Kemarin malam, aku buka instagram, beberapa saat sebelum tertidur. Hahaha, aku update sesuatu sih, terus dikomen sama temen-temenku yang sekarang lagi merantau di Jakarta. Kami dulu berada di kepengurusan yang sama selama dua tahun di bangku kuliah. Aku jarang bercerita tentang kegiatan yang satu ini, karena dulu pergerakan kita harus tersembunyi dan dibalik layar. Karena, sekarang kami sudah tidak bertugas, aku anggap aku bisa menceritakan tentang keluargaku yang satu ini ya 😆
Jadi, dulu semasa tahun kedua dan ketiga di kampus, aku merupakan bagian dari steering committee pengaderan di jurusan. Jumlah kami dulu berlima belas, dengan formasi yang diubah di tahun kedua ku berkegiatan disana. Hahaha, terlalu banyak kenangan dan kejadian mulai dari yang seneng-seneng, sedih-sedih, tegang, serius, santai, kocak, pahit, asem, manis, nano-nano dah yang sudah kita lalui.
Kaderisasi, itu adalah sesuatu yang "terlalu panas" buat dibahas saat itu. Jadi, dulu awal tahun kami bertugas, ITS lagi gencar-gencarnya melakukan patroli untuk menekan angka pengaderan yang dilakukan dalam jurusan. Mengingat, ada beberapa hal yang ga mengenakkan yang terjadi di dalam jurusan karena pengaderan. Dan sudah banyak orang tahu juga, pengaderan ITS itu agak strict karena kadang ngga mengenal waktu, sampai larut malam. Padahal, mahasiswa baru itu sedang di dalam masa transisi, mengenali lingkungan barunya, mengenali apa yang akan mereka hadapi di perkuliahan, dan menurut birokrasi, pengenalan dengan pengaderan yang sampai memakan banyak waktu, itu bukan yang seharusnya diterima oleh mereka. Jadi waktu itu, kayak ada "pakta" dimana elemen pengader harus tanda tangan diatas materai yang isinya adalah batesan pengaderan-pengaderan yang boleh dilakukan, contohnya adalah batasan waktu. Sudah lama nggak bahas ginian, udah lupa detail istilah-istilahnya, wkwk. Intinya, kalau kita nyemplung ke dunia "pengaderan", sama aja kita nyemplung ke zona perang dingin antara aktivis mahasiswa dengan birokrasinya. Namun, ini bukan rumus yang mutlak, karena beda pengurus birokrasi entah di tingkat institut, fakultas, ataupun jurusan tentu berbeda pula kebijakan-kebijakannya, dan penanganannya dalam menghadapi issue ini.
Dulu, hampir setiap hari dari pagi sampai malam (tengah malam, lebih tepatnya), aku habiskan waktuku di kampus, salah satunya untuk kegiatanku ini. Belum lagi, di tahun ketiga ku, aku aktif di himpunan dan kaderisasi, kadang sampai puyeng, dan ada ketimpangan, karena kadang aku lebih nyaman dengan teman-temanku di A daripada di B. Lebih suka mikirin tentang masalah A daripada masalah B. Nggak mesti sih, berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan keduanya.
Jadi seseorang yang pemikir, ternyata cukup cocok juga aku berkiprah di dunia ini. Kadang juga sebel sama mereka-mereka, apalagi kalo udah masuk tanggal-tanggal minggu akhir perkuliahan, udah mulai panik sama urusan akademis, padahal timeline pengaderan juga padat-padatnya dan penting-pentingnya adalah di bagian-bagian akhir juga. Emang, kadang kerasa sih, aku bukan termasuk SC yang berani buat speak up kayak para alpha male, tapi aku punya caraku sendiri. Aku lebih nyaman encourage adek-adekku secara ngobrol personal. Tukar pikiran dalam lingkup kecil, dan aku belajar banyak dari hal itu.
Teringat dalam suatu pembicaraan dengan senior mantan kahima ku, mas Taufan bilang, semoga apa yang kami kerjakan saat ini itu bisa menambah pahala dan timbangan amal kebaikan. Karena, kita nggak pernah tahu, bagian mana dari perkenalan kita dengan seseorang yang telah merubah seseorang itu. Entah, bagian sukses mana yang mereka akan capai di hari kedepan, bisa jadi, karena hal kecil yang sudah pernah kita bagi atau ajarkan ke mereka di saat perjumpaan itu. Mendidik, memang adalah sesuatu yang "ajaib".
Emang, sekarang, aku udah nggak sedeket itu sama adek-adek pendampinganku, mungkin aku emang kurang baik dalam bermanis-manis atau berbasa-basi, sama orang huhu. Tetapi, aku seneng lihat adek-adek sekarang sudah nyaman di bidangnya masing-masing. Ada yang jadi cakahima, wakahima, aktif di BEM, aktif di kegiatan ilmiah, bahkan masuk jadi tim PIMNAS dari jurusan, aktif jadi koor suporter, bisa menaikkan indeks prestasinya yang dulu sempat jatoh, jadi ketua UKM. Kalian hebat :) Maaf kalau aku masih banyak kurangnya dalam menyampaikan informasi-informasi.
Jadi kangen sama anak-anak SC yang gokil macem Saif dan Rio, huahaha. Maaf ya aku anaknya gak humoris sama sekali :)) Papi kirom, yang bijak, masih lancar juga komunikasi, wkwk biasanya sharing-sharing lamaran pekerjaan. Cornel, sang komtang-DPA. Mas Fajar, Kipli, yang own their own rules. Mas fuad yang paling diem diantara kami semua. Kangen sama azizah, bella, mbak dita (ibu kami semua), chelle, tias, mbak nana, dan KIKIK, yaampun temenku curhat dan pulang ke rumah kalo rapatnya kelewat malem. Dan yang lain belum disebutin. Terutama, buat adek-adek kyu semuanya yang sweetnya masyaAllah, ngasih kita kenang-kenangan di CD, kangen makan-makan bareng, baca doa mau rapat, kangen cerita pelatihan kita yang pertama wkwkwk. Well, too many memories, I guess.
Sukses buat semuanya! Semoga kita bisa segera ketemu lagi! Jangan lupa dateng wisudaku ya! 24 September 2017! Hahahah, wkwkwk!
R
Sukses buat semuanya! Semoga kita bisa segera ketemu lagi! Jangan lupa dateng wisudaku ya! 24 September 2017! Hahahah, wkwkwk!
R

No comments:
Post a Comment