Wednesday, 9 November 2016

Rahasia Hati.



Ada saatnya dalam hidup, dimana aku nggak mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidup ini. Banyak hal terjadi di 2016, begitu juga yang menyangkut masalah hati. Akupun kadang nggak mengerti apa yang hidup coba sampaikan dengan kejadian-kejadian ini, sampai aku suka berpikir keras berusaha mengumpulkan semua fragmen-fragmen ini supaya menjadi sesuatu yang bisa aku ambil hikmahnya. Jujur saja, nggak jarang, di saat-saat itu, aku menangis sejadi-jadinya. Nggak bisa disampaikan gimana rasa sakitnya dan lelahnya menjadi seorang "aku" setahun belakangan ini. Mungkin nggak ada yang paham, kenapa justru di sini adalah aku yang tersakiti, dan mulai mencibir atau berkata dalam hati kalau aku nggak tahu diri, angin-anginan, dan sesuka hatiku sendiri. Yup, sederhana- karena nggak ada yang mencoba melihat permasalahan ini dari kacamataku. 

Aku juga heran mengingat bagaimana kisah percintaanku berubah dalam kurun waktu sekejap. Sebelumnya, aku bukan seseorang yang concern dengan masalah percintaan. Biasanya aku hanya menjadi pemeran "pecinta diam-diam" sampai akhirnya di tahun 2014, aku dipertemukan dengan seseorang yang biasanya aku panggil dia Omik (mungkin sudah pernah aku sebut di post-post ku sebelumnya). Tak bermaksud mengungkit cerita lama, namun mungkin di sinilah titik mulanya, Omik adalah seseorang yang aku kagumi ketika aku baru saja masuk di universitas, kebetulan kami satu kelompok saat itu. Namun, rasa itu hanya rasa kagum sesaat karena selanjutnya, aku jarang bertemu dengannya. Tak disangka, setahun kemudian, aku dipertemukan lagi dengannya, dan kami satu kelompok dalam suatu penugasan, yang menyebabkan kami memiliki alasan untuk berkomunikasi. Sebulan setelah kami tak lagi bersama di satu event tersebut, ternyata dia menghubungiku, namun- ya karena entah kenapa rasanya saat aku bisa bertemu lagi dengannya adalah salah satu momen spesial. Sampai seiring berjalannya waktu, aku terus berfikir, bahwa berpacaran bukanlah hal yang diperbolehkan oleh agamaku. Apalagi, saat itu aku beberapa kali merasa sangat sedih karenanya, maka aku meminta untuk sendiri saat itu kepada Omik. 

Pikirku, kalau aku benar-benar sayang seseorang, aku ingin menjemputnya dengan cara yang baik. Siapapun nanti yang pada akhirnya akan bersama denganku sampai akhir nanti.

Lalu perlahan, cerita-cerita baru mulai terjadi dalam hari-hariku. Entah bagaimana awalnya, seseorang memasuki duniaku. Dunia yang ingin aku tenangkan yang ingin aku sembuhkan yang ingin aku kembalikan ke bentuk semulanya. Namun, hal itu tak berjalan lama. Karena, rupanya aku hanyalah tempatnya berbagi cerita saat itu. Okelah, akupun mulai mengambil jarak, berusaha membetulkan patahan-patahan yang ada di dalam diriku. Rasanya aku sangat mampu saat itu, karena aku ingat niat awalku. Sedikit demi sedikit, aku mulai terbiasa dengan ini dan mulai kembali sembuh. Aku lakukan banyak kesibukan dan bertemu dengan orang-orang baru. Perlahan, aku berubah menjadi seseorang yang terbiasa untuk membatasi- utamanya perasaanku. Aku tak lagi sedih, aku tak lagi merindukan sesosok orang ataupun teman cerita, aku tak lagi menemukan definisi "tertarik dengan seseorang". Aku habiskan waktuku untuk berkontemplasi dengan bersepeda, berbincang dengan keluargaku, dan menyusun mimpi-mimpiku. Sampai, saat itu aku juga sempat jatuh sakit, karena lelah yang aku paksakan. 

Lalu datang lagi seseorang, yang tak sengaja aku beri perhatian, hanya karena aku menemukannya dalam setiap updetan sosial mediaku, sampai yang terbawah. Saat itu aku mulai bertanya-tanya, "Ngapain anak ini?". Tanpa sadar, aku mulai menjadi akrab dengannya. Duniaku kembali menjadi ceria, aku menemukan seseorang yang bisa menginspirasiku dan membicarakan banyak hal- khususnya yang berhubungan dengan studiku sekarang. Kami pun melakukan banyak hal bersama, karena aku berada dalam suatu kepentingan dengannya. 

Waktupun berlalu. Banyak rasa senang dan sedih yang harus aku tampung karena keberadaan mereka dalam duniaku. Kadang rasanya lelah, sangat lelah, untuk menjaga perasaan mereka berdua. Sampai aku lupa menjaga perasaanku sendiri. Bahkan detik ini, tak sadar, air mataku mulai menetes. Aku nggak tahu harus bagaimana menyampaikan semua ini. Mungkin aku hanya anak kecil yang bermaksud berbuat baik dan berharap keadaannya akan selalu baik-baik saja, namun justeru aku menjadi seseorang yang sepertinya telah melukai hati orang-orang terbaik yang datang dalam hidupku.. Akupun nggak mengerti kenapa tiba-tiba semuanya berubah. Suatu hari semuanya berubah, aku tak lagi harus bertemu dengannya setiap hari, dan aku memiliki kesibukan baru, dan tak sadar- aku kembali menjadi aku yang lama. Aku yang ingin sendiri. Aku yang menolak merasa sedih karena ketakutanku sendiri dengan masalah percintaan, aku yang mudah sedih hanya karena aku merasa dilupakan, aku yang menolak merasa sedih hanya karena aku merasa rindu kepada seseorang. Aku yang mematikan setiap kehangatan yang aku mulai rasa kepada seseorang, hanya karena aku takut. Lalu aku pergi.

Mungkin, sampai hari ini, aku masih belum bisa berdamai dengan semua luka itu. Sampai hari ini, aku masih susah menerjemahkan apapun yang aku rasa, karena yang aku bisa deteksi ketika aku mulai merasakan sesuatu pada seseorang adalah kesedihan dan rasa bersalahku. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tak ingin terus diselimuti perasaan ini. Aku hanya bisa doakan kalian dari kejauhan dan berharap kalian selalu merasa bahagia.

Sisanya, aku pasrahkan pada Allah Subbhanawataa'la dan waktu yang menunjukkan.
Selamat mengejar mimpi.

Salam hangat,
R.
Share:

1 comment:

  1. Sesaat jadi berfikir "mencintai diam-diam lebih baik karena hanya aku yang merasa sakit".
    #tibatibagalau
    #jadiingetduludulu

    Setiap kisah itu gak hanya menyisakan luka, tapi pelajaran. Semoga niat mu bisa terus kamu pegang, sampai nanti kamu sudah mencapai impian-impian mu. Dan orang yang tepat akan bersanding sama kamu :)

    ReplyDelete