31.8.12

Fai's Pride



Aku punya seorang teman, namanya Faida, biasanya, aku panggil dia seperti ini, "Fai.. Fai.." Ohya, dulu waktu pertama kali aku memanggilnya dengan panggilan Fai, dia menertawaiku, jujur saja, aku bingung kenapa dia ketawa, kan namanya memang Fai, apa yang salah? Lalu dia bercerita, kalo ini pertama kalinya dia mendengar seseorang memanggilnya dengan Fai, dan baginya- itu sangat aneh. Akhirnya, aku bilang padanya,  kalau begitu hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu. Dan tanpa dia harus menjawab, aku sudah tau, kalo dia setuju, karena- semenjak hari itu, dia sama sekali tidak pernah mengeluh jika aku memanggilnya dengan sebutan yang baginya- aneh itu.

Fai sering cerita padaku, kalo dia senang sekali memanjat pagar-pagar yang mengitari sebuah pekarangan dengan rumput-rumput tinggi, di dekat rumahnya. Katanya, kalo dia sudah berhasil memanjat pagar-pagar itu, dan duduk sejenak diatasnya, rasanya seperti dia dapat meraih langit saat itu juga. Katanya, kalo Fai sudah menggapai langit, berati dia sudah bisa menggapai mimpi-mimpinya juga saat itu. Karena- Fai sudah menggantungkan mimpinya setinggi langit. Katanya, kalo dia sudah mencapai pagar tertinggi, kaki dan penyakit asmanya takkan mampu menghalanginya lagi untuk menggenggam mimpi-mimpinya.

Hmm.. Aku jadi suka membandingkan diriku dengan Fai. Bagiku Fai sangat hebat. Fisikku sudah lebih baik dari Fai, tapi kenapa motivasiku masih sedangkal ini ya?
Hari ini, aku rindu, kata-kata semangat yang keluar dengan serak dari mulut Fai. Hari ini, aku rindu, bagaimana aku mengamati tangan besar dengan jari-jari panjang yang begitu lentik milik Fai. Biasanya, kalau dia sudah diatas pagar, dia akan mengangkat tangan indahnya keatas. Lalu mengepalkannya, seakan- langit itu kini sudah digenggamannya.

Sekarang.. Fai sudah pergi. Fai sudah pindah ke tempat lain. Meski sekarang sudah setahun semenjak kepergian Fai, aku masih tidak tahu kemana sebenarnya dia pergi. Terakir kali kami bertemu, dia berkata kapanpun aku ingin bercerita, aku harus langsung bercerita, meski dia tak disini, dia pasti akan mendengarkannya dengan baik. Karena itu, aku masih percaya, kalau Fai pasti akan kembali kesini, suatu hari nanti. 

Kalo hari itu datang, Fai pasti sudah beneran menggenggam semua mimpinya. Jadi, aku juga harus sudah seperti dia. Makanya, kali ini, aku tidak akan mencari-cerinya dulu, nanti kalo mimpiku sudah kugenggam, Fai juga pasti akan datang. Sekarang, satu hal yang aku yakini, Fai pasti sedang pergi mengejar mimpinya. 

Fai... Hari ini, aku sedang duduk manis, di atas pagar kebanggaanmu lho...
Fai... Kamu masih mau mendengar cerita-ceritaku kan...?

21.8.12

Happy Eid Mubarok!


Hari ini, temanku, matahari memancarkan sinar terindahnya. Hari ini, temanku, tanah, sedang dirundung rasa tak sabar mendengar derap-derap gemuruh langkah yang akan melewatinya. Hari ini, temanku air, memutuskan untuk mengalirkan pancaran-pancaran air terjenihnya ke setiap saluran air yang bisa dia lewati. Hari ini juga, temanku, angin, mengatakan kepada kami kalau hari ini dia akan mentraktir kita semua dengan hembusan-hembusan udara oksigen segarnya ke seluruh penjuru bola biru ini. Dan hari ini, aku, awan, dengan bahagianya melihat tingkah laku yang akur dari para teman-temanku. Tidak ada tanah yang mengering, tidak ada sinar UV yang terlalu menyengat, tidak ada angin yang menimbulkan kekacauan, tidak ada air yang meluap-luap, hari ini kami begitu akur, damai, aku sangat suka hari ini. Karena tak mau kalah, aku, awan, tidak akan berusaha bereaksi dengan air-air yang berada di permukaan. Hari ini aku akan menggantung tenang di atap-atap bola biru ini. Hari ini, aku akan diam mengamati teman-temanku yang nampak bahagia. Hari ini, aku hanya akan diam sembari membiarkan pancaran-pancaran sinar UV menembus sekujur tubuhku dulu, sehingga mereka tidak akan mendapatka pancaran sinar yang luar biasa. Hari ini, aku akan diam mengganttung melihat segala kesibukan mereka, aku akan diam, mendengarkan setiap lantunan pujian kepada Penciptaku. Ya, aku hanya akan diam menggantung disini...

Andai saja, hari ini, aku bisa mengeluarkan suara...
Aku hanya ingin mengatakan kepada mereka semua, permintaan maafku. Hari ini.. Andai saja, jarakku tidak harus sejauh ini dengan mereka, aku ingin membisikkan kata-kata penyesalan atas hal-hal yang mungkin pernah kulakukan, dan  melukai perasaan mereka..
Walau jarak dan waktu terpaut begitu jauh, Siapapun yang hatinya pernah tersakiti karena perbuatanku baik mungkin itu aku sengaja maupun tidak sengaja, aku minta maaf...
Hari ini... Semuanya, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H yaa!!^^

18.8.12

That something


Something that most you want to see, yet it scared you. Something that make you feel being home, yet make you feeling insecure. Something that make you smiling just to think about it, yet making you sad and realize that those pieces already gone. Something that fulling up your day, yet making you so empty in another time. Something that you want to keep holding on, yet you know that it won't stay anymore. It's just.. something, that you're madly in love with.

14.8.12

Silly pieces


Pagi itu, langit Surabaya tampak cerah. Hari itu, aku harus datang ke sekolah untuk suatu keperluan. Setelah beberapa jam, aku merasa bosan, dan teman-temanku mulai berpencar untuk mengerjakan tugas yang lain, sebagian lagi memilih untuk bercengkerama satu sama lain. Lalu mataku menangkap sosok sepeda yang terparkir indah di tepi lapangan, akhirnya aku berjalan ke arah sepeda itu, mencari pemiliknya. Ternyata, sepeda mini itu milik seorang petugas sekolah. Akhirnya, aku pinjam sepeda itu. Dan aku buat bermain bergantian dengan beberapa temanku juga.

Setelah beberapa saat puas berputar-putar di lapangan sekolah. Seorang temanku yang baru tiba, mengajakku untuk menemaninya makan. Akupun menyanggupi dan kita makan di tempat depan sekolah kita. Kita bergoncengan dengan sepeda mini milik pak petugas sekolah itu tadi. Dengan perasaan was-was akhirnya kita bisa menyeberangi jalan besar yang ada di depan sekolah dan sampailah di tempat tujuan. Aye.

Temankupun memesan makanan dan aku masih duduk diatas sepeda mini. Berencana untuk kembali ke dalam sekolah, khawatir kalau pak Petugas akan menunggu sepedanya kembali, namun aku terlalu takut untuk menyeberangi jalan besar itu (-_-)

Tiba-tiba, beberapa pengendara motor memarkirkan dirinya disebelah tempat penjual makanan, hiruk pikuk mulai terdengar. "Ah..! Ternyata mereka..." batinku. Kedatangan mereka, membuatku semakin ingin kembali ke sekolah, ya mereka selalu bisa membuatku takut tanpa alasan yang jelas, apalagi yang satu itu hehehehe. Awalnya, aku sangat tidak menyangka sekali, kalau mereka hari ini juga datang ke sekolah, dari pakaian yang mereka kenakan, aku tau, mereka baru saja berlatih untuk pertandingan besok.

Salah satu dari mereka, berjalan ke arah tempat duduk- yang mana tempat itu dekat dengan tempatku dan sepeda mini pak petugas berpijak. Akhirnya- kuberanikan diri berbicara lebih dulu, aku bertanya, apakah dari mereka ada yang berani mengantarku menyebrang? -- Ternyata, ndak ada yang mau. Boro-boro mau nyebrangin.. Salah satu dari mereka malah.. hmm entahlah, ini mengece apa memuji ya? Yang jelas si salah satu itu bilang "Naik itu lho, baru mbois.." katanya kepada temannya sambil mengacungkan jari ke sepeda mini. Temannya yang berdiri disampingnya hanya tersenyum. Dan aku bingung mau jawab apa, aku masih mencerna kata-katanya dengan baik, mencoba mengartikan, masih bingung menggolongkan kata-kata itu- ke dalam pujian atau sindiran secara halus? Hahaha. 

Akhirnya, dari setengah jalan besar tadi, aku melihat bapak petugas sekolah yang lain, sedang menyebrang, aku memanggilnya putus asa. Tapi akhirnya bapaknya menoleh dan mengayun-ayunkan tangannya ke arahku. Setelah meminta izin kepada temanku, akupun memberanikan diri mengayuh sepeda ke arahnya. Dan akupun berhasil sampai diseberang jalan, tanpa menoleh ke belakang..

Ah! Kalo kamu bisa bangun pagi, 
harusnya kamu sudah sama mboisnya kayak aku :p

Selamat Ulang Tahun, Ayah

Love you,dad..

Beneath the moonlight


"Bulan...apa iya, angin bisa nyampai'in pesan-pesanku ke dia?" tanyaku asal kepada bulan yang sedang tergantung indah di langit. Sudah berapa kali ya aku lontarkan pertanyaan itu ke Bulan? Tapi jawaban bulan selalu sama, sampai-sampai aku bosan.

Malam ini, seperti biasa- bulan menggantung indah di langit. Ya, aku sangat menyukai malam, karena saat malam, aku baru bisa melihat bulan. Bagiku, bulan sama seperti aku. Makanya, aku sangat suka sama bulan. Bulan itu- ringkih dan begitu membutuhkan orang lain. Tanpa orang lain, dia tidak akan bisa menampakkan keindahannya.

Malam ini, seperti biasa- aku hanya bisa bertanya asal ke bulan, tentangnya. Aku tatap bulan, lambat laun, bayangan bulan memudar, mengeluarkan asap putih.. Lalu, perlahan-lahan datang dan berkumpul kabut putih ke bagian tengah tempat awal si Bulan, namun kali ini bentuknya berubah... Perlahan... Kabut-kabut itu membentuk garis wajahnya... Tegas dan sangat tampan. Wajah yang selalu aku kagumi dari kejauhan. Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu datang, ya inilah bagian favoritku dari memandangi bulan. "Hehehehe sekarang bulannya kalah indah" gumamku.

Ya, malam ini seperti biasanya. Ya begini. Perlahan, kantuk mulai datang, memberatkan kepalaku. "Hoam..."  kataku sambil menutupkan tanganku ke mulut.
Hmm.. Kira-kira.. Dia sudah mendapat pesanku dari angin belum ya? Ah, mungkin kalau besok aku bertemu dia, aku harus tanyakan padanya. Ya.. kalau aku berani sih. Perlahan, garis-garis wajahnya memudar, bergabung dengan kabut putih, lalu mulai tampak.. Hamparan rumput hijau segar.. London... Eiffel..

13.8.12

Fana



Orang bilang, kalau aku menutup kedua mataku, lalu menghirup udara segar, membiarkan mereka masuk menyapa paru-paruku- beban hidupku akan sedikit menghilang? Dari kata-kata itu, bolehkan kalau aku bilang mereka itu pembohong? Sudah berapa kali aku melakukan hal itu hari ini. Namun semua beban hidup masih banyak menggantung dalam kamus hidupku. Memberatkan setiap langkahku, memperbanyak peluh-peluh keringat diatas dahiku, menghalangi angin-angin yang hendak menerpa halus rambutku.. 

Sampai detik ini, aku masih tidak bisa mengerti, bagaimana mereka bisa menyimpulkan hal-hal seperti itu. Benar-benar tidak bisa masuk di akal.

Setelah beberapa saat aku mengistirahatkan tulang-tulangku, aku memutuskan menghenyakkan langkah, melanjutkan perjalananku menempuh kehidupanku yang sebentar lagi akan berkurang satu hari. "Haaah..." ucapku malas sembari menggerak-gerakkan pergelangan kaki dan tanganku perlahan.

Tak terasa, perjalananku sudah tinggal setengah jauhnya. Semangatku menambah, tak sabar rasanya aku ingin sampai di tempat tujuan. Bau-bau yang selalu datang dalam dunia imajinasiku terasa semakin kuat menggetarkan semua saraf-saraf motorikku, membuat mereka mengirimkan gelombang-gelombang energi ke setiap anggota gerak dalam tubuhku. Mungkin, kalau dibuat grafik, kini pergerakanku sedang mengalami percepatan.

Aku masih tidak tau, sebenarnya bau apakah itu yang selalu aku tunggu-tunggu? Rasa penasaranku lah yang membuatku ingin terus berjalan, dan mencari tahu bau apa itu. Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan Oksigen yang telah Ia berikan padaku secara cuma-cuma. Makanya aku akan terus berjalan sampai aku tau. Kini, jaraknya sudah tidak jauh lagi. Hmmm, rasa lelahku akan segera terbayar.

"Braak... Auwwwwwww."
Badanku terhuyung. Hamparan aspal kusapa dengan ramahnya. Kini ku terduduk diatas mereka. Tak sadar selama ini aku berjalan dengan jutan mili darah segar yang mengucur. Astaga. "Apa yang harus kulakukan?" batinku. Perjalananku kurang setengah lagi. Pikiranku semakin kacau. Aku baru ingat, alas kakiku sudah tertinggal jauh dibelakang. Rasanya seperti sedang duduk diatas genangan air. Aku tatap jalanan didepanku, bayangan kotak bersinar-sinar jauh didepan sana. Pandanganku semakin buram. Berjuta-juta kata bagaimana mengitari kepalaku, menggema-gema, memukul-mukul setiap sudut tengkorakku. Haruskah aku berhenti? 

Isn't it getting more selfish?


Bulan Ramadhan sudah memasuki 10hari yang terakhir. Masjid-masjid dan tempat beribadah sudah mulai ramai dikunjungin lagi oleh para muslimin dan muslimah yang sedang mencari dan mengejar pahala dari Allah SWT, yang konon katanya paling gencar diberikan pada hari-hari terakhir ini. Namun disisi lain, tak hanya tempat beribadah yang ramai dikunjungi oleh lautan manusia, toko-toko, mall besar pun juga tak mau kalah ramainya. Memang tak ada yang salah, hal-hal itu manusiawi, dan setiap manusia berhak dan memiliki masing-masing pilihannya. Dan itulah pilihan mereka.

Beberapa hari terakhir, ketika aku datang ke masjid depan rumahku, aku selalu menemukan pemandangan dimana, barisan mukmin laki-laki hanya ada 3 baris. Jauh sekali dari keadaan tahun lalu. Lantas aku berpikir,  "Maklumlah, barisannya hanya ada tiga, mungkin mereka sedang sibuk melakukan sesuatu." 

Akhir-akhir ini, dimataku, dunia telah menjadi terlalu keras dan tidak mengenal waktu. Menggiring manusia menjadi terlena dengan urusan duniawi. Dunia telah menjadi begitu egois, tidak menyisakan waktu untuk kepentingan akhirat. Dunia membebani banyak hal kepada kita untuk diselesaikan. Dunialah yang membuat kita meninggalkan rumah Allah di hari yang penuh ampunan ini.

Seringkali aku merasa begitu lelah. Banyak hal yang harus aku selesaikan di sela-sela perintah agama untuk beribadah. Ingin rasanya aku bisa sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada-Nya, tapi tugas-tugas membuatku mengurangi durasinya. Yha, memang tidak bisa disalahkan dan dijadikan alasan. Karena, memang agama juga-lah yang menyuru kita untuk terus menerus mengejar dan memperkaya diri dengan pengetahuan.

Namun, tidak bisakah kehidupan Dunia menjadi adil? Sisakan waktu kami untuk dapat beribadah kepada-Nya. Bertoleransilah kepada kami yang ingin menyembah kepada-Nya? Mengapa kau selalu membuat kami bingung, namun pada akhirnya, tetap kamulah yang kami pilih? Tidak bisakah kau membiarkan kami mengutamakan kepentingan-kepentingan akhirat diatas kepentinganmu? 

Dunia.. Akhirat... Mana yang harus aku utamakan? Mana yang harus aku pilih? Disisi lain, aku tidak ingin tugas-tugasku di dunia terbengkalai, disisi lain, aku tidak ingin terus-menerus menomer duakan kepentingan akhirat. Disisi lain, beban hidup semakin banyak namun waktu yang tersedia tetap hanya 24 jam? Lalu bagaimana aku bisa menjadi arif, ketika kepentingan dunia sudah amat banyak menyita waktuku?

Ya Rabb, Berikanlah aku kemudahan, kekuatan, kelancaran, ketepatan, petunjuk, dan bantuan-Mu dalam mengerjakan tugas-tugasku ya? Senantiasalah tuntun aku di jalan kebenaran, ya Rabb aku mohon ampun  atas dosa-dosa kami. Allahuma amin.

12.8.12

=YELLOW=


                                                                                                                                                                 
               Next time, i'll finish it. (s)

8.8.12

Light in your eyes

“There’s light in your eyes and I’ll always be hoping
that it shines on me."
-Tyler Knott Gregson-