Showing posts with label young generation. Show all posts
Showing posts with label young generation. Show all posts

4.7.18

Jalan-jalan ke Umbul Sidomukti!



Haloo para pembaca setia! 
Jadi weekend kemarin, aku bersama sebelas teman proyekku lainnya tamasya ke daerah Bandungan di Semarang. Yang belom pernah ke Bandungan, dia tuh daerah dataran tinggi dan dinginnya Semarang. Jadi kayak Batu sama Malang kitu coy suasananya. Adem!

Sebenernya ini dadakan sih, awalnya yang mau berangkat kesana si cowo-cowo. Terus, di Minggu pagi saat aku baru selesai ambil laundry, aku dipanggil buat nonton tipi (AADC) waktu lewat. Dan diajak lah (dengan berat hati keknya mereka tuh huakakaka) para ciwi-ciwi untuk ke Umbul Sidomukti, dengan satu syarat: Nggak boleh rewel! Soalnya mau nggembel, katanya.. 

Awalnya, dari 5 ciwi-ciwi, yang mau ikut adalah 3 biji. Namun akhirnya kelima dari kita ikut semua, HAHAHAHA dengan salah kostum! Katanya, kostum kita tuh kayak mau ngemall, mana gada yang bawa ganti pula, hahaha, soalnya di Umbul itu ada kolam renangnya gitu yekan.. Terus kita ahirnya balik ke kos lagi bawa perbekalan. Ini penampakan kita.. biar kalo mau foto-foto ada manis-manisnya gituloh maksudnya cuy.





Okey! Jadi perjalanan panjang ke Umbul dimulai jam 10 pagi dengan memesan grab untuk pergi ke terminal. (maklum bukan di kota gede cuy jadi rada ribet yahh). Kita pesen 2 mobil, karena total pesertanya kan 12 orang, sedangkan 1 grab cuman boleh diisi 6 orang. Biaya naik grab dr kos ke terminal kudus adalah Rp 22.000, karena lagi promo "AYOSMG", jd dpt potongan 6 ribu. Mayan kann! Habis itu, kita ngetem bus di pinggir jalan, tapi biasanya emang udah ada bus yang stand by di pinggir jalan itu. Paling nunggu 10 menit udah jalan busnya. Nah, biaya naik bus Kudus ke Terminal Terboyo Semarang ini, biaya nya Rp 10.000. Jaraknya ngga begitu jauh sih, kalo lagi ngga macet satu jam udh bisa sampe di Semarang. Kalo macet dan banjir bisa sampe 2-3 jam. Tapi karena sekarang jalan nya sudah diperbaiki, semoga ngga pernah nyampe 3 jam lagi kitu yah..




Sesampenya di Terboyo, kita langsung imbal naik Bus Trans Semarang. Dengan naik BRT yang cuman bayar Rp 3.500 ini, kita langsung bisa sampe ke titik terdekat ke Bandungan, yaitu kita turun di Ungaran nya! Ajib banget lah, kalo naeknya di terminal, insyaAllah bisa dapet duduk, jadi kalo tujuannya jauh, jangan khawatir yaa! Kalo kalian kepo sama penampakannya BRT, langsung cekidot di video di atas yahh! Bagus lah masih, karena masih baru dan dirawat jg yah. Harus dibanyakin lah transport umum yg kaya gini. Perjalanan dari Terboyo ke Ungaran kurang lebih hampir sejam juga. Dan Alhamdulillah perjalanan lancar & ga sumuk beb.. hehe!

Di Ungaran, kita turun di alun-alun Ungaran sembari istirahat makan dan shalat. Karena aku lagi gak bisa makan/minum, aku hemat uang karena cuman nabung beli jajan (siomay) buat jaga-jaga ajah. Dan di dekat alun-alun itu, ada masjid bagus, jadi enak deh. Setelah selesai ishoma, kita pesen grab buat ke Bandungan nya, karena masih lumayan jaoh dan agak masuk. Biaya ngegrab dari alun-alun Ungaran ke Umbul Sidomukti ini adalah Rp 55.000 untuk 6 orang. Murah lah menurutku.. Karena jalannya naik.. belum lagi kalau macet kayak aku kemarin. Kasihan Bapak grabnya, bisa gak balik modal kitu kan.. Jalan dari jalan utama ke Umbul nya lumayan masuk sih dan lewat jalanan permukiman gitu, jadi nggak seberapa besar ruasnya, tapi sudah di atur jalan masuk dan keluar nya sedemikian rupa, sehingga nggak sempit-sempitan banget, dan kalo provider kalian nggak yang "itu", udh gaada sinyal cuy.. wkwkwk. Perjalanan ke Umbul Sidomukti ini, menghabiskan waktu hampir 2 jam.. jadi kita sampe disana udah hampir jam 4 sore gitu. Sedangkan wisata utama di Umbul Sidomukti tutupnya jam setengah 6. Kalau mau main flying fox, sepeda angin, jam setengah 5 udah tutup. Jadi, kalau mau kesini, mending berangkat pagian! Kalo tiket masuknya sih cuman Rp 13.000 kalau mau main yang lain, nambah lagi biayanya paling mahal Rp 40.000 an.




Akhirnya, kita pulang dari Umbul Sidomukti pake grab lagi ba'da Magribh, dan jalan dari alun-alun ke Terboyo jam 20.00 dengan naik bus. Dan sampe di Kudus jam 23.00.. Overall, perjalanan yang menyenangkan sama temen2 proyek. Akhirnya pergi ke tempat selain mall, bioskop. Walaupun effortnya lumayan banget! Hahaha, the perks of living in a small city! Ngga punya kendaraan sendiri. Dinikmati aja! Okeyy, sampe jumpa di cerita selanjutnya! Stay tuned!

Salam hangat,
R.

12.6.16

Pentingnya parenting.

 

"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya"
Pernah dengar peribahasa di atas? Mungkin sebuah stigma yang sangat akrab di kalangan masyarakat Indonesia dan menurut saya kadang peribahasa tersebut justru menjadi sebuah labeling, semisal ketika ada sebuah anak melakukan tindakan A yang kebetulan orang tua si A pernah melakukan hal yang serupa, maka tak jarang masyarakat di sekitarnya akan mengeluarkan komentar sejenis peribahasa di atas. Padahal bisa jadi, tindakan kebetulan tersebut hanya satu dibanding seratus yang sama yang pernah dilakukan oleh si A dan orang tua si A.Memperbesar cakupan di poin pertama, ada lagi yang disebut dengan stereotype, atau dalam bahasa indonesia disebut stereotipe, merupakan sebuah bentuk penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Jadi, kalau pada kasus pertama, tingkah laku seseorang itu dianggap tidak jauh dari tindak laku orang tuanya, di yang kedua, masyarakat memberikan persepsi bahwa tindak laku seseorang itu tidak jauh dari perilaku orang-orang dalam kelas sosialnya. 

Dan menurut saya sendiri, dua persepsi di atas adalah semacam faktor internal-eksternal yang berpengaruh pada tingkah laku anak. Kenapa tidak keduanya termasuk ke dalam faktor eksternal? Karena apa yang nantinya akan ada di dalam (sisi internal) seorang anak atau seseorang adalah merupakan investasi dari apa yang sebenarnya orang tuanya berikan. Mengingat orang tua adalah relasi yang paling dekat dan harusnya pertama kali menyentuh dunia anaknya, kecuali dalam kasus lain, seperti anak yang dibuang, anak yang diasuh saudaranya karena orang tuanya sudah meninggal. Atau dalam kata lain, kita wakilkan 'keluarga' sebagai media madrasah pertama seorang anak, khususnya orang tuanya.

Kita tahu sendiri, setiap orang memiliki sifat ataupun karakteristik yang berbeda-beda. Dan disitulah, peran parenting sebenarnya ada. Menurut saya, peran pola parenting yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah sangat penting. Sebuah kepercayaan dari Allah untuk dapat menjadi orang tua bukanlah hal yang main-main. Ketika salah mendidik seorang anak maka bisa jadi ada satu penerus peradaban yang masa depannya terancam, karena bagaimanapun nasib atau takdir hidup seseorang kan Wallahu alam. Namun, disanalah tanggung jawab terbesar orang tua. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi pada anaknya di hari kelak, orang tua harus mampu membuat dan membimbing anak mereka supaya dapat menghadapi bermacam-macam keadaan dalam hidup.

Sangat disayangkan bila kesadaran akan tanggung jawab orang tua adalah besar ini tidak disadari oleh masyarakat, contohnya, ketika ada pasangan yang ingin memiliki keturunan, namun tidak belajar bagaimana kalau kelak anaknya lahir. Apa yang sudah dipersiapkan untuk mendidiknya nanti? Apa yang sudah disiapkan untuk membesarkannya nanti? Bagaimana biaya sekolahnya? Bagaimana metode untuk mengajarkan bahwa kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan? Bagaimana mengajaknya untuk mengerti pentingnya melaksanakan ibadah, mengerti norma, dan sopan santun? Dan hal-hal sejenisnya.

Lucu juga ya kenapa kok saya nulis ginian? Hehehe, terlalu visioner :P

Sebenarnya tulisan ini terilhami, karena di masjid rumah saya, banyak anak-anak kecil yang shalat tarawih disana, banyak juga ibu-ibu yang membawa putranya untuk shalat bersama. Kadang, saya tak sengaja melihat tingkah laku anak-anak kecil tersebut, atau diajak bicara sama ibu-ibu tadi. Serta, seiring berjalannya waktu, saya bisa mengamati sendiri bagaimana perbedaan perilaku yang orang tua saya beri antara kepada kakak saya, saya, dan adik saya, dan bagaimana hal tersebut memberi efek pada karakteristik kami yang berbeda-beda. Saya juga mengerti bagaimana usaha orang tua saya dalam membesarkan kami dan berupaya untuk mencukupi apa yang kami butuhkan. Itulah mengapa terbesit dalam benak saya, kelak kalau insyaAllah menjadi orang tua berarti ada amanah besar yang harus saya emban. 

Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda untuk dihadapi. Mungkin, dulu di generasi saya, alat elektronik bukanlah sesuatu yang trending, tidak seperti di generasi anak sekarang ini, dan tentu aja pengawasan dan cara mendidiknya akan berbeda pula. Tetapi, hal dasar yang patut diketahui dalam parenting adalah memberikan panutan dan lingkungan yang senantiasa positif bagi anak (bersahabat dengan mereka). Itulah kenapa peribahasa tersebut ada. Menurut saya, lebih tepatnya lagi, tidak selalu sifat orang tua menurun pada anaknya, tetapi apa yang orang tua pilih untuk ajarkan kepada anaknya. Sehingga, kalau mungkin orang tuanya kurang baik, bukanlah hal yang pasti, kalau anaknya menjadi kurang baik juga. Masih ada kesempatan untuk mencetak penerus yang lebih baik.

Bersyukurlah kita yang diberi kesempatan untuk berada di lingkungan terdidik, ditemukan dengan teman-teman yang baik, dan masih ditemani oleh orang tua. Manfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya diri, supaya generasi kedepan dapat menjadi generasi yang lebih baik. Open your eyes, guys. Insya Allah, mungkin 5-10 tahun lagi, kalianlah yang menjadi generasi "orang tua".

30.8.15

Random thought...

foto lama, masa-masa hectic cari perkuliahan


Saya ingat, sewaktu SMA, saya pernah berbincang-bincang dengan salah satu teman saya di tempat kursus bahasa Inggris.  Dan beliau, adalah seorang bapak dari dua anak. Kami berbincang bincang soal kuliah dan pekerjaan. Waktu itu, beliau bertanya pada saya “Rizka, kelas berapa sekarang? Habis ini kuliah ya berarti kan setelah SMA. Cari kuliah yang prospeknya bagus dan cari kerjanya gampang aja”. Wah, sudah diultimatum gitu, mau tidak mau tertarik juga untuk mencari tau, kira-kira apa aja sih studi yang punya prospek bagus gitu.

Setelah itu, saya mencoba berkonsultasi dengan orang tua saya masalah jurusan untuk kuliah nanti. Maklum, saya waktu itu masih awal di SMA, belum punya pandangan pasti mengenai jurusan yang ingin saya ambil untuk kuliah nanti. Bahkan seiring berjalannya waktu, keinginan saya selalu berubah-ubah. Dari yang awalnya keinginan saya semasa kecil, jadi arsitek, desainer interior, pengarang buku, sampai jadi insinyur, dokter anak, dan sebagainya. Akhirnya setelah bertanya ke orangtua saya, saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan perkuliahan. 

Saya jadi ingat, waktu itu saya bertanya kepada ayah saya “Yah, jurusan apa sih yang prospektif, buat dapat kerja”. Beliau menjawab “Wah, sebenarnya kerja itu ada dimana mana, ketika kita memikirkan orang lain, disitu ada lapangan kerja. Saat ini pandangan orang ketika melihat kerjaan itu kebanyakan dari berapa besar gajinya, padahal, seharusnya kerja itu kan ibadah, rezeki itu yang nanti datang sendiri, berapa jumlahnya ya terserah Allah memberinya ke kita”. Setelah mendapat pesan tersebut, saya mulai berfikir. Dengan pandangan seperti ini, rasanya peluang kerja terbuka lebar di depan mata.
Ayah dan mama saya sering berbicara pada saya, kalau sebagai seorang perempuan, pekerjaan yang paling baik adalah menjadi tenaga pengajar, karena saya sekarang di teknik, mungkin maksudnya sebagai dosen. Kata ayah dan mama, pengajar adalah pekerjaan yang mulia, karena disanalah ilmu kita tidak akan pernah mati. Kita belajar dan selanjutnya dibagikan untuk orang lain. Selain itu, jam kerja dosen adalah teratur, sehingga tidak akan menanggalkan tugas saya sebagai seorang perempuan / ibu nantinya untuk mengurus rumah tangga dan anak.

Yah, tidak ada yang salah sih memikirkan prospek kerja sebuah jurusan, toh dari jalur jalur itulah nanti kita akan berkarya. Namun, saya ingat kata-kata sepupu saya beberapa waktu lalu, ia bertanya pada saya “Kamu kuliah mau menuntut Ilmu atau kerja kaa? Pada dasarnya, yang kita kejar sewaktu kuliah itu ya Ilmu, bukan prospek kerja”. Kata-kata ini benar sekali. Ilmu itulah yang memanusiakan manusia, yang bisa memicu terjadinya mobilisasi antar individu (vertical effect). Saat ini, mencari Ilmu lah yang paling penting. Dan yakinlah kalau rezeki akan datang dari Allah dari manapun bidang yang kita tekuni, asal kita terus berusaha dan berdoa pada-Nya.

Jujur, sampai akhirnya saya duduk di tahun ke-3 sebagai mahasiswa, saya tidak pernah memilih studi saya ini karena prospek kerja nya, yang terpenting bagi saya kemarin adalah memang ini yang terbaik untuk saya, dan disinilah saya harus menuntut ilmu. Sudah semester 5, makin banyak pikiran yang mulai membebani, mulai dari biaya pendidikan yang melambung, kerja praktek setahun lagi, bahkan untuk memilih mata kuliah pilihan, saya belum ada pandangan pasti, apalagi judul TA. rasanya kemampuan masih belum mumpuni. tapi disinilah yang namanya belajar, dengan merasa bodoh harusnya semakin giat belajar dan mencari tahu.. 

Allahuma yassir wala tu' assir. :)

13.8.14

Be Ready for AEC 2015 !


During the holiday, I spent a lot of my time in home, so my routine to read the newspaper is also back. Most time while reading a newspaper, i only read the highlight, the article which's also provided with an image, or something that really catch my attention, because I think, something that colorless is just not quite interesting to read, haha.

But, last time, i found a good article. It was an opinion from the writer about the President's election- which is one of the candidate who lost the election, ask for repetition to Mahkamah Konstitusi Indonesia. In the last part of this article, which said something close to this (sorry, I could not find the newspaper),

"..instead of making fuss about comparisons of election results, which will be splurging money, time, effort again. It's better to receive the results and accept who is the chosen president now. Anyway, if we want to save or make Indonesia as the number one country, we must not be as a President, right? Thus a successful entrepreneur, or being clever students who win at international level, or being a citizen of Indonesia which have the same mindset to build a better Indonesia, can also help our Country being the number one. Now, there is a more important issues that heading ahead us. Indonesia's government better immediately prepare itself for ASEAN Community 2015, which is already right in sight. "

Right in that time, I said like, "NHAAHH NHAAHHH." I just can't not agree anymore. I've been spending a month in home and have my reading newspaper's routine back, but I hardly found any article which specially talk about AEC issue.. I think, Indonesian needs to know more about AEC 2015 because, when this gate of economic community finally opened, the wave of trade whether trade of goods/worker/etc will freely happening in our country.

In my opinion, AEC 2015 will  give a positive impacts if we all have been made a good preparation and fully ready to face it. Such as, our country has a good infrastructure and our country has a high quality human resources. So, as the participant we can take an advantage of it, and not being fooled/disadvantaged from this system. Imagine, when people from other ASEAN countries come to our country, then they do have a higher grade/ability than our citizens, so they're appreciated in our country, they become a leader, they opened many companies, they permanently run a business in here. It's a bad idea. We're only being a servant in our OWN country when we supposed to be THE KING here. And there's a BIG probability of that to be happened in this free economic community, if we all not well-prepared.

Don't you think, It is a serious matter, guys? For me, it's yes.

Sometimes, Indonesia's people are to concern with their internal issues- we keep criticizing about this and that, but we are not give and make any solution, and then we forget that there are another challenge of time that will keep coming toward us.. :)

We should  take more care about it, as a student, we can make a little preparation at least for ourself.
Such as;
  • keep improving our foreign language skill, 
  • make good grades in every subject, 
  • keep update to the latest issue that happens near us, 
  • have a wide social community, 
  • surround yourself with positive people,
  • etc.
Still curious about AEC 2015? Just Google it, guys! Do find more and more about it yah! And also spend your time to watch this video too, okey? :)

26.7.14

The Air of Freedom


Menurutku, menulis itu adalah udara bebas. Sebuah sarana mengekspresikan apa yang ada di diri kita. cerita masa lalu, angan-angan, isi hati, pengalaman, pemikiran, pendapat, hal yang menyenangkan, hal menyedihkan, apapun, apapun, kamu bisa menulisnya. 

Mengapa aku mengatakan begitu? Bagaimana dengan apabila kita menulis dengan kata-kata buruk, atau yang bisa menyakitkan orang lain, ato mungkin melanggar peraturan? Kembali lagi, itu sih terserah kepada si penulis kan. Kalo memang dia ingin menulis sesuatu yang blak-blak an, no sensor, dengan kata-kata kasar, ya nanti sang penulis lah yang akan menanggung akibat dari pilihannya itu kan.

Apapun yang hendak kita tulis, itu adalah kebebasan kita. Kita sebagai penulis. Dan menurutku itulah keasyikan dari menulis, you don't need anyone's approval, you just write what you want to write, you just write what you want to relieve, you just write what your heart's says. :)

Literally, ada satu hal lagi yang gak bisa dipisahkan dari menulis, ini juga merupakan salah satu kegiatan favoritku. Tahu kan apa? Yep, benar sekali- membaca. Secara nggak sadar, sehari-hari aku tidak pernah terlepas dari kegiatan ini. Dan aku yakin, kalian yang kehidupannya sudah berada di garis kelayakan, pasti juga mengalami hal yang sama denganku. Setiap hari, kalian pasti akan membaca sesuatu, misalnya, ketika kalian membuka akun sosial kalian, banyak hal yang sudah kita baca, mungkin ungkapan hati akun yang kita ikuti, mungkin fakta-fakta, mungkin update'an berita, ya kan? :) Akupun sama.

Sama seperti menulis, membaca juga merupakan sebuah udara kebebasan. Sebagai pembaca, kita bisa bebas memilih apa yang ingin kita baca. Kita males baca ini, sukanya baca topik yang itu. Kita gak suka tulisannya orang A, tapi ngefans berat sama tulisannya orang B. Kita nggak bisa baca tulisan yang pake bahasa ini, kita bisanya bahasa itu. As a reader, you hold your own choice for what you want to read. :)

Kadang sebagai pelajar, kita terlalu muluk berbicara tentang kebebasan. Kita mudah benci dengan peraturan lembaga tempat kita menempa ilmu, yang terlalu mengekang, terlalu memberatkan, terlalu akademis, terlalu padat jadwal, dan lain-lain. Akupun tidak menyalahkan pandangan itu, karena stigmaku pada sistem pendidikan yang sekarang pun juga tak jauh dari itu.

Tetapi, kapan hari, aku membuka sebuah link, yang berisi tentang lukisan yang diinterpretasikan oleh seorang pengamat lukisan. Akupun cukup takjub ketika membacanya. Mungkin, kalau misal aku melihat gambar-gambar itu tanpa adanya tulisan-tulisan tersebut, aku sangat yakin, pemikiranku tidak akan sampai kesitu. 
Dari gambar itu, timbul pertanyaan dari dalam diri.

Pendidikan. Harusnya mampu mencerdaskan peserta didiknya, memberi ladang kebebasan untuk mengekspresikan pemikiran, menguji kompetensi. Mampu berdiri diatas kakinya sendiri, sebagai individu, mengapa? Karena kita sudah berpendidikan, beredukasi.

Tetapi bagaimana fakta yang ada sekarang?

Konon, siswa ataupun mahasiswa sekarang, khususnya Indonesia, bukannya menjadi sosok yang independen, justru malah dicemari menjadi generasi yang suka mencontek, suka plagiat, suka bolos, suka membelot, bangga menjadi pelanggar, dan lain-lain. Menurutku, pendidikan kini- justru menjadi subjek yang membodohi objeknya. Sistem pendidikan kini lah yang mendorong objeknya menjadi memiliki mental-mental seperti itu. Karena, sistem yang ada sekarang, menanamkan, nilai lebih penting daripada pemahaman. Kejujuran tidak dihargai. Yang memiliki nilai, tanpa memedulikan bagaimana cara mendapatkannya, yang akan menang, daripada mereka yang memahami. Sungguh sangat disayangkan.

Apa sih yang aku ingin bilang disini?

Hmm lebih tepatnya, aku sekarang sedang mengajak kita semua, untuk bertanya, terlebih kedalam diri kita masing-masing. Harusnya pendidikan adalah yang membuat orang mampu berdiri diatas kakinya sendiri, lalu bebas, ingin melangkahkannya kemana. Bukan malah menjadi penekan kebebasan seseorang. Membatasi ruang fikir kita hanya pada sebatas ukuran nilai dan kertas-kertas ujian, tugas, laporan nilai, peraturan. Dan berujung, kita melakukan itu semua, karena keterpaksaan. Bukan kebutuhan.

Masih terpatri dibenakku ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tua, bapak, dan ibu guruku kala itu sering mengingatkan kami bahwa sebagai siswa, tugas utama kami adalah belajar. Dan kegiatan belajar ku dulu hanya dapat dipenuhi dengan kegiatan membaca ataupun menulis, karena Teknologi belum secanggih sekarang. Tapi, justru di waktu dulu lah aku menemukan nikmat menjadi pelajar. Ketika rasa ingin tahu, mencambuk sebagai rangsangan ingin menjadi seseorang yang rajin dan pandai. Aku belajar karena aku merasa butuh, aku ingin bisa membaca lebih, dan aku juga ingin menulis banyak hal darinya. Seperti itu.

Aku rasa, budaya itulah, yang kini sudah runtuh. Kita menyepelekan membaca dan menulis, kita sering melakukannya tanpa menghayati sisi utamanya. Aku punya contoh nyata, yang sering aku sebagai individu alamin,

"Kamu ga nyatet?"
"Enggak udah aku foto kok."
"Yaudah aku nanti nyalin ya."

"Kamu ga ndengerin?"
"Nggak, nanti aku baca di rumah aja"

Dan akhirnya jam pembelajaran pun menjadi tidak efektif. Dan yang ada, justru hanyalah rasa malas yang kian menumpuk.

Sekarang aku baru sadar, ketika aku merasa kebebasanku banyak terenggut dari pendidikan yang aku jalani, mungkin aku sendiri yang perlu melakukan instropeksi, karena sepertinya akulah yang sudah melalaikan beberapa hal.

Tenyata, selama ini aku sedang lupa, kalau aku sudah diberi kebebasan. 
Ya, kebebasan untuk membaca dan menulis.

Hal dasar selamanya akan selalu dipakai, berhubungan, dan seterusnya berguna. Sama seperti, penambahan, pengurangan, pembagian, perkalian dalam Matematika yang seterusnya akan terpakai ketika kita belajar Matematika. Sama seperti, a i u e o ba bi bu be bo dalam Bahasa Indonesia, yang seterusnya akan terpakai ketika kini pun kita berbicara ataupun membaca. Membaca dan menulis adalah hal dasar yang seterusnya harus kita pakai, kita hubungkan, dan kita gunakan dalam belajar, menempuh pendidikan, ataupun hidup kita seterusnya. Karena, hidup adalah sebuah pembelajaran, karena hidup adalah sebuah cerita yang kita tulis, lalu kita baca esoknya, supaya kita belajar menjadi lebih baik, terus dan terus seperti itu. Dari menulis, kita membagi 1001 hidup, dan dari membaca kita menghidupi 1001 kehidupan. Sungguh, hal yang sangat kaya, bukan?

Jadi, kalo kamu juga pernah lupa, semoga ini  mampu mengingatkanmu. :)

P.S: i found a very good article just couple weeks after i wrote this post. You must also read it peers. click here! :)