalananku kurang setengah lagi. Pikiranku semakin kacau. Aku baru ingat, alas kakiku sudah tertinggal jauh dibelakang. Rasanya seperti sedang duduk diatas genangan air. Aku tatap jalanan didepanku, bayangan kotak bersinar-sinar jauh didepan sana. Pandanganku semakin buram. Berjuta-juta kata bagaimana mengitari kepalaku, menggema-gema, memukul-mukul setiap sudut tengkorakku. Haruskah aku berhenti? 

No comments:

Post a Comment