23.2.23

Ad Astra Per Aspera

Semasa kecil, aku tumbuh di suatu lingkungan yang penuh dengan pola pikir kalau yang terbaik itu harus selalu jadi nomer 1, tercepat, terpintar, tercantik, terbaik, dan ya itu semua terukur dari hasil akhirnya aja. tapi bersyukur, seiring beranjak dewasa, hidup mengajarkan banyak hal, salah satunya tentang kegagalan. dari situ, belajar mengambil hikmah, kalau berhasil atau gagal ga serta merta hanya diukur dari hasil akhirnya aja, tapi juga tentang bagaimana memaknai prosesnya, perjuangannya, dan segala jatuh bangun yang berada diantaranya.

Waktu itu sempat lagi berfikir di siang-siang bolong, mengingat-ingat tentang "how did I get here?" diantara kekhawatiranku akan "being late" dalam perjalanan hidupku ini, aku tersadar, emang ada kuasa yang lebih besar yang Maha Mengatur akan semuanya, yang terkadang membuat kita harus berputar-putar dulu, alih-alih langsung sampai di suatu tujuan. yang mungkin aja, sebenernya, kita bisa banget loh sampai sana, tapi kalau waktunya belum ya belum, ya gak bisa, ya belum saatnya.

Kadang-kadang hal-hal kayak gini emang cuman bisa diketawain dan dijadikan pelajaran aja. Karena, rasanya kalau cuma disesalin, aku hanya akan jadi orang yang kurang bersyukur. dan diatas segalanya, semua itu sudah aku laluin dengan aku perjuangkan dengan daya upayaku sendiri, namun ya itulah poinnya, semua usaha akan sia-sia jika belum atas izin-Nya.

Kadang takut banget kemakan pikiran sendiri atas penilaian orang-orang, yang mungkin sebenernya nggak ada juga sih ya yang mikirin wkwkwk emang suka geer dan overthinking aja kayaknya. Aku ingin menikmati prosesku, mensyukuri apa yang memang harus menjadi bagian dari perjalananku, nggak ada yang benar-benar tau apa yang aku lewati, gimana aku berjuang, jadi aku pengen bilang terima kasih kepada diriku sendiri. 

terima kasih sudah bertahan.

terima kasih sudah berjuang.

terima kasih sudah percaya dan tidak berputus asa.

always remember, don't take things for granted.

No comments:

Post a Comment