Sunday, 12 June 2016

Pentingnya parenting.

 

"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya"
Pernah dengar peribahasa di atas? Mungkin sebuah stigma yang sangat akrab di kalangan masyarakat Indonesia dan menurut saya kadang peribahasa tersebut justru menjadi sebuah labeling, semisal ketika ada sebuah anak melakukan tindakan A yang kebetulan orang tua si A pernah melakukan hal yang serupa, maka tak jarang masyarakat di sekitarnya akan mengeluarkan komentar sejenis peribahasa di atas. Padahal bisa jadi, tindakan kebetulan tersebut hanya satu dibanding seratus yang sama yang pernah dilakukan oleh si A dan orang tua si A.Memperbesar cakupan di poin pertama, ada lagi yang disebut dengan stereotype, atau dalam bahasa indonesia disebut stereotipe, merupakan sebuah bentuk penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Jadi, kalau pada kasus pertama, tingkah laku seseorang itu dianggap tidak jauh dari tindak laku orang tuanya, di yang kedua, masyarakat memberikan persepsi bahwa tindak laku seseorang itu tidak jauh dari perilaku orang-orang dalam kelas sosialnya. 

Dan menurut saya sendiri, dua persepsi di atas adalah semacam faktor internal-eksternal yang berpengaruh pada tingkah laku anak. Kenapa tidak keduanya termasuk ke dalam faktor eksternal? Karena apa yang nantinya akan ada di dalam (sisi internal) seorang anak atau seseorang adalah merupakan investasi dari apa yang sebenarnya orang tuanya berikan. Mengingat orang tua adalah relasi yang paling dekat dan harusnya pertama kali menyentuh dunia anaknya, kecuali dalam kasus lain, seperti anak yang dibuang, anak yang diasuh saudaranya karena orang tuanya sudah meninggal. Atau dalam kata lain, kita wakilkan 'keluarga' sebagai media madrasah pertama seorang anak, khususnya orang tuanya.

Kita tahu sendiri, setiap orang memiliki sifat ataupun karakteristik yang berbeda-beda. Dan disitulah, peran parenting sebenarnya ada. Menurut saya, peran pola parenting yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah sangat penting. Sebuah kepercayaan dari Allah untuk dapat menjadi orang tua bukanlah hal yang main-main. Ketika salah mendidik seorang anak maka bisa jadi ada satu penerus peradaban yang masa depannya terancam, karena bagaimanapun nasib atau takdir hidup seseorang kan Wallahu alam. Namun, disanalah tanggung jawab terbesar orang tua. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi pada anaknya di hari kelak, orang tua harus mampu membuat dan membimbing anak mereka supaya dapat menghadapi bermacam-macam keadaan dalam hidup.

Sangat disayangkan bila kesadaran akan tanggung jawab orang tua adalah besar ini tidak disadari oleh masyarakat, contohnya, ketika ada pasangan yang ingin memiliki keturunan, namun tidak belajar bagaimana kalau kelak anaknya lahir. Apa yang sudah dipersiapkan untuk mendidiknya nanti? Apa yang sudah disiapkan untuk membesarkannya nanti? Bagaimana biaya sekolahnya? Bagaimana metode untuk mengajarkan bahwa kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan? Bagaimana mengajaknya untuk mengerti pentingnya melaksanakan ibadah, mengerti norma, dan sopan santun? Dan hal-hal sejenisnya.

Lucu juga ya kenapa kok saya nulis ginian? Hehehe, terlalu visioner :P

Sebenarnya tulisan ini terilhami, karena di masjid rumah saya, banyak anak-anak kecil yang shalat tarawih disana, banyak juga ibu-ibu yang membawa putranya untuk shalat bersama. Kadang, saya tak sengaja melihat tingkah laku anak-anak kecil tersebut, atau diajak bicara sama ibu-ibu tadi. Serta, seiring berjalannya waktu, saya bisa mengamati sendiri bagaimana perbedaan perilaku yang orang tua saya beri antara kepada kakak saya, saya, dan adik saya, dan bagaimana hal tersebut memberi efek pada karakteristik kami yang berbeda-beda. Saya juga mengerti bagaimana usaha orang tua saya dalam membesarkan kami dan berupaya untuk mencukupi apa yang kami butuhkan. Itulah mengapa terbesit dalam benak saya, kelak kalau insyaAllah menjadi orang tua berarti ada amanah besar yang harus saya emban. 

Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda untuk dihadapi. Mungkin, dulu di generasi saya, alat elektronik bukanlah sesuatu yang trending, tidak seperti di generasi anak sekarang ini, dan tentu aja pengawasan dan cara mendidiknya akan berbeda pula. Tetapi, hal dasar yang patut diketahui dalam parenting adalah memberikan panutan dan lingkungan yang senantiasa positif bagi anak (bersahabat dengan mereka). Itulah kenapa peribahasa tersebut ada. Menurut saya, lebih tepatnya lagi, tidak selalu sifat orang tua menurun pada anaknya, tetapi apa yang orang tua pilih untuk ajarkan kepada anaknya. Sehingga, kalau mungkin orang tuanya kurang baik, bukanlah hal yang pasti, kalau anaknya menjadi kurang baik juga. Masih ada kesempatan untuk mencetak penerus yang lebih baik.

Bersyukurlah kita yang diberi kesempatan untuk berada di lingkungan terdidik, ditemukan dengan teman-teman yang baik, dan masih ditemani oleh orang tua. Manfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya diri, supaya generasi kedepan dapat menjadi generasi yang lebih baik. Open your eyes, guys. Insya Allah, mungkin 5-10 tahun lagi, kalianlah yang menjadi generasi "orang tua".
Share:

0 komentar:

Post a Comment