4 June 2015

Rahasia di Benua Hitam.


"Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan," mungkin quotes diatas adalah yang paling tepat menggambarkan keadaan dua hari kemarin. Setelah beberapa saat dilanda kebingungan akan ikut pelatihan dr BEMF  atau nggak dan akhirnya saya memutuskan iya. Mencari ilmu memang bukan perkara mudah, apalagi kalau dibandingkan dengan rasa malas. Tapi bener-bener gak menyesal udah ikut, justru sangat bersyukur bisa ikut dan dapet materi dan juga mendapat ilmu dari pemateri-pemateri yang cukup bisa menginspirasi *hiks keren banget :P

Selama dua hari mendapat 6 materi tentang Orginizing Management. Diawali  dengan pemaparan analisa tema OMT tahun ini yaitu "Tongkat Estafet kita, masih berwarna Hitam". Dimana, sebagai fungsionaris kita diharapkan mampu menjadi staff yang solid, responsive, and collaboration. Di analogikan seperti jika kita mengikuti lomba lari estafet, dalam melakukan perlombaan tersebut kita harus solid yaitu memiliki tujuan yang sama untuk mencapai garis finish, kemudian agar itu bisa tercapai kita perlu menjadi pelaku yang responsif, ketika ada teman yang memberi estafet tersebut kita harus responsif dan sigap dalam menerimanya, kolaborasi dalam melakukan pertandingan sampai akhirnya kita mencapai garis finish dan mendapat apresiasi dari penonton (jika menang). Ibaratnya, tongkat estafet tersebut adalah BEMF, pelari adalah fungsionaris, garis finish adalah akhir kepengurusan, dan apresiasi penonton adalah apresiasi KM FTSP :)

Materi pertama adalah Etika Diskusi Ilmiah, yang disampaikan oleh mbak Linda, Kahima HIMASTHAPATI '13/'14. disitu saya mendapat banyak ilmu bagaimana seharusnya ketika kita menjadi peserta dalam suatu diskusi. Banyak permasalahan yang sudah membudaya dalam diskusi yang sering kita ikuti, forwar misalnya. Biasanya terdapat ketimpangan antara peserta forwar dari angkatan atas yang cenderung mendominasi daripada angkatan bawah yang biasanya cenderung pasif. Seharusnya kondisi tersebut tidak boleh terjadi karena dalam sebuah diskusi, setiap peserta seharusnya memiliki kedudukan sama (kecuali bila sudah diatur dalam peraturan sebelumnya seperti; peserta aktif, pasif, atau undangan). Di materi ini saya juga mendapat ilmu mengenai sikap ilmiah pada peserta diskusi yang meliputi;
  • objective -> melihat dari sudut pandang lain (banyak aspek)
  • skeptic -> sikapnya ga enak, cenderung meragukan, dan sering menanyakan fakta
  • curiosity -> suka bertanya pada saat forum / suka mencari tahu
  • analytic -> menganalisa dulu permasalahan -> diolah data yang ada -> solutif
Ga hanya itu aja, saya juga mendapat ilmu mengenai jenis-jenis diskusi ilmiah, peran diskusi ilmiah, dan interupsi peserta. Hal yang saya rasa perlu digaris bawahi pada materi ini adalah, dalam berdiskusi harusnya kita memiliki etika mulai dari hal kecil (misal: menyebut nama dan nrp) sampai kompleks (misal: bagaimana kita menunjukkan sikap ilmiah kita dalam menyampaikan pendapat). Harusnya dalam berdiskusi kita harus berdasar ilmu pengetahuan sehingga posisi kita adalah sama "masih belajar" dan kita dapat menjadi peserta yang terbuka dan menghargai pendapat orang lain, sehingga tujuan diadakannya diskusi itu dapat tercapai. :)

Meteri kedua adalah Hakikat Organisasi yang disampaikan oleh mas Suto Guswanda Ketua BEM FTK '14/'15 kabinet Constraction. Organisasi sendiri pada hakikatnya memiliki 3 unsur penting yaitu: organisasi itu sendiri, tujuannya, dan terakhir adalah budaya.

Ketika organisasi itu ada maka perlu ada juga tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu sendiri adalah bekal besar untuk menjabarkan apakah visinya, misinya, nilainya, pernyataan destinasi, dan bagaimana strateginya untuk mencapai itu semua. Ga hanya organisasi, kita sebagai individu harusnya memiliki poin-poin tersebut dalam hidup kita. Supaya kita memiliki arahan yang jelas dalam menjalani hidup kita di dunia ini. ;)

Budaya Organisasi. Menurut saya, budaya adalah sesuatu yang penting, karena budaya adalah sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang, yang mengakibatkan terbentuknya pola perilaku kita dan penerus kita, dan akhirnya menimbulkan stigma dari orang lain terhadap diri kita, bisa dibilang itu adalah hal kompleks.
Karena budaya adalah definisi lain dari bagaimana kita (identitas), peningkatan komitmen, dan pemerkuat standar perilaku.

Dalam berjalannya suatu organisasi.. konon katanya ada sebuah dilema organisasi yang melegenda.

KEKELUARGAAN vs PROFESIONALITAS?

Siang itu, mas Suto melempar pilihan kepada kita, mana yang lebih kita pilih seandainya kita menjadi pemimpin organisasi nantinya. Mana yang lebih diutamakan? Kekeluargaan kah? Profesionalitas kah? :) 

Dari 6 peserta yang menjawab. 5 memilih profesionalitas dalam kekeluargaan, dan hanya satu yang memilih sebaliknya. Nggak ada yang salah dari jawaban tersebut, karena kembali lagi, semua adalah masalah persepsi. Sebenarnya mudah, mungkin kalau organisasi kita adalah organisasi non-profit maka kekeluargaan>profesionalitas. Dan bila organisasi profit maka profesionalitas>kekeluargaan.

Materi selanjutnya adalah Departemenalisasi dan Organisasi yang disampaikan oleh Mas Febri, Kahima HMS '14/'15. Ilmu yang menurut saya cukup penting dalam pembentukan tim dalam organisasi. Bagaimana menentukan jumlah departemen yang harusnya dibentuk, bagaimana memilih staff yang baik, bagaimana komposisi dalam sebuah tim seharusnya.

Dalam sebuah tim harusnya terdapat komposisi yang pas antara karakter, ice breaker (pemecah kejenuhan, yang suka bercanda-canda kalo lagi buntu-buntu gt), pemikir, dan pekerja. Cukup menarik, karena ketika saya sedang berada dalam sebuah tim, saya sering menganalisa teman-teman saya ini memiliki karakter yang mana heehhe, dan kalau saya sendiri, 100% adalah tipe pemikir wakakakaka.

Ketika kita memiliki staff, harusnya ada sebuah proses pra -> input -> pasca yang berkelanjutan sehingga kualitas dan kinerja staff yang kita memiliki tidak menurun, hanya stuck, seharusnya mengalami peningkatan! poin penting bgt lah ini pokoknya. Yang terakhir adalah mengenai gaya kerja. Pada umumnya, ada 5 tipe gaya kerja, tapi yang perlu diingat adalah Gaya kerja bukanlah suatu sifat/kebipribadian, bukan juga kebiasaan, dan juga bukan tingkah laku. Tapi gaya kerja adalah kumpulan tingkah laku yang berpola, jadi menurut pengalaman saya pribadi, gaya kerja seseorang bisa berubah seiring keadaan timnya. Contoh sederhana:
kalau tim saya anaknya rajin-rajin semua, saya bisa berubah jadi pemalas.
kalau tim saya anaknya males-males semua, saya bisa berubah jadi yang paling rajin. :P

Materi ini diakhiri dengan sebuah quotes yang disampaikan oleh mas Febri, "Kepercayaan adalah bukti terbaik dari Cinta," itulah kenapa percaya satu sama lain dalam sebuah tim adalah salah satu hal yang fundamental.

Dan yaakk, akhirnya materi terakhir pada hari pertama yaitu Pengukuran Kerja Organisasi yang disampaikan oleh mbak Fatim dari BMSA. Materi yang agak berat karena mengandung teori-teori yang.. hahaha kalo kata mbak Fatim sih, "saya belajar ini baru kulitnya aja butuh 6 SKS dek."

Jadi, PKO ini sendiri bertujuan untuk:
- memperoleh informasi dan menganalisa
- mengetahui faktor internal dan eskternal yang dapat mempengaruhi
- membuat pengembangan

Diawali dengan pemaparan analisa SWOT yang sudah cukup tersohor itu.. haha. kemudian Teknik Pengumpulan Data yang diantaranya: kuisioner, tes, wawancara, dokumen, dan observasi. Kemudian ada teknik analisa eksternal (pestel dan portel) dan internal (Mc. Kinsey S. Framework). Setelah analisa sudah dilakukan, langkah selanjutnya adalah membuat pembobotan nilai dan perencanaan strategi untuk pengembangan organisasi kedepannya. ;)

Materi kelima yaitu  Organizing Development yang disampaikan oleh mas Fahrir Kadep. Dagri BEM FTSP '12/'13. Organizing Development ini dilakukan berupa analisa kondisi organisasi, yang menurut saya agak mirip dengan materi sebelumnya. Tujuannya adalah supaya fungsionaris dapat mengetahui dan menganalisa kondisi riil pada organisasinya kemudian mampu mengkaji faktor-faktor internal dan eksternal nya.

Organizing development ini merupakan suatu pola yang dimulai dari Perumusan masalah -> Analisa Data -> Analisa Kondisi Organisasi -> Pengembangan alternatif/strategis -> Evaluasi strategis -> Penetapan Strategis.

Data yang dapat digunakan untuk menganalisa misalnya dengan diadakannya Key Performance Indicator (KPI) sehingga data nyata yang dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan yang ada pada organisasi tersebut. Ada kata-kata yang cukup menarik yang diucapkan mas Fahrir siang itu, "Kenapa mahasiswa selalu kalah dengan birokrasi? contoh simpel, masalah pengkaderan misalnya? Karena, mahasiswa sering lupa kalau senjatanya adalah DATA." 

Langsung detik itu aku mikir, "Iya ya". Birokrasi selalu main dengan data, dengan hal-hal dan bukti konkrit. Sedangkan mahasiswa? seringkali hanya mengedepankan.. kemampuan diplomatisnya tanpa membawa data :P


Penyampaian materi OMT akhirnya sampai di penghujungnya. Materi Good Leader ; Leaders Talk yang disampaikan oleh mas Mukhlis Ndoyo, Presiden BEM ITS '13/'14. Diawali dengan perkenalan diri, mas Mukhlis menyampaikan materi dengan diawali menceritakan betapa pentingnya membaca dan menulis, membaca dan menulis dapat membawa kita menjadi orang besar. Ga hanya itu, mas Mukhlis juga menyampaikan sejarah singkat tentang ITS, yang paling saya ingat, mas Mukhlis bilang, kita harus bangga jadi bagian dari ITS karena ITS adalah bukti kalau bangsa kita bisa besar karena usaha orang pribumi bukan turunan bangsa lain.

Kemudian mas Mukhlis juga menyampaikan alasan mengapa harus menjadi pemimpin? Dengan jadi pemimpin ada sesuatu yang dapat kita beri. Dengan memimpin kita dapat.. Menentukan acuan, memuat ideologi pemimpin, dan MEMBERI KONTRIBUSI YANG BESAR.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengorbankan masa mudanya demi umat, mau belajar kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa pun, membuat skala prioritas, dekat dengan cacian jauh dari pujian (berlaku sebaliknya), hobi membaca, menulis, dan berdiskusi, tidak melupakan kewajiban utama untuk kuliah, dan juga terus berusaha untuk mendekat dengan Tuhan.

Pemimpin adalah
.... mereka yang selesai dengan urusannya sendiri
.... menutup pintu organisasi mu paling malam dan membukanya paling pagi
.... mendengar apa yang orang tua perintahkan walaupun itu bertentangan dengan egomu.

"Kalau kau ingin jadi pemimpin,
menulislah seperti wartawan, dan berbicaralah layaknya orator"


Akhirnya sesi penyampaian materi pada OMT hari itu selesai. Acara hari itu dilanjutkan dengan kegiatan sharing dengan kabinet-kabinet BEM FTSP sebelumnya diselangi makan martabak dan pohong huehehee. Sebenernya agak pundung waktu sesi ini, jadi ceritanya, kita kan duduk melingkar nah kan ada pohong sama ada martabak yah. Nah saya duduk di sisi kiri dan martabaknya itu diputer dari sisi kanan, nah kan ternyata waktu udah sekali muter, martabaknya MASIH ADA SAUDARA-SAUDARA, terus kan diputer lagi, tapi lewat sisi kanan dulu yang notabene banyak cowo-cowonya, ahahahaha terus pas martabaknya mau lewat, Odi sama Adnan itu senyum licik gitu ke sisi kiri bwakaka soalnya martabaknya udah bakal abis... dan emang abis sebelum saya dapet dua martabak. yasudahlahya.. :p abis sharing-sharing itu, kita makan tumpeng dan penampilan penugasan forkom hehehee. seneng banget diangetin sama api unggun gitu.. makan nasi tumpeng, minum es jelly, makan mie pedes yang pedesnya naudzubillah.. nyanyi-nyanyi bareng.. yang paling seneng sih.. meskipun saya satu-satunya yang dari Kominfo (Ella cuman dateng di hari kedua dan di 2 materi itu aja), untung saya ga kesepian jadi ga sedih gituloh maksudnya.. heehee.

Udah sih, satu paragraf diatas pemanis doang ehehe, pokoknya OMT kemarin cukup membangunkan banyak DNA-DNA yang tertidur sebelumnya untuk ingin belajar lebih dalam banyak hal, ada perbaikan yang ingin bisa dilakukan, tapi masih belum yakin ingin membantu untuk membenahi yang mana dulu. Semakin banyak belajar dan ketemu dengan orang-orang yang "lebih". Saya makin ngerasa........ banyak belum tahunya.


No comments:

Post a Comment