26 September 2016

Prolog


Tak banyak yang tahu masalah hati, kadang beberapa orang memilih menyimpannya dalam-dalam seolah itu cerita paling berharga yang mereka punya, namun tak sedikit juga yang mampu membagikannya kepada orang-orang di sekelilingnya. Hari ini, entah kenapa aku ingin menulis. Kadang perasaan mendadak terasa sesak, entah akan hal yang cukup penting, ataupun hanya sekedar hal-hal dan masalah receh seperti mood yang berubah memburuk seketika. Kupikir, mungkin dengan menumpahkannya disini,barangkali perasaanku akan baikan..

Bicara masalah hati, mungkin aku adalah tipe yang pertama. Entah kenapa, aku paling sulit membicarakan masalah perasaanku. Kadang kata-katanya sudah tergelincir di ujung lidah, terbatin menyeruak di dalam hati, namun sesaat kemudian, semua itu hilang begitu saja, dan kembali aku simpan sendiri. Mungkin aku sering bercerita, namun tak banyak yang aku maksudkan untuk menyampaikan apa yang aku rasakan sesungguhnya. Alih-alih, itu hanya caraku mengabadikan momen atau kejadian yang berarti untukku.

Maka, maafkan diri ini yang mungkin pernah salah dalam berkata dan berbuat. Maafkan diri ini bila belum mampu menyampaikan kata-kata epilog dalam cerita perjumpaan antara aku dan kamu, siapapun itu. Maaf bila diri ini tak mampu sampaikan rasa terima kasih dan permintaan maaf. Maaf, atas segala perasaan yang tak mampu aku utarakan, apapun itu. Mungkin kecewaku, marahku, sedihku, bersalahku, dan bahagiaku. Aku dan kamu sama hanyalah seorang manusia yang menjadi pemeran dalam film yang diciptakan oleh-Nya. Dan hanya semampu itulah kuasa kita, mengikuti peran dan alur cerita dari-Nya. Bukankah begitu? Maka, mungkin itulah apa yang menyebabkan kita ada pada keadaan kita saat ini.

Terkadang, kita akan menjadi sebuah prolog dalam kisah hidup orang lain, tanpa belum mencapai epilognya. Dan mungkin sebatas itu saja 'waktu' kita mampir dalam ceritanya. Apapun penyebabnya, pada akhirnya kita hanya mampu untuk menerima dan kembali menjalani hidup kita seperti biasa, dengan segala upaya kita untuk menjadi terbiasa dengan keadaan itu.

Syukur, hanya itu yang mampu aku sampaikan tentang apa yang aku rasa saat ini. Aku ingin merasa gembira tanpa harus khawatir membuat orang lain sedih. Mungkin aku sudah lelah terus memikirkan bagaimana caranya membuat orang lain tak sedih, sampai aku lupa akan perasaanku sendiri. So, I let it go. I want remember everything in a good way and smile anytime i think about it, and I wish you all do the same thing with me. Maybe, we ain't get time to write a proper Epilog for it. then, just  let us remember it this way.. 

Saat kita melepaskan yang terbaik, maka akan Allah gantikan yang lebih baik dari yang terbaik. Karena apa-apa yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata Allah. Kata Mas, nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Maka, akupun akan selalu percaya akan rencana-Nya. Tenang, semua akan indah pada waktunya.

No comments:

Post a Comment