26 July 2014

The Air of Freedom


Menurutku, menulis itu adalah udara bebas. Sebuah sarana mengekspresikan apa yang ada di diri kita. cerita masa lalu, angan-angan, isi hati, pengalaman, pemikiran, pendapat, hal yang menyenangkan, hal menyedihkan, apapun, apapun, kamu bisa menulisnya. 

Mengapa aku mengatakan begitu? Bagaimana dengan apabila kita menulis dengan kata-kata buruk, atau yang bisa menyakitkan orang lain, ato mungkin melanggar peraturan? Kembali lagi, itu sih terserah kepada si penulis kan. Kalo memang dia ingin menulis sesuatu yang blak-blak an, no sensor, dengan kata-kata kasar, ya nanti sang penulis lah yang akan menanggung akibat dari pilihannya itu kan.

Apapun yang hendak kita tulis, itu adalah kebebasan kita. Kita sebagai penulis. Dan menurutku itulah keasyikan dari menulis, you don't need anyone's approval, you just write what you want to write, you just write what you want to relieve, you just write what your heart's says. :)

Literally, ada satu hal lagi yang gak bisa dipisahkan dari menulis, ini juga merupakan salah satu kegiatan favoritku. Tahu kan apa? Yep, benar sekali- membaca. Secara nggak sadar, sehari-hari aku tidak pernah terlepas dari kegiatan ini. Dan aku yakin, kalian yang kehidupannya sudah berada di garis kelayakan, pasti juga mengalami hal yang sama denganku. Setiap hari, kalian pasti akan membaca sesuatu, misalnya, ketika kalian membuka akun sosial kalian, banyak hal yang sudah kita baca, mungkin ungkapan hati akun yang kita ikuti, mungkin fakta-fakta, mungkin update'an berita, ya kan? :) Akupun sama.

Sama seperti menulis, membaca juga merupakan sebuah udara kebebasan. Sebagai pembaca, kita bisa bebas memilih apa yang ingin kita baca. Kita males baca ini, sukanya baca topik yang itu. Kita gak suka tulisannya orang A, tapi ngefans berat sama tulisannya orang B. Kita nggak bisa baca tulisan yang pake bahasa ini, kita bisanya bahasa itu. As a reader, you hold your own choice for what you want to read. :)

Kadang sebagai pelajar, kita terlalu muluk berbicara tentang kebebasan. Kita mudah benci dengan peraturan lembaga tempat kita menempa ilmu, yang terlalu mengekang, terlalu memberatkan, terlalu akademis, terlalu padat jadwal, dan lain-lain. Akupun tidak menyalahkan pandangan itu, karena stigmaku pada sistem pendidikan yang sekarang pun juga tak jauh dari itu.

Tetapi, kapan hari, aku membuka sebuah link, yang berisi tentang lukisan yang diinterpretasikan oleh seorang pengamat lukisan. Akupun cukup takjub ketika membacanya. Mungkin, kalau misal aku melihat gambar-gambar itu tanpa adanya tulisan-tulisan tersebut, aku sangat yakin, pemikiranku tidak akan sampai kesitu. 
Dari gambar itu, timbul pertanyaan dari dalam diri.

Pendidikan. Harusnya mampu mencerdaskan peserta didiknya, memberi ladang kebebasan untuk mengekspresikan pemikiran, menguji kompetensi. Mampu berdiri diatas kakinya sendiri, sebagai individu, mengapa? Karena kita sudah berpendidikan, beredukasi.

Tetapi bagaimana fakta yang ada sekarang?

Konon, siswa ataupun mahasiswa sekarang, khususnya Indonesia, bukannya menjadi sosok yang independen, justru malah dicemari menjadi generasi yang suka mencontek, suka plagiat, suka bolos, suka membelot, bangga menjadi pelanggar, dan lain-lain. Menurutku, pendidikan kini- justru menjadi subjek yang membodohi objeknya. Sistem pendidikan kini lah yang mendorong objeknya menjadi memiliki mental-mental seperti itu. Karena, sistem yang ada sekarang, menanamkan, nilai lebih penting daripada pemahaman. Kejujuran tidak dihargai. Yang memiliki nilai, tanpa memedulikan bagaimana cara mendapatkannya, yang akan menang, daripada mereka yang memahami. Sungguh sangat disayangkan.

Apa sih yang aku ingin bilang disini?

Hmm lebih tepatnya, aku sekarang sedang mengajak kita semua, untuk bertanya, terlebih kedalam diri kita masing-masing. Harusnya pendidikan adalah yang membuat orang mampu berdiri diatas kakinya sendiri, lalu bebas, ingin melangkahkannya kemana. Bukan malah menjadi penekan kebebasan seseorang. Membatasi ruang fikir kita hanya pada sebatas ukuran nilai dan kertas-kertas ujian, tugas, laporan nilai, peraturan. Dan berujung, kita melakukan itu semua, karena keterpaksaan. Bukan kebutuhan.

Masih terpatri dibenakku ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tua, bapak, dan ibu guruku kala itu sering mengingatkan kami bahwa sebagai siswa, tugas utama kami adalah belajar. Dan kegiatan belajar ku dulu hanya dapat dipenuhi dengan kegiatan membaca ataupun menulis, karena Teknologi belum secanggih sekarang. Tapi, justru di waktu dulu lah aku menemukan nikmat menjadi pelajar. Ketika rasa ingin tahu, mencambuk sebagai rangsangan ingin menjadi seseorang yang rajin dan pandai. Aku belajar karena aku merasa butuh, aku ingin bisa membaca lebih, dan aku juga ingin menulis banyak hal darinya. Seperti itu.

Aku rasa, budaya itulah, yang kini sudah runtuh. Kita menyepelekan membaca dan menulis, kita sering melakukannya tanpa menghayati sisi utamanya. Aku punya contoh nyata, yang sering aku sebagai individu alamin,

"Kamu ga nyatet?"
"Enggak udah aku foto kok."
"Yaudah aku nanti nyalin ya."

"Kamu ga ndengerin?"
"Nggak, nanti aku baca di rumah aja"

Dan akhirnya jam pembelajaran pun menjadi tidak efektif. Dan yang ada, justru hanyalah rasa malas yang kian menumpuk.

Sekarang aku baru sadar, ketika aku merasa kebebasanku banyak terenggut dari pendidikan yang aku jalani, mungkin aku sendiri yang perlu melakukan instropeksi, karena sepertinya akulah yang sudah melalaikan beberapa hal.

Tenyata, selama ini aku sedang lupa, kalau aku sudah diberi kebebasan. 
Ya, kebebasan untuk membaca dan menulis.

Hal dasar selamanya akan selalu dipakai, berhubungan, dan seterusnya berguna. Sama seperti, penambahan, pengurangan, pembagian, perkalian dalam Matematika yang seterusnya akan terpakai ketika kita belajar Matematika. Sama seperti, a i u e o ba bi bu be bo dalam Bahasa Indonesia, yang seterusnya akan terpakai ketika kini pun kita berbicara ataupun membaca. Membaca dan menulis adalah hal dasar yang seterusnya harus kita pakai, kita hubungkan, dan kita gunakan dalam belajar, menempuh pendidikan, ataupun hidup kita seterusnya. Karena, hidup adalah sebuah pembelajaran, karena hidup adalah sebuah cerita yang kita tulis, lalu kita baca esoknya, supaya kita belajar menjadi lebih baik, terus dan terus seperti itu. Dari menulis, kita membagi 1001 hidup, dan dari membaca kita menghidupi 1001 kehidupan. Sungguh, hal yang sangat kaya, bukan?

Jadi, kalo kamu juga pernah lupa, semoga ini  mampu mengingatkanmu. :)

P.S: i found a very good article just couple weeks after i wrote this post. You must also read it peers. click here! :)

No comments:

Post a Comment