Showing posts with label generasi muda. Show all posts
Showing posts with label generasi muda. Show all posts

10.1.17

What's next

Cerita ini harus diawali dengan kisah kilas balik sewaktu saya masih berumur 20 tahun. Saya memiliki teman kecil yang bernama yunita. Dan kami memiliki tanggal lahir yang tepat sama, yaitu 11 Juni 1995. Sehingga, kami sering menyebut diri kami sebagai "geng gemini" setiap kali kami melakukan perjalanan atau bermain bersama. Di penghujung umur 20 tahun kami, kami berbincang-bincang seperti biasa, lalu sampailah kami pada topik "kita habis ini akan berumur 21 tahun lho". Kami mulai menyadari bahwa umur 20 tahun bukanlah umur yang sedikit. Maka, kami merasa perlu untuk melakukan perubahan-perubahan dan membuat goals dalam perjalanan kami kedepannya.

Pada dasarnya, kami memang seringkali bertukar pikiran baik dari masalah paling sepele sampai yang paling berat sekalipun (tentang kegalauan perempuan timur pada umumnya) (lhah emangnya apaan?). Oke, jadi waktu itu pembicaraan dimulai dengan pertanyaan,

"Apa yang pengen kamu lakukan di umur 21 tahun?"

Pertanyaan yang cukup sederhana, namun juga lumayan membingungkan bagi orang yang kadang lebih suka menjalani hidup sesuai bagaimana jalannya, tipe yang let it flow gitu, tapi juga tetep punya ambisi, tapi juga nggak ambis-ambis amat. Beberapa hal mulai kami sebutkan. Dan dari kesemua itu, kami memiliki satu kesamaan, yaitu "ingin belajar menjadi lebih dewasa". Wkwkw poin tersebut memang masih  sangat general, karena parameter kedewasaan sungguh sangat abstrak bagi setiap orang. Lalu, kami mulai mendetailkan apa itu dewasa yang ingin kami capai di umur 21 tahun, salah satunya yaitu bisa mandiri secara finansial. Kalaupun tidak dalam bentuk yang "kami bisa membiayai hidup kami sendiri", setidaknya kami ingin belajar menjadi mandiri finansial yang "kami sudah tidak perlu minta uang saku lagi". Beberapa ide berbisnis mulai bermunculan saat itu, namun terhambat karena faktor ketidaktersediaan modal dan kurangnya keseriusan dalam menyusun rencana berbisnis hahah.  Sebenarnya, apa yang paling saya dapat ambil sebagai pelajaran, dalam perbincangan saya dengan yunita saat itu, jadi pada akhirnya kami membuat janji. Janji yang pertama adalah kami harus mencari pekerjaan sampingan yang setidaknya dapat membantu orang tua kami dengan tidak meminta uang saku lagi, dan yang kedua adalah kami harus mengikuti lomba KJI Busur. Dan di penghujung tahun 2016 ini, kami baru menyadari kalau kami sudah menepati janji kami. Kami telah mengirim proposal KJI Busur, walaupun hasilnya tidak sesuai harapan, but at least we tried, lalu yang selanjutnya, kini kami sudah mulai mencari penghasilan sendiri, ya mungkin ini  sudah cukup familiar di kalangan mahasiswa, yaitu kami menjadi guru les privat. 

Sedikit saya tahu, mencari rezeki bukanlah pekerjaan yang ringan, kadang godaan rasa malas itu seringkali datang, apalagi bila urusan kuliah juga sedang hectic-hectic nya, atau bila ada ajakan dari teman-teman untuk keluar bermain, dan yang paling kronis adalah ketika rasa penat sedang melanda.. sehingga baru melihat sampul buku pelajaran adik les aja, otak sudah berasap. Namun, rasa lelah yang datang selalu terasa terbayar ketika saya bertemu adik-adik yang merupakan teman belajar saya, dan sedikit mulai hilang seiring durasi mengajar saya terus berjalan.. Sebuah kepuasan tersendiri dapat membagi ilmu. Teringat ketika saya masih seumur mereka pasti saya juga merasakan bingung dalam menyelesaikan atau mempelajari hal-hal itu, dan kini saya entah bagaimana, alhamdulillah, rasanya dapat berpikir lebih "encer". Ketika saya belajar bersama Gita dan Tasya, saya merasa selangkah lebih dekat dengan mimpi saya, untuk menjadi dosen, ataupun untuk membuat sekolah. Maka, saya sangat bersyukur Allah mengantarkan saya pada kesempatan ini.. Hal yang ingin saya lakukan sejak dua tahun lalu namun terhalang karena sebulan setelah saya mengajar Vivo (murid pertama saya), saya sakit, sehingga mama tidak mengizinkan saya untuk meneruskan. Kemudian, setahun belakangan disibukkan dengan kegiatan non-akademik di kampus.

Saya sadar, seringkali saya menolak untuk keluar dari zona nyaman saya dan banyak kesempatan yang tidak saya coba ambil karena kekhawatiran akan "ketidak mampuan" ataupun "kegagalan". Maka, semoga di hari-hari berikutnya, saya dapat lebih berani untuk mencoba. Kisah hari ini terlalu kesana kemari ya, tetapi ini saya tulis supaya dapat menjadi pengingat dan wujud syukur di hari-hari kedepan.

R.

31.1.14

Kapan bisa berpikir lebih mahasiswa-is?

img source: google.com

Judul di atas dipersembahkan buat diri saya sendiri. Kapan bisa berpikir lebih mahasiswa-is?
Baru saja melanglang buana di beberapa blog, yang penulisnya adalah seorang mahasiswa. Cuman ada dua hal yang sering saya lakukan ketika membaca tulisan-tulisan mereka, 1. berdecak kagum 2. manggut-manggut. Intinya, tulisan mereka terlalu luar biasa, banyak benernya, dan yang paling penting mahasiswa banget. 

Tapi, sebelumnya, saya mau jelasin dulu, gimana sih definisi tulisan yang mahasiswa banget buat saya?
Yang pertama, menurut saya, mereka yang sudah mahasiswa-is sudah mampu mengangkat sebuah topik yang cangkupannya Nasional, disini mereka nggak mengangkat sesuatu yang individual. Mereka membahas permasalahan dalam cangkup negara. Entah dunia ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dll. Mereka mampu menyajikan data-data ataupun informasi yang berkaitan, yang bisa bikin pembaca, "Oh ternyata ada yang kayak gitu ya." Setelahnya, mereka mulai angkat bicara, mereka sampaikan argumen-argumen mereka, poin-poin dari tulisan mereka, gimana tanggepan mereka, gimana kritik mereka, dan gimana solusi dari mereka. Mostly, semua yang mereka sampaikan, itu dalem, maksudnya, "Wow." tapi endingnya mereka juga tetep bisa kasih suatu saran, solusi, atau ide penyelesaian yang konstruktif. 

Buat saya, ya harusnya gini ini, 'mahasiswa-is' Ngga cuman komentarin, nyerca, dan hal-hal sejenisnya terhadap sebuah permasalahan. Tapi juga harus bisa menyarankan solusi yang solutif. Apalagi, umur-umurnya mahasiswa ini kan, usia-usia muda yang 'they said' lagi berada dalam zona kreatif seorang manusia. Zona dimana kita suka menghayalkan hal-hal ekstrim, bahkan harusnya ini juga sebuah zona ketika kita bisa membuat nyata hal-hal ekstrim itu. Kok bisa? Ya, mahasiswa (apalagi yang sampe kuliah S2, S3) itu kan jenjang tertinggi dari sebuah pendidikan. Mulai PG, TK, SD, SMP, SMA, dan akhirnya kuliah. Kan sayang banget gitu harusnya, kalo sejauh itu kita bersekolah, ujung-ujungnya cuman orientasi uang? Dan ilmunya dibiarin menguap. Tapi, yah.. gabisa munafik sih. Tanpa uang, somehow, kita jadi kurang punya taring

Kenapa  perlu berpikir mahasiswa-is?

Firstly, karena emang status kita adalah seorang mahasiswa, jadi udah harfiahnya kita kudu berpikiran yang lebih mahasiswa-is. Kita calon pondasi-pondasi penegak bangsa kita selanjutnya, 20 atau 30 tahun lagi. Masa depan bangsa turun ke tangan kita. Kalo, pola pikir kita masih cuman, "besok ada peer ga ya".. kan juga gimana gitu kan..

Pingin, pingin banget bisa kayak mereka-mereka yang sudah kasih kontribusi nyata buat bumi pertiwi ini, dalam cakupan mereka sebagai mahasiswa. Okelah, 'tapi kan saya masih mahasiswa tahun I. Jadi, gapapalah, masih kayak gini..' Sering-sering banget saya mengagung-agungkan mereka, terinspirasi, namun pada akhirnya saya hanya  melakukan pembelaan diri seperti itu.

Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah kata bijak, seperti ini (dengan sedikit perubahan)

Seandainya, bila kata 'tapi' itu tidak ada
Bayangkan, ketika kata 'tapi' itu tidak ada dalam kamus kehidupan kita. Ketika kita melakukan kesalahan, kita tidak bisa mengelak, dengan kata 'tapi...tadi..' dan membuat beribu alasan, atau justru, mengambing hitamkan orang lain. 

Be someone a little braver.. 

Mulailah dengan, ketika kamu melakukan sebuah kesalahan, jangan katakan 'tapi..' dari kata itulah, dirimu memulai memaafkan dirimu dari kesalahan-kesalahan nya, dan akhirnya mengulangnya lagi di hari kedepan. Katakan, 'iya saya salah karena...saya..' 

Akui kekuranganmu. 
Supaya itu bisa menambahmu dengan hal yang lebih baik kedepannya


Memang saya punya kekurangan, saya kurang berani mengungkapkan pendapat secara langsung. Saya masih belajar, saya juga nggak tahu berapa lama waktu yang diperlukan sampai saya bisa menjadi seperti mereka yang sudah berkontribusi secara nyata. Melalui tulisan-tulisan ini dululah saya akan belajar untuk menjadi mahasiswa yang mahasiswa-is. 

Mengutip kata-kata yang diucapkan oleh salah satu pembicara, yang notabene dari kalangan dosen di universitas saya, dalam sebuah acara pembukaan welpar jurnalistik universitas saya beberapa bulan yang lalu.

"Ketika kamu belum berani berbicara. Tulislah saja apa itu yang ingin kamu katakan"

Sedikit namun begitu memotivasi. Saya sangat setuju dengan beliau. Setidaknya, kata-kata beliau mampu membangkitkan semangat orang-orang yang kurang berani berbicara seperti saya ini. Kontribusi bukan hanya tentang turun ke jalan, berorasi. Dengan hanya kita ingin tahu, disitulah kita sudah berkontribusi. Buat saya, words have power. Apalagi real action. Apapun medianya, berorasi, menulis, menyumbang, kampanye, dan sebagainya. Semoga, saya bisa lebih mahasiwa-is kedepannya.

Jadi ?
Akankah kita menjadi pemuda sebagai potensi negara ?
Atau pemuda sebagai sumber permasalahan sebuah negara ?
Kita sendiri yang tentukan.
Semoga kita bisa menjadi insan yang berguna.