Showing posts with label agent of change. Show all posts
Showing posts with label agent of change. Show all posts

31.8.17

Agen Rahasia

2015-2016, yang 2014-2015 menyusul  ya 😀

Kemarin malam, aku buka instagram, beberapa saat sebelum tertidur. Hahaha, aku update sesuatu sih, terus dikomen sama temen-temenku yang sekarang lagi merantau di Jakarta. Kami dulu berada di kepengurusan yang sama selama dua tahun di bangku kuliah. Aku jarang bercerita tentang kegiatan yang satu ini, karena dulu pergerakan kita harus tersembunyi dan dibalik layar. Karena, sekarang kami sudah tidak bertugas, aku anggap aku bisa menceritakan tentang keluargaku yang satu ini ya 😆

Jadi, dulu semasa tahun kedua dan ketiga di kampus, aku merupakan bagian dari steering committee pengaderan di jurusan. Jumlah kami dulu berlima belas, dengan formasi yang diubah di tahun kedua ku berkegiatan disana. Hahaha, terlalu banyak kenangan dan kejadian mulai dari yang seneng-seneng, sedih-sedih, tegang, serius, santai, kocak, pahit, asem, manis, nano-nano dah yang sudah kita lalui.

Kaderisasi, itu adalah sesuatu yang "terlalu panas" buat dibahas saat itu. Jadi, dulu awal tahun kami bertugas, ITS lagi gencar-gencarnya melakukan patroli untuk menekan angka pengaderan yang dilakukan dalam jurusan. Mengingat, ada beberapa hal yang ga mengenakkan yang terjadi di dalam jurusan karena pengaderan. Dan sudah banyak orang tahu juga, pengaderan ITS itu agak strict karena kadang ngga mengenal waktu, sampai larut malam. Padahal, mahasiswa baru itu sedang di dalam masa transisi, mengenali lingkungan barunya, mengenali apa yang akan mereka hadapi di perkuliahan, dan menurut birokrasi, pengenalan dengan pengaderan yang sampai memakan banyak waktu, itu bukan yang seharusnya diterima oleh mereka. Jadi waktu itu, kayak ada "pakta" dimana elemen pengader harus tanda tangan diatas materai yang isinya adalah batesan pengaderan-pengaderan yang boleh dilakukan, contohnya adalah batasan waktu. Sudah lama nggak bahas ginian, udah lupa detail istilah-istilahnya, wkwk. Intinya, kalau kita nyemplung ke dunia "pengaderan", sama aja kita nyemplung ke zona perang dingin antara aktivis mahasiswa dengan birokrasinya. Namun, ini bukan rumus yang mutlak, karena beda pengurus birokrasi entah di tingkat institut, fakultas, ataupun jurusan tentu berbeda pula kebijakan-kebijakannya, dan penanganannya dalam menghadapi issue ini.

Dulu, hampir setiap hari dari pagi sampai malam (tengah malam, lebih tepatnya), aku habiskan waktuku di kampus, salah satunya untuk kegiatanku ini. Belum lagi, di tahun ketiga ku, aku aktif di himpunan dan kaderisasi, kadang sampai puyeng, dan ada ketimpangan, karena kadang aku lebih nyaman dengan teman-temanku di A daripada di B. Lebih suka mikirin tentang masalah A daripada masalah B. Nggak mesti sih, berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan keduanya.

Jadi seseorang yang pemikir, ternyata cukup cocok juga aku berkiprah di dunia ini. Kadang juga sebel sama mereka-mereka, apalagi kalo udah masuk tanggal-tanggal minggu akhir perkuliahan, udah mulai panik sama urusan akademis, padahal timeline pengaderan juga padat-padatnya dan penting-pentingnya adalah di bagian-bagian akhir juga. Emang, kadang kerasa sih, aku bukan termasuk SC yang berani buat speak up kayak para alpha male, tapi aku punya caraku sendiri. Aku lebih nyaman encourage adek-adekku secara ngobrol personal. Tukar pikiran dalam lingkup kecil, dan aku belajar banyak dari hal itu.

Teringat dalam suatu pembicaraan dengan senior mantan kahima ku, mas Taufan bilang, semoga apa yang kami kerjakan saat ini itu bisa menambah pahala dan timbangan amal kebaikan. Karena, kita nggak pernah tahu, bagian mana dari perkenalan kita dengan seseorang yang telah merubah seseorang itu. Entah, bagian sukses mana yang mereka akan capai di hari kedepan, bisa jadi, karena hal kecil yang sudah pernah kita bagi atau ajarkan ke mereka di saat perjumpaan itu. Mendidik, memang adalah sesuatu yang "ajaib".

Emang, sekarang, aku udah nggak sedeket itu sama adek-adek pendampinganku, mungkin aku emang kurang baik dalam bermanis-manis atau berbasa-basi, sama orang huhu. Tetapi, aku seneng lihat adek-adek sekarang sudah nyaman di bidangnya masing-masing. Ada yang jadi cakahima, wakahima, aktif di BEM, aktif di kegiatan ilmiah, bahkan masuk jadi tim PIMNAS dari jurusan, aktif jadi koor suporter, bisa menaikkan indeks prestasinya yang dulu sempat jatoh, jadi ketua UKM. Kalian hebat :) Maaf kalau aku masih banyak kurangnya dalam menyampaikan informasi-informasi.

Jadi kangen sama anak-anak SC yang gokil macem Saif dan Rio, huahaha. Maaf ya aku anaknya gak humoris sama sekali :)) Papi kirom, yang bijak, masih lancar juga komunikasi, wkwk biasanya sharing-sharing lamaran pekerjaan. Cornel, sang komtang-DPA. Mas Fajar, Kipli, yang own their own rules. Mas fuad yang paling diem diantara kami semua. Kangen sama azizah, bella, mbak dita (ibu kami semua), chelle, tias, mbak nana, dan KIKIK, yaampun temenku curhat dan pulang ke rumah kalo rapatnya kelewat malem. Dan yang lain belum disebutin. Terutama, buat adek-adek kyu semuanya yang sweetnya masyaAllah, ngasih kita kenang-kenangan di CD, kangen makan-makan bareng, baca doa mau rapat, kangen cerita pelatihan kita yang pertama wkwkwk. Well, too many memories, I guess.

Sukses buat semuanya! Semoga kita bisa segera ketemu lagi! Jangan lupa dateng wisudaku ya! 24 September 2017! Hahahah, wkwkwk!

R

23.2.17

Trip To Jakarta!

Hey hey hey! Good morning, guys! I mean, it's really in an early morning! Ehm, wonder why do always my body turn out to be hard to get sleepy after had a tiring day? Well, it's quite gloomy and blue before. Ehem, I am talking about my last post, hahaha, so let's forget about it and move on with another happier story to tell. ðŸ˜Š

Let's see what I have for you, guys..

                                        

Tada! I've just uploaded a new video at my YouTube channel. Maybe you guys want to give a glimpse into it, hehehe. Talking about this video, there was another fun and hilarious journey I had with my friends to Jakarta behind it. Not forget to mention, it was free! So, I had tell about the scholarship I got months ago that made me so thankful & reminded me about my parents. Yep, that was it. After got the scholarship, all of the scholarship grantee was invited by the company to come to the gathering event at Jakarta about a month before the due date. It was also mentioned that we would get reimbursement for the transportation's fee after we arrived there. In other words, we are going to have a free trip. The amount of the reimbursement were decided by the distances from the hometown of the University to Jakarta as the destination city.                                            

I went there by the airplane along with my classmates & junior. They were Tara, Hisyam, Cecen, Rety, and Andini. We departed from Juanda Airport Surabaya at Friday, 10th February and arrived on the same day at Soekarno Hatta Airport Jakarta. Then, we took a cab to get to the Gathering's venue, at Eco Park Ancol, precisely. After arrived at Ancol, we ride on Wara-Wiri Bus, a free bus to accommodate the visitor inside Ancol. Then, we arrived at the Eco Park. By the way, we dropped off at the wrong bus stop, so we still had to walk for some miles (hahaha, ndak juga sih). But, it was fine, because we through a very nice environment to get to the hotel. We also saw some animals, pond, lot of plants & trees. It's a bit windy at Jakarta that evening. Hisyam and Cecen got new friend, he is Hamid from University of Indonesia, actually we also took the same bus, but he didn't talk too much. We also met friends from our university that took a different accommodation with us. After checked in, we got some merchandise and vouchers for tomorrow's breakfast & dinner. Then, we entered the room. It was a big room for 40 people, the bed was laid in order. We had about an hour to clean & have a pray. Then, we took our dinner and went to a place. It was in front of a stage where we can eat while listen to a live music performance. The band was so good, to be honest. Hahahah. But we annoyed by the cat's poop around this area. Yuck! After walked around, we back to our hotel & slept. 

The second day, me, Tara, Rety, and  Andini woke up so early in order to can take a bath, because they were only 3 bathroom. We took a bath at about 3 AM. Guess what, they were already queue for showers. After had a breakfast, we had a kind of "talk show" session, which talked about two topics. They were "Professional Communication" and "Leadership". It was an interesting topics with great speakers! (and also beautiful & powerful lecturer.) Such an inspiring talk. I wish I can be like them too, just wait. By the way, it was mostly raining all day long. Luckily, I brought my thin jacket inside my bag. After have done the session at Ancol, we divided into 3 bus, and went to Bintaro, Tangerang Selatan. It was an area which developed by the company along with the province government. There were many of Pembangunan Jaya's business branch at there. We visited the Sport Center which used specifically for Badminton Training. There were some Indonesia's Badminton Legend who greeted us, such us Mrs. Imelda Wigoena & Mrs. Rosiana Tandean, the PB Jaya Raya's director, and also the athlete under the guidance of this club. They have joined the club since such a young age and wander from their hometown. What makes this club special, that this club does not forget about the academic's stuffs of their athletes, so they made school and its own curriculum that would fit with the athlete's tight schedule of training & competition. From the Sport Center, we went to Jaya International School, which is a very guwd school. I wish I could sign in my future children to a school like that. The school has a very complete facilities and also runs with an interesting system. Lastly, the journey's session ended at Bintaro XChange Mall. We got a greeting from the director then we also given a 100k voucher that we can use to buy either food, clothes, shoes, etc. (It supposed to buy a dinner, but most of us used it to buy things). At 9.30 PM the bus headed to go back to the hotel. And it took around half and an hour from Bintaro to Ancol through the city's highway. The second day was a long day but luckily it passed in a blink ;)

             

The last day, we still had so many breakfast's vouchers left. That's why, we bought some more foods than yesterday. I bought, fried rice with an extra egg and crackers, orange juice (which turned out to be as same as lime juice. Surprisingly sour! but still alhamdulillah), and also a chocolate waffle. After finished our breakfast, we walked around the dock near to our eating place. We saw fishes and took some photos. Not long after that, we were commanded to go back to the hotel, got prepare for the out bond session. We didn't allow to bring important things as it was raining outside. The out bond went so fast due to the short time left for it. We divided into different group, different universities. We played some games, which were funny and I had never play some of them before. After finished the out bond. We back to the meeting point. There were the winner's announcement. My group got the third place, yaay! Then, there were closing session and we got certificates based on our universities. After that, we all packed our stuffs and prepared to go to Dufan. The third day ended by enjoying playing at Dufan. We tried rides, we went back to the hotel. Took our bags and ate foods from Hisyam's parents. By the way, it was raining so bad at night for about an hour. Lastly, we went straight to the airport. Waited our flight which was still at 4AM, that means.. yap, we slept at the airport! Hahahaha. I had a good sleep though. I slept at the waiting's bench and woke up right on 3AM because it was cold brrr! Then, we checked in and took wudhu, since it has not been Subuh at that hour.

            

That's the end of my story, wkwkwk. After arrived at home, I slept from 8AM to 2PM. :p

16.8.16

Counting pertama!


Hai, marmut..

Semalem niatnya mau ceritain kisah pergi counting sama temen-temen di Malang weekend kemarin, hahahaha karena kocak banget, apalagi ada 2 perawat yang warbyasah di shift malem dua hari kemarin,  eh ternyata ketiduran duluan. Jadi aku kasih foto aja sama video iseng di atas ya :p Lumayan banget dehh kerja nyambi refreshing. Huah, minggu akhir kerja praktek nih, kegiatan padetnya mantep joss tenan. Selain harus ke kantor yang perjalanannya lumayan jauh, ngerjain tugas, tetep ngelesin, njemput adek, bikin laporan, dan sisanya udah pake istirahat langsung. Sedih campur seneng karena sudah mau selesai, Habis ini harus lebih semangat lagi!

car free day di Idjen, Malang

dari yang php di Ranu Pane

Hahahah ohiyaaa, tapi, karena hari ini adalah hari Selasa yang notabene harinya asistensi laporan ke dosen, jadi dapat day off sehari. Walaupun sedih soalnya dosennya ngambek sama kita, dan ngambeknya udah tiga minggu banget! Akhirnya, setelah fix ngga ada asistensi lagi buat minggu ini, dan untungnya tiba-tiba ada Rizal sama Temon yang ngajak dan mau diajak main. Sebenernya niatnya cuman mau ke SAC (Student Advisory Center) di Sukolilo buat nanyain persyaratan scholarship vacancy gitu, tapi sekalian main-main buat menghibur diri yang suntuk ini. Nah, karena mumpung lagi ke Sukolilo yang jauh sama Manyar hahaha, kita jajan-jajan deh di kantin pusat, terus foto-foto biar kelihatan bahagia. Ngga jelas sih fotonya tapi malah bikin jadi bahagia beneran yeyyy.




Selain itu, hahahahaha, jadi kan, aku pengen nabung nih ya di bank, udah bawa buku tabungan juga kan. Nah kemarin itu aku waktu magang tanya ke ica,
R : Caa, di deket sini ada bank BNI ngga?
I : Ada, di kedungdoro itu. Emang mau ngapain?
R : Oh, kayak nya tahu. Mau nabung caa
I : Yaelaaahh, setor tunai aja
R : Ngga tau caranya Caa , takut keisep uang nya
I : Yaelaaah katrok, ndesiiitt
Terus dia ketawa-ketawa, hahaaha ngga cuman Ica aja yang ketawa. Jadi nih, di tempatku KP, ada dedek dari Banyuwangi namanya Nizar. Dan dia kan duduknya di sebelahnya Ica, jadi otomatis kedengeran percakapan kita. Dan dia ikutan ngetawain! Wkakakaka akhirnya tadi sekalian diajarin deh sama anak-anak yang namanya SETOR TUNAI dan ngga lupa tetep DIKETAWAIN dulu sama dablas temon icak LAGI. Makasih lohhhh. Hahahaa ternyata keren juga ya itu setor tunai? ajaib men!




Alhamdulillah, terima kasih yaAllah sudah kasih kesempatan bisa melakukan semua ini. Semoga segala ikhtiar baik ini Engkau ridhoi. Aamiin. Bersyukur, berpikir positif, ibadah, dan sibukkan diri dalam keproduktifan, semoga hidup bisa lebih bermanfaat. 

12.6.16

Pentingnya parenting.

 

"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya"
Pernah dengar peribahasa di atas? Mungkin sebuah stigma yang sangat akrab di kalangan masyarakat Indonesia dan menurut saya kadang peribahasa tersebut justru menjadi sebuah labeling, semisal ketika ada sebuah anak melakukan tindakan A yang kebetulan orang tua si A pernah melakukan hal yang serupa, maka tak jarang masyarakat di sekitarnya akan mengeluarkan komentar sejenis peribahasa di atas. Padahal bisa jadi, tindakan kebetulan tersebut hanya satu dibanding seratus yang sama yang pernah dilakukan oleh si A dan orang tua si A.Memperbesar cakupan di poin pertama, ada lagi yang disebut dengan stereotype, atau dalam bahasa indonesia disebut stereotipe, merupakan sebuah bentuk penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Jadi, kalau pada kasus pertama, tingkah laku seseorang itu dianggap tidak jauh dari tindak laku orang tuanya, di yang kedua, masyarakat memberikan persepsi bahwa tindak laku seseorang itu tidak jauh dari perilaku orang-orang dalam kelas sosialnya. 

Dan menurut saya sendiri, dua persepsi di atas adalah semacam faktor internal-eksternal yang berpengaruh pada tingkah laku anak. Kenapa tidak keduanya termasuk ke dalam faktor eksternal? Karena apa yang nantinya akan ada di dalam (sisi internal) seorang anak atau seseorang adalah merupakan investasi dari apa yang sebenarnya orang tuanya berikan. Mengingat orang tua adalah relasi yang paling dekat dan harusnya pertama kali menyentuh dunia anaknya, kecuali dalam kasus lain, seperti anak yang dibuang, anak yang diasuh saudaranya karena orang tuanya sudah meninggal. Atau dalam kata lain, kita wakilkan 'keluarga' sebagai media madrasah pertama seorang anak, khususnya orang tuanya.

Kita tahu sendiri, setiap orang memiliki sifat ataupun karakteristik yang berbeda-beda. Dan disitulah, peran parenting sebenarnya ada. Menurut saya, peran pola parenting yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah sangat penting. Sebuah kepercayaan dari Allah untuk dapat menjadi orang tua bukanlah hal yang main-main. Ketika salah mendidik seorang anak maka bisa jadi ada satu penerus peradaban yang masa depannya terancam, karena bagaimanapun nasib atau takdir hidup seseorang kan Wallahu alam. Namun, disanalah tanggung jawab terbesar orang tua. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi pada anaknya di hari kelak, orang tua harus mampu membuat dan membimbing anak mereka supaya dapat menghadapi bermacam-macam keadaan dalam hidup.

Sangat disayangkan bila kesadaran akan tanggung jawab orang tua adalah besar ini tidak disadari oleh masyarakat, contohnya, ketika ada pasangan yang ingin memiliki keturunan, namun tidak belajar bagaimana kalau kelak anaknya lahir. Apa yang sudah dipersiapkan untuk mendidiknya nanti? Apa yang sudah disiapkan untuk membesarkannya nanti? Bagaimana biaya sekolahnya? Bagaimana metode untuk mengajarkan bahwa kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan? Bagaimana mengajaknya untuk mengerti pentingnya melaksanakan ibadah, mengerti norma, dan sopan santun? Dan hal-hal sejenisnya.

Lucu juga ya kenapa kok saya nulis ginian? Hehehe, terlalu visioner :P

Sebenarnya tulisan ini terilhami, karena di masjid rumah saya, banyak anak-anak kecil yang shalat tarawih disana, banyak juga ibu-ibu yang membawa putranya untuk shalat bersama. Kadang, saya tak sengaja melihat tingkah laku anak-anak kecil tersebut, atau diajak bicara sama ibu-ibu tadi. Serta, seiring berjalannya waktu, saya bisa mengamati sendiri bagaimana perbedaan perilaku yang orang tua saya beri antara kepada kakak saya, saya, dan adik saya, dan bagaimana hal tersebut memberi efek pada karakteristik kami yang berbeda-beda. Saya juga mengerti bagaimana usaha orang tua saya dalam membesarkan kami dan berupaya untuk mencukupi apa yang kami butuhkan. Itulah mengapa terbesit dalam benak saya, kelak kalau insyaAllah menjadi orang tua berarti ada amanah besar yang harus saya emban. 

Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda untuk dihadapi. Mungkin, dulu di generasi saya, alat elektronik bukanlah sesuatu yang trending, tidak seperti di generasi anak sekarang ini, dan tentu aja pengawasan dan cara mendidiknya akan berbeda pula. Tetapi, hal dasar yang patut diketahui dalam parenting adalah memberikan panutan dan lingkungan yang senantiasa positif bagi anak (bersahabat dengan mereka). Itulah kenapa peribahasa tersebut ada. Menurut saya, lebih tepatnya lagi, tidak selalu sifat orang tua menurun pada anaknya, tetapi apa yang orang tua pilih untuk ajarkan kepada anaknya. Sehingga, kalau mungkin orang tuanya kurang baik, bukanlah hal yang pasti, kalau anaknya menjadi kurang baik juga. Masih ada kesempatan untuk mencetak penerus yang lebih baik.

Bersyukurlah kita yang diberi kesempatan untuk berada di lingkungan terdidik, ditemukan dengan teman-teman yang baik, dan masih ditemani oleh orang tua. Manfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya diri, supaya generasi kedepan dapat menjadi generasi yang lebih baik. Open your eyes, guys. Insya Allah, mungkin 5-10 tahun lagi, kalianlah yang menjadi generasi "orang tua".

30.8.15

Random thought...

foto lama, masa-masa hectic cari perkuliahan


Saya ingat, sewaktu SMA, saya pernah berbincang-bincang dengan salah satu teman saya di tempat kursus bahasa Inggris.  Dan beliau, adalah seorang bapak dari dua anak. Kami berbincang bincang soal kuliah dan pekerjaan. Waktu itu, beliau bertanya pada saya “Rizka, kelas berapa sekarang? Habis ini kuliah ya berarti kan setelah SMA. Cari kuliah yang prospeknya bagus dan cari kerjanya gampang aja”. Wah, sudah diultimatum gitu, mau tidak mau tertarik juga untuk mencari tau, kira-kira apa aja sih studi yang punya prospek bagus gitu.

Setelah itu, saya mencoba berkonsultasi dengan orang tua saya masalah jurusan untuk kuliah nanti. Maklum, saya waktu itu masih awal di SMA, belum punya pandangan pasti mengenai jurusan yang ingin saya ambil untuk kuliah nanti. Bahkan seiring berjalannya waktu, keinginan saya selalu berubah-ubah. Dari yang awalnya keinginan saya semasa kecil, jadi arsitek, desainer interior, pengarang buku, sampai jadi insinyur, dokter anak, dan sebagainya. Akhirnya setelah bertanya ke orangtua saya, saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan perkuliahan. 

Saya jadi ingat, waktu itu saya bertanya kepada ayah saya “Yah, jurusan apa sih yang prospektif, buat dapat kerja”. Beliau menjawab “Wah, sebenarnya kerja itu ada dimana mana, ketika kita memikirkan orang lain, disitu ada lapangan kerja. Saat ini pandangan orang ketika melihat kerjaan itu kebanyakan dari berapa besar gajinya, padahal, seharusnya kerja itu kan ibadah, rezeki itu yang nanti datang sendiri, berapa jumlahnya ya terserah Allah memberinya ke kita”. Setelah mendapat pesan tersebut, saya mulai berfikir. Dengan pandangan seperti ini, rasanya peluang kerja terbuka lebar di depan mata.
Ayah dan mama saya sering berbicara pada saya, kalau sebagai seorang perempuan, pekerjaan yang paling baik adalah menjadi tenaga pengajar, karena saya sekarang di teknik, mungkin maksudnya sebagai dosen. Kata ayah dan mama, pengajar adalah pekerjaan yang mulia, karena disanalah ilmu kita tidak akan pernah mati. Kita belajar dan selanjutnya dibagikan untuk orang lain. Selain itu, jam kerja dosen adalah teratur, sehingga tidak akan menanggalkan tugas saya sebagai seorang perempuan / ibu nantinya untuk mengurus rumah tangga dan anak.

Yah, tidak ada yang salah sih memikirkan prospek kerja sebuah jurusan, toh dari jalur jalur itulah nanti kita akan berkarya. Namun, saya ingat kata-kata sepupu saya beberapa waktu lalu, ia bertanya pada saya “Kamu kuliah mau menuntut Ilmu atau kerja kaa? Pada dasarnya, yang kita kejar sewaktu kuliah itu ya Ilmu, bukan prospek kerja”. Kata-kata ini benar sekali. Ilmu itulah yang memanusiakan manusia, yang bisa memicu terjadinya mobilisasi antar individu (vertical effect). Saat ini, mencari Ilmu lah yang paling penting. Dan yakinlah kalau rezeki akan datang dari Allah dari manapun bidang yang kita tekuni, asal kita terus berusaha dan berdoa pada-Nya.

Jujur, sampai akhirnya saya duduk di tahun ke-3 sebagai mahasiswa, saya tidak pernah memilih studi saya ini karena prospek kerja nya, yang terpenting bagi saya kemarin adalah memang ini yang terbaik untuk saya, dan disinilah saya harus menuntut ilmu. Sudah semester 5, makin banyak pikiran yang mulai membebani, mulai dari biaya pendidikan yang melambung, kerja praktek setahun lagi, bahkan untuk memilih mata kuliah pilihan, saya belum ada pandangan pasti, apalagi judul TA. rasanya kemampuan masih belum mumpuni. tapi disinilah yang namanya belajar, dengan merasa bodoh harusnya semakin giat belajar dan mencari tahu.. 

Allahuma yassir wala tu' assir. :)

13.8.14

Be Ready for AEC 2015 !


During the holiday, I spent a lot of my time in home, so my routine to read the newspaper is also back. Most time while reading a newspaper, i only read the highlight, the article which's also provided with an image, or something that really catch my attention, because I think, something that colorless is just not quite interesting to read, haha.

But, last time, i found a good article. It was an opinion from the writer about the President's election- which is one of the candidate who lost the election, ask for repetition to Mahkamah Konstitusi Indonesia. In the last part of this article, which said something close to this (sorry, I could not find the newspaper),

"..instead of making fuss about comparisons of election results, which will be splurging money, time, effort again. It's better to receive the results and accept who is the chosen president now. Anyway, if we want to save or make Indonesia as the number one country, we must not be as a President, right? Thus a successful entrepreneur, or being clever students who win at international level, or being a citizen of Indonesia which have the same mindset to build a better Indonesia, can also help our Country being the number one. Now, there is a more important issues that heading ahead us. Indonesia's government better immediately prepare itself for ASEAN Community 2015, which is already right in sight. "

Right in that time, I said like, "NHAAHH NHAAHHH." I just can't not agree anymore. I've been spending a month in home and have my reading newspaper's routine back, but I hardly found any article which specially talk about AEC issue.. I think, Indonesian needs to know more about AEC 2015 because, when this gate of economic community finally opened, the wave of trade whether trade of goods/worker/etc will freely happening in our country.

In my opinion, AEC 2015 will  give a positive impacts if we all have been made a good preparation and fully ready to face it. Such as, our country has a good infrastructure and our country has a high quality human resources. So, as the participant we can take an advantage of it, and not being fooled/disadvantaged from this system. Imagine, when people from other ASEAN countries come to our country, then they do have a higher grade/ability than our citizens, so they're appreciated in our country, they become a leader, they opened many companies, they permanently run a business in here. It's a bad idea. We're only being a servant in our OWN country when we supposed to be THE KING here. And there's a BIG probability of that to be happened in this free economic community, if we all not well-prepared.

Don't you think, It is a serious matter, guys? For me, it's yes.

Sometimes, Indonesia's people are to concern with their internal issues- we keep criticizing about this and that, but we are not give and make any solution, and then we forget that there are another challenge of time that will keep coming toward us.. :)

We should  take more care about it, as a student, we can make a little preparation at least for ourself.
Such as;
  • keep improving our foreign language skill, 
  • make good grades in every subject, 
  • keep update to the latest issue that happens near us, 
  • have a wide social community, 
  • surround yourself with positive people,
  • etc.
Still curious about AEC 2015? Just Google it, guys! Do find more and more about it yah! And also spend your time to watch this video too, okey? :)

4.5.14

Being productive

Today's portrait!
Today, I'm going to retell you about things I did. Not something special, but I won't let this moment just going away from my pile of dust. So, D'village (event that held by my major) is getting closer, it's next week!! wow! Which means, we as the organizer, should work harder for any things that haven't fixed, including the fund's problem. That's why, we had a way out, by selling drinks and foods in Car Free Day Darmo. If I'm not wrong, it's been the 5th time since our first, it's last time for this year... and I had a great experience today :-D

The story was.. Icak as the director of its selling project was bored to make our weekly menu,  so then.. we changed our plan with the new one. Guess whaaatttt's it?
1...
2..
3.. 

Taraa! We sell banana-cheese fried, cutie pancake, bread toast, grilled sausage, grilled meatball, and cireng. And you know what? We made it ourself, exclude the sausage and cireng. So, on the Saturday ba'da Magribh, I went to Icak's house. I planned to sleep over there since we got lotta things to do, and we should get a good place on the Sunday Morning!

After arrived there, we prayed Isha and went to do grocery! It was so fuuun, since i went to here and there, just two with Icha, surfing on Icak's motorcycle, felt the night's breeze passing through my veins while seeing the moon's light (alay).  Firstly, we bought banana. Guess what, after bidding for some couple times, the seller gave us price (which i think) it was so cheap. After that, we were looking for some complement needs, such as the plastic, the toothpick, and the oil paper. And next destination was... finding cheese and palm sugar! then we found for the flour, oil, milk. Lastly, Icak treated me an avocado juice. Thanks a lot caki :3

After finished the "what we need to buy"'s checklists! We back home and prepared the whole things that we need. We made dough, we move the milk, we placed the sugar, we grate the cheese, we slice some banana, just times then... two more of our friends were coming! They were Temon and Cornel. We tried to cook our product. Just to make sure, that it does turn into something delicious. I'm forget to tell you, that time, it was already 1 AM in an early day.. ha.. ha.. we jokes and laughed for some silly and random things we did =))) Since yah..uda jam goblok gitu kan jam jam segitu itu.

After everything has packed on, Temon and Cornel asked us to go outside, can you imagine that? we haven't sleep all day along, we should wake up before 3AM, so we supposed to quickly sleep. but we weren't! We went to Ciputra BUT it was soooo fuuun, to pass by an empty freeway in an early daay. The air's breeze was soooooooo relaxing. I even took my head outside the car's window. Slowly screaming..... and really got happy in a time. I-somehow- feel calm and warm being surrounded with my friends.

around 2.30AM i got sleepy and...finally fall asleep. I heard sometimes Cornel and Temon were so noisy =)) I thought they don't know which way to pass. And times then I slightly woke up and we're already at The new airport =)) What the.... ?? =)) I heard they asked to me and Icha, should we down and taking some photos or not. But they said, me and Icha answered no, please guys, kita kan ngelindur itu jawabnya =))) We even didn't realize it was rainy so hard that morning wkwkwk

Just then, Suddenly, it's nearly to 4AM, and we haven't arrived at Icak's home. We got panicked and called Mandol. and Tiara also called us. =)) Some complicated things happened then. Untiil tadaaa, we arrived at Darmo.

Some unlucky things happened to us at first. the stove wouldn't work. the floor was watery, etc. But times then, things got better and were under our control :3 we started to make our foods! packed this packed that. frying this frying that. grilled this and grilled that. even we got some hot-oil splashing! wuuuw So complete right? The hot menu last morning was..the grilled meatball! u guys should try sometimes, okey ? <3

                                     
afterrr tired selling things. Me and kordesian played the paper-boat. We made wishes and float them. And then we packed, and we went back. by the way, I was driving for Temon and Cornel because that two were so sleepppyyyyy, and i thought it's ok. I felt like a mommy picking for her sons that time haha. Arrived at Icak's home we did the dishes, counted the money (yeeeyyyy!) and had a super comfy sleep for 4hours!

And i went home. 

Though it was so tiring.....I'm - seriously - really enjoying it. Alhamdulillah, thanks Allah for giving me chance to experience things like this, May i could always be productive like this B-)

31.1.14

Kapan bisa berpikir lebih mahasiswa-is?

img source: google.com

Judul di atas dipersembahkan buat diri saya sendiri. Kapan bisa berpikir lebih mahasiswa-is?
Baru saja melanglang buana di beberapa blog, yang penulisnya adalah seorang mahasiswa. Cuman ada dua hal yang sering saya lakukan ketika membaca tulisan-tulisan mereka, 1. berdecak kagum 2. manggut-manggut. Intinya, tulisan mereka terlalu luar biasa, banyak benernya, dan yang paling penting mahasiswa banget. 

Tapi, sebelumnya, saya mau jelasin dulu, gimana sih definisi tulisan yang mahasiswa banget buat saya?
Yang pertama, menurut saya, mereka yang sudah mahasiswa-is sudah mampu mengangkat sebuah topik yang cangkupannya Nasional, disini mereka nggak mengangkat sesuatu yang individual. Mereka membahas permasalahan dalam cangkup negara. Entah dunia ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dll. Mereka mampu menyajikan data-data ataupun informasi yang berkaitan, yang bisa bikin pembaca, "Oh ternyata ada yang kayak gitu ya." Setelahnya, mereka mulai angkat bicara, mereka sampaikan argumen-argumen mereka, poin-poin dari tulisan mereka, gimana tanggepan mereka, gimana kritik mereka, dan gimana solusi dari mereka. Mostly, semua yang mereka sampaikan, itu dalem, maksudnya, "Wow." tapi endingnya mereka juga tetep bisa kasih suatu saran, solusi, atau ide penyelesaian yang konstruktif. 

Buat saya, ya harusnya gini ini, 'mahasiswa-is' Ngga cuman komentarin, nyerca, dan hal-hal sejenisnya terhadap sebuah permasalahan. Tapi juga harus bisa menyarankan solusi yang solutif. Apalagi, umur-umurnya mahasiswa ini kan, usia-usia muda yang 'they said' lagi berada dalam zona kreatif seorang manusia. Zona dimana kita suka menghayalkan hal-hal ekstrim, bahkan harusnya ini juga sebuah zona ketika kita bisa membuat nyata hal-hal ekstrim itu. Kok bisa? Ya, mahasiswa (apalagi yang sampe kuliah S2, S3) itu kan jenjang tertinggi dari sebuah pendidikan. Mulai PG, TK, SD, SMP, SMA, dan akhirnya kuliah. Kan sayang banget gitu harusnya, kalo sejauh itu kita bersekolah, ujung-ujungnya cuman orientasi uang? Dan ilmunya dibiarin menguap. Tapi, yah.. gabisa munafik sih. Tanpa uang, somehow, kita jadi kurang punya taring

Kenapa  perlu berpikir mahasiswa-is?

Firstly, karena emang status kita adalah seorang mahasiswa, jadi udah harfiahnya kita kudu berpikiran yang lebih mahasiswa-is. Kita calon pondasi-pondasi penegak bangsa kita selanjutnya, 20 atau 30 tahun lagi. Masa depan bangsa turun ke tangan kita. Kalo, pola pikir kita masih cuman, "besok ada peer ga ya".. kan juga gimana gitu kan..

Pingin, pingin banget bisa kayak mereka-mereka yang sudah kasih kontribusi nyata buat bumi pertiwi ini, dalam cakupan mereka sebagai mahasiswa. Okelah, 'tapi kan saya masih mahasiswa tahun I. Jadi, gapapalah, masih kayak gini..' Sering-sering banget saya mengagung-agungkan mereka, terinspirasi, namun pada akhirnya saya hanya  melakukan pembelaan diri seperti itu.

Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah kata bijak, seperti ini (dengan sedikit perubahan)

Seandainya, bila kata 'tapi' itu tidak ada
Bayangkan, ketika kata 'tapi' itu tidak ada dalam kamus kehidupan kita. Ketika kita melakukan kesalahan, kita tidak bisa mengelak, dengan kata 'tapi...tadi..' dan membuat beribu alasan, atau justru, mengambing hitamkan orang lain. 

Be someone a little braver.. 

Mulailah dengan, ketika kamu melakukan sebuah kesalahan, jangan katakan 'tapi..' dari kata itulah, dirimu memulai memaafkan dirimu dari kesalahan-kesalahan nya, dan akhirnya mengulangnya lagi di hari kedepan. Katakan, 'iya saya salah karena...saya..' 

Akui kekuranganmu. 
Supaya itu bisa menambahmu dengan hal yang lebih baik kedepannya


Memang saya punya kekurangan, saya kurang berani mengungkapkan pendapat secara langsung. Saya masih belajar, saya juga nggak tahu berapa lama waktu yang diperlukan sampai saya bisa menjadi seperti mereka yang sudah berkontribusi secara nyata. Melalui tulisan-tulisan ini dululah saya akan belajar untuk menjadi mahasiswa yang mahasiswa-is. 

Mengutip kata-kata yang diucapkan oleh salah satu pembicara, yang notabene dari kalangan dosen di universitas saya, dalam sebuah acara pembukaan welpar jurnalistik universitas saya beberapa bulan yang lalu.

"Ketika kamu belum berani berbicara. Tulislah saja apa itu yang ingin kamu katakan"

Sedikit namun begitu memotivasi. Saya sangat setuju dengan beliau. Setidaknya, kata-kata beliau mampu membangkitkan semangat orang-orang yang kurang berani berbicara seperti saya ini. Kontribusi bukan hanya tentang turun ke jalan, berorasi. Dengan hanya kita ingin tahu, disitulah kita sudah berkontribusi. Buat saya, words have power. Apalagi real action. Apapun medianya, berorasi, menulis, menyumbang, kampanye, dan sebagainya. Semoga, saya bisa lebih mahasiwa-is kedepannya.

Jadi ?
Akankah kita menjadi pemuda sebagai potensi negara ?
Atau pemuda sebagai sumber permasalahan sebuah negara ?
Kita sendiri yang tentukan.
Semoga kita bisa menjadi insan yang berguna.