31.8.17

Agen Rahasia

2015-2016, yang 2014-2015 menyusul  ya 😀

Kemarin malam, aku buka instagram, beberapa saat sebelum tertidur. Hahaha, aku update sesuatu sih, terus dikomen sama temen-temenku yang sekarang lagi merantau di Jakarta. Kami dulu berada di kepengurusan yang sama selama dua tahun di bangku kuliah. Aku jarang bercerita tentang kegiatan yang satu ini, karena dulu pergerakan kita harus tersembunyi dan dibalik layar. Karena, sekarang kami sudah tidak bertugas, aku anggap aku bisa menceritakan tentang keluargaku yang satu ini ya 😆

Jadi, dulu semasa tahun kedua dan ketiga di kampus, aku merupakan bagian dari steering committee pengaderan di jurusan. Jumlah kami dulu berlima belas, dengan formasi yang diubah di tahun kedua ku berkegiatan disana. Hahaha, terlalu banyak kenangan dan kejadian mulai dari yang seneng-seneng, sedih-sedih, tegang, serius, santai, kocak, pahit, asem, manis, nano-nano dah yang sudah kita lalui.

Kaderisasi, itu adalah sesuatu yang "terlalu panas" buat dibahas saat itu. Jadi, dulu awal tahun kami bertugas, ITS lagi gencar-gencarnya melakukan patroli untuk menekan angka pengaderan yang dilakukan dalam jurusan. Mengingat, ada beberapa hal yang ga mengenakkan yang terjadi di dalam jurusan karena pengaderan. Dan sudah banyak orang tahu juga, pengaderan ITS itu agak strict karena kadang ngga mengenal waktu, sampai larut malam. Padahal, mahasiswa baru itu sedang di dalam masa transisi, mengenali lingkungan barunya, mengenali apa yang akan mereka hadapi di perkuliahan, dan menurut birokrasi, pengenalan dengan pengaderan yang sampai memakan banyak waktu, itu bukan yang seharusnya diterima oleh mereka. Jadi waktu itu, kayak ada "pakta" dimana elemen pengader harus tanda tangan diatas materai yang isinya adalah batesan pengaderan-pengaderan yang boleh dilakukan, contohnya adalah batasan waktu. Sudah lama nggak bahas ginian, udah lupa detail istilah-istilahnya, wkwk. Intinya, kalau kita nyemplung ke dunia "pengaderan", sama aja kita nyemplung ke zona perang dingin antara aktivis mahasiswa dengan birokrasinya. Namun, ini bukan rumus yang mutlak, karena beda pengurus birokrasi entah di tingkat institut, fakultas, ataupun jurusan tentu berbeda pula kebijakan-kebijakannya, dan penanganannya dalam menghadapi issue ini.

Dulu, hampir setiap hari dari pagi sampai malam (tengah malam, lebih tepatnya), aku habiskan waktuku di kampus, salah satunya untuk kegiatanku ini. Belum lagi, di tahun ketiga ku, aku aktif di himpunan dan kaderisasi, kadang sampai puyeng, dan ada ketimpangan, karena kadang aku lebih nyaman dengan teman-temanku di A daripada di B. Lebih suka mikirin tentang masalah A daripada masalah B. Nggak mesti sih, berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan keduanya.

Jadi seseorang yang pemikir, ternyata cukup cocok juga aku berkiprah di dunia ini. Kadang juga sebel sama mereka-mereka, apalagi kalo udah masuk tanggal-tanggal minggu akhir perkuliahan, udah mulai panik sama urusan akademis, padahal timeline pengaderan juga padat-padatnya dan penting-pentingnya adalah di bagian-bagian akhir juga. Emang, kadang kerasa sih, aku bukan termasuk SC yang berani buat speak up kayak para alpha male, tapi aku punya caraku sendiri. Aku lebih nyaman encourage adek-adekku secara ngobrol personal. Tukar pikiran dalam lingkup kecil, dan aku belajar banyak dari hal itu.

Teringat dalam suatu pembicaraan dengan senior mantan kahima ku, mas Taufan bilang, semoga apa yang kami kerjakan saat ini itu bisa menambah pahala dan timbangan amal kebaikan. Karena, kita nggak pernah tahu, bagian mana dari perkenalan kita dengan seseorang yang telah merubah seseorang itu. Entah, bagian sukses mana yang mereka akan capai di hari kedepan, bisa jadi, karena hal kecil yang sudah pernah kita bagi atau ajarkan ke mereka di saat perjumpaan itu. Mendidik, memang adalah sesuatu yang "ajaib".

Emang, sekarang, aku udah nggak sedeket itu sama adek-adek pendampinganku, mungkin aku emang kurang baik dalam bermanis-manis atau berbasa-basi, sama orang huhu. Tetapi, aku seneng lihat adek-adek sekarang sudah nyaman di bidangnya masing-masing. Ada yang jadi cakahima, wakahima, aktif di BEM, aktif di kegiatan ilmiah, bahkan masuk jadi tim PIMNAS dari jurusan, aktif jadi koor suporter, bisa menaikkan indeks prestasinya yang dulu sempat jatoh, jadi ketua UKM. Kalian hebat :) Maaf kalau aku masih banyak kurangnya dalam menyampaikan informasi-informasi.

Jadi kangen sama anak-anak SC yang gokil macem Saif dan Rio, huahaha. Maaf ya aku anaknya gak humoris sama sekali :)) Papi kirom, yang bijak, masih lancar juga komunikasi, wkwk biasanya sharing-sharing lamaran pekerjaan. Cornel, sang komtang-DPA. Mas Fajar, Kipli, yang own their own rules. Mas fuad yang paling diem diantara kami semua. Kangen sama azizah, bella, mbak dita (ibu kami semua), chelle, tias, mbak nana, dan KIKIK, yaampun temenku curhat dan pulang ke rumah kalo rapatnya kelewat malem. Dan yang lain belum disebutin. Terutama, buat adek-adek kyu semuanya yang sweetnya masyaAllah, ngasih kita kenang-kenangan di CD, kangen makan-makan bareng, baca doa mau rapat, kangen cerita pelatihan kita yang pertama wkwkwk. Well, too many memories, I guess.

Sukses buat semuanya! Semoga kita bisa segera ketemu lagi! Jangan lupa dateng wisudaku ya! 24 September 2017! Hahahah, wkwkwk!

R

29.8.17

Sesuatu yang Berharga

Sesuatu yang berharga, belum tentu berani kita perjuangkan. Padahal kita tahu, padahal kita paham, padahal kita menyadarinya. Tapi, belum tentu kita berani. Dan keberanian itu memang perlu dilatih, sebagaimana melatih kesabaran. Sampai suatu saat kita tidak lagi perlu berpikir berulang kali u/ memperjuangan yang berharga, yang ada di depan mata kita. Bukankah sudah terlalu sering kita melewatkannya? Melewatkan yang baik-baik, hanya karena kita terlalu takut untuk mengambil konsekuensinya. Hanya karena kita terlalu banyak berhitung, lupa jika ada hal-hal yang lebih memerlukan iman dibanding yang lain.


- Kurniawan Gunadi

3.8.17

Sign of The Time


Baiknya mulai dari mana ya? Ya, terlalu banyak cerita yang bisa diabadikan di sini sebenernya, cuman kekurangan waktu aja buat melakukannya.

Alhamdulillah, hari ini baru aja melakukan yudisium jurusan. Sebenernya belum benar-benar sebuah atribut kalau aku sudah lepas dari kehidupan kampus atau perkuliahan ya. Karena, prosesnya masih ada beberapa lagi, misalnya masih ada pembacaan kesimpulan akhir dari yudisium di jurusan, lalu yudisium institut setelah ini, lalu pengecekan draft ijazah, persiapan wisuda, mulai dari gladi resik, sampai akhirnya wisuda itu sendiri. Yang kira-kira masih membutuhkan waktu sampai 1,5 bulan lagi. Tetap, nggak lupa aku doakan, semoga urusan kita menuju kesana selalu dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT ya. Aamiin yaa Rabb. Mungkin juga, untuk teman-temanku dan teman-teman lainnya yang mungkin belum rezekinya di semester ini. Percayalah, selalu ada hikmah yang bisa diambil. Mungkin pada awalnya, lebih banyak nilai negatif yang terlihat, entah itu dari segi material, waktu, energi, dan lain-lainnya. Aku bisa membayangkan bagaimana bebannya bila berada di posisi itu. Maka, coba jadikan ini sebagai ladang evaluasi dan perbaikan diri. Karena, mungkin ada yang 'jalan hidup' coba ingatkan pada kita saat ini.. seperti itu.. tetap semangat yaa semua 😊

Tentu, perjalanan menjadi mahasiswa akhir meninggalkan jejak-jejak yang berbeda-beda buat masing-masing individu ya. Mungkin ada yang menganggapnya "ah biasa aja mah ngerjain kayak gini", mungkin ada juga yang sangat mengapresiasi diri dan lingkungan karena akhirnya bisa menyelesaikannya "Ya Allah Alhamdulillah tugas akhir ku selesai", "Ya Allah Alhamdulillah skripsiku selesai". 

Tapi aku percaya, seberapa kuatnya mental seseorang, pasti ada saat dimana rasa panik, khawatir kalau tenggat waktunya ngga cukup, jenuh karena berulang kali revisi sini situ, gelisah deg-degan ketika jadwal sidang mulai keluar namun progres pengerjaan masih jauh dari kata selesai...

Selalu ada keringat, air mata, dan perjuangan dalam bentuk lainnya di setiap lembar bukuku.. dan, oh sayang sekali, aku belum sempat memotonya ketika sudah terjilid 😂 Aku juga heran kenapa itu bisa terjadi... oke nanti akan ku cetakkan buku ke-3 untuk koleksi pribadiku wkwkwkwkw. Perjalanan penuh jatuh bangun selama hmm... kira-kira 20 minggu, sampai tiba lah hari persidanganku. Bingung juga, pelanggaran dalam bentuk dan pada pasal berapa yang sudah kuperbuat, sampai aku harus disidang huhu..

Dalam kata singkat, perjalanan penuh drama selama mengerjakan TA. Entah kenapa, pada masa-masa itu aku kerap kali menjadi pribadi yang sensitif. Kayak, fakta-fakta kecil di lingkunganku bisa sangat mempengaruhi mood. Kesusahan-kesusahan yang rasanya seringkali harus aku cari penyelesaiannya sendiri. Positifnya adalah, mental kita sangat ditempa untuk mandiri dan kuat dan tabah dan sabar dan qanaah dan khusnudzon terhadap setiap kerikil yang menghambat di depan kita, dalam bentuk apapun yah.. contohnya dosen pembimbing dengan segala karakter dan sifatnya, topik Tugas Akhir yang ternyata ruwet dan sedikit referensi, rasa-rasa malas dan jenuh yang terkadang datang menerpa tanpa permisi dan mengucap salam, permodelan yang "ada aja yang salah" habis betulin yang A, lalu jadilah B, teliti teliti eh nemu ada yang salah lagi, dibetulin lagi jadilah C, begituah seterusnya sampai akhirnya free space di local disk semakin menipis... lalu akhir-akhirnya bingung sendiri ini file yang mana yang udah paling bener........ hah!

Macem-macem lah kejadiannya.

Di penghujung cerita ini, aku panjatkan puji syukur yang sebesar-besarnya kepada ALLAH, yang mengizinkan semua proses ini  berhasil aku lewati ya. Alhamdulillah. Bagaimana ternyata permodelanku ternyata ada yang salah.. harus puter balik otak buat ngeubah lagi konfigurasi strukturnya. Yang mana sudah makan waktu 1,5 hari sendiri. Karena, cobaannya adalah, di saat teman-temanku bisa dapat hasil permodelan dalam hitungan 2 sampai 10 menit, bahkan kurang. Aku harus menunggu 1,15 jam lebih lama..

Kalang kabut? Tentu iya

Selama 3 hari ngerjain begadang, sampai badan itu rasanya dingin semua, karena sangking deg-degannya, takutnya. Lalu, aku selalu istighfar, "Ya Allah mana boleh aku setakut ini sama urusan duniawi".. Perlahan tapi pasti. atas izin-Nya aku dapat mempresentasikan hasil perhitunganku tepat sesuai jadwal yang aku dapat, dan tentu saja dengan beberapa revisi.. tepat 10 hari semua kewajiban terhadap dosen aku selesaikan. Baru aku mengurus prosedur-prosedur selanjutnya. Sampai akhirnya aku mendapatkan SKL, Alhamdulillah.

Sempat sedih waktu tau dapat jadwal sidang hari kedua. Tapi di hari ke-10 itu aku mengerti arti dari pepatah "ada hikmah dibalik semua cerita". Bukan tentang tebal-tipisnya buku yang berhasil kita buat, karena yang tebal bukan tentu yang lebih baik. Bukan tentang  cepat atau lamanya waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan, karena yang lebih lama tidak selalu lebih buruk. Namun, tentang bagaimana kita menikmati tiap prosesnya. Tentang, seberapa perubahan proses itu telah membuat diri kita lebih baik. Dan begitulah teman-teman, mengapa kita harus selalu mensyukuri jalan dari-Nya. Karena Dia, Allah yang Maha Mengetahui.

Lambat laun, kekhawatiran mulai berganti, dari yang semula takut akan hari pendaftaran TA, pengumpulan TA, sidang TA.. kini berubah menjadi, Kekhawatiran akan apa setelah lulus.. Kekhawatiran mencari kerja atau melanjutkan studi... itu terjawab, berganti lagi menjadi kekhawatiran mencari jodoh... itu terpenuhi, berganti lagi menjadi kekhawatiran mendapatkan keturunan.... begitu seterusnya.

The race of life.
Mungkin begitu yang aku mulai bayangkan apa yang akan ada setelah-setelah ini. Perlombaan-perlombaan yang entah mungkin mulanya ada dalam pribadi kita sendiri. Stigma, kalau masing-masing dari kita harus mengikuti fase-fase ekspetasi budaya yang ada.... padahal sebenernya juga ini hidup kita, pilihan kita, keputusan kita. Tidak ada yang menang dan kalah antara satu pribadi dengan pribadi yang lainnya. Karena, sejatinya perlombaan yang sebenarnya adalah perlombaan amal ibadah kita...

Chill, riz
Things will take place, where it belongs, sooner or later.
All you had to do is pray and do your best!

Night people!
R