31 January 2014

Kapan bisa berpikir lebih mahasiswa-is?

img source: google.com

Judul di atas dipersembahkan buat diri saya sendiri. Kapan bisa berpikir lebih mahasiswa-is?
Baru saja melanglang buana di beberapa blog, yang penulisnya adalah seorang mahasiswa. Cuman ada dua hal yang sering saya lakukan ketika membaca tulisan-tulisan mereka, 1. berdecak kagum 2. manggut-manggut. Intinya, tulisan mereka terlalu luar biasa, banyak benernya, dan yang paling penting mahasiswa banget. 

Tapi, sebelumnya, saya mau jelasin dulu, gimana sih definisi tulisan yang mahasiswa banget buat saya?
Yang pertama, menurut saya, mereka yang sudah mahasiswa-is sudah mampu mengangkat sebuah topik yang cangkupannya Nasional, disini mereka nggak mengangkat sesuatu yang individual. Mereka membahas permasalahan dalam cangkup negara. Entah dunia ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dll. Mereka mampu menyajikan data-data ataupun informasi yang berkaitan, yang bisa bikin pembaca, "Oh ternyata ada yang kayak gitu ya." Setelahnya, mereka mulai angkat bicara, mereka sampaikan argumen-argumen mereka, poin-poin dari tulisan mereka, gimana tanggepan mereka, gimana kritik mereka, dan gimana solusi dari mereka. Mostly, semua yang mereka sampaikan, itu dalem, maksudnya, "Wow." tapi endingnya mereka juga tetep bisa kasih suatu saran, solusi, atau ide penyelesaian yang konstruktif. 

Buat saya, ya harusnya gini ini, 'mahasiswa-is' Ngga cuman komentarin, nyerca, dan hal-hal sejenisnya terhadap sebuah permasalahan. Tapi juga harus bisa menyarankan solusi yang solutif. Apalagi, umur-umurnya mahasiswa ini kan, usia-usia muda yang 'they said' lagi berada dalam zona kreatif seorang manusia. Zona dimana kita suka menghayalkan hal-hal ekstrim, bahkan harusnya ini juga sebuah zona ketika kita bisa membuat nyata hal-hal ekstrim itu. Kok bisa? Ya, mahasiswa (apalagi yang sampe kuliah S2, S3) itu kan jenjang tertinggi dari sebuah pendidikan. Mulai PG, TK, SD, SMP, SMA, dan akhirnya kuliah. Kan sayang banget gitu harusnya, kalo sejauh itu kita bersekolah, ujung-ujungnya cuman orientasi uang? Dan ilmunya dibiarin menguap. Tapi, yah.. gabisa munafik sih. Tanpa uang, somehow, kita jadi kurang punya taring

Kenapa  perlu berpikir mahasiswa-is?

Firstly, karena emang status kita adalah seorang mahasiswa, jadi udah harfiahnya kita kudu berpikiran yang lebih mahasiswa-is. Kita calon pondasi-pondasi penegak bangsa kita selanjutnya, 20 atau 30 tahun lagi. Masa depan bangsa turun ke tangan kita. Kalo, pola pikir kita masih cuman, "besok ada peer ga ya".. kan juga gimana gitu kan..

Pingin, pingin banget bisa kayak mereka-mereka yang sudah kasih kontribusi nyata buat bumi pertiwi ini, dalam cakupan mereka sebagai mahasiswa. Okelah, 'tapi kan saya masih mahasiswa tahun I. Jadi, gapapalah, masih kayak gini..' Sering-sering banget saya mengagung-agungkan mereka, terinspirasi, namun pada akhirnya saya hanya  melakukan pembelaan diri seperti itu.

Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah kata bijak, seperti ini (dengan sedikit perubahan)

Seandainya, bila kata 'tapi' itu tidak ada
Bayangkan, ketika kata 'tapi' itu tidak ada dalam kamus kehidupan kita. Ketika kita melakukan kesalahan, kita tidak bisa mengelak, dengan kata 'tapi...tadi..' dan membuat beribu alasan, atau justru, mengambing hitamkan orang lain. 

Be someone a little braver.. 

Mulailah dengan, ketika kamu melakukan sebuah kesalahan, jangan katakan 'tapi..' dari kata itulah, dirimu memulai memaafkan dirimu dari kesalahan-kesalahan nya, dan akhirnya mengulangnya lagi di hari kedepan. Katakan, 'iya saya salah karena...saya..' 

Akui kekuranganmu. 
Supaya itu bisa menambahmu dengan hal yang lebih baik kedepannya


Memang saya punya kekurangan, saya kurang berani mengungkapkan pendapat secara langsung. Saya masih belajar, saya juga nggak tahu berapa lama waktu yang diperlukan sampai saya bisa menjadi seperti mereka yang sudah berkontribusi secara nyata. Melalui tulisan-tulisan ini dululah saya akan belajar untuk menjadi mahasiswa yang mahasiswa-is. 

Mengutip kata-kata yang diucapkan oleh salah satu pembicara, yang notabene dari kalangan dosen di universitas saya, dalam sebuah acara pembukaan welpar jurnalistik universitas saya beberapa bulan yang lalu.

"Ketika kamu belum berani berbicara. Tulislah saja apa itu yang ingin kamu katakan"

Sedikit namun begitu memotivasi. Saya sangat setuju dengan beliau. Setidaknya, kata-kata beliau mampu membangkitkan semangat orang-orang yang kurang berani berbicara seperti saya ini. Kontribusi bukan hanya tentang turun ke jalan, berorasi. Dengan hanya kita ingin tahu, disitulah kita sudah berkontribusi. Buat saya, words have power. Apalagi real action. Apapun medianya, berorasi, menulis, menyumbang, kampanye, dan sebagainya. Semoga, saya bisa lebih mahasiwa-is kedepannya.

Jadi ?
Akankah kita menjadi pemuda sebagai potensi negara ?
Atau pemuda sebagai sumber permasalahan sebuah negara ?
Kita sendiri yang tentukan.
Semoga kita bisa menjadi insan yang berguna.

No comments:

Post a Comment