23.7.21

Goodluck with life


Look at the way things happened to me just make me think.. It's such a shame how people see things just for money. I mean, really, Haven't you all felt the same way? People are dying just for money, success is money and relate to happiness. but really, is it all that it is?

I have to acknowledge lately. Happiness is not always about money, money doesn't  always represent the happiness tho. Rich people, poor people, they're all the same. Not all poor people are suffering, instead of happy being enough. And not all rich people are lucky, sometimes when they have too much money, they will use it to buy expensive things, and yes they'll look fancy, but when they can buy everything, then what? is it useful? no. Someday we will die anyway. what's the point of having too much money if those money wouldn't be for good deeds or for benefaction to other people?

I mean, if your money just drills for your own good, you will stuck at some point. But if your money goes on for others, that kind of happiness will be everlasting.

Because all that matters is yourself. You can feel happy being with the right people around you, or when you help people, or maybe that feel of being enough and just don't need any excessive things to complete you. Money comes and goes, but happiness doesn't. Sometimes you might feel that your previous happiness has gone, but actually it hasn't, your previous happiness has just stored itself back down in your memory. So happiness never goes away.

If you're feeling miserable just because you don't have money, think about it. Money is just one of a billion trillion keys out there that could open up a door to happiness. it's not always money that could give you happiness.

1.3.21

Perjalanan menemukan jawaban

Lagi jenuh banget sama kerjaan rasanya pengen escape mulu, udah 8 bulan berkutat sama kerjaan ini tapi progress nya tuh kayak maju-mundur-balik ke awal lagi-kirain udah selese-atau approve-eh revisi lagi dan.. ya begitulah berasa gabisa keluar dari labirin. Tiba-tiba ada temen kantor, random banget, ketemu aku bilang "eh kayaknya kamu perlu baca buku ini" random banget gaksih? karena bukan yang temen deket yang aku ceritain aku punya masalah hidup apa.. lalu siang ini bukunya udh menggelepak di depan mataku, dan sekali baca langsung udah nyampek halaman 60.. karena lagi relate aja sama pertanyaan yang sedang mengiang-mengiang di kepala.. 

Ada lagi nih cerita lain, akhir-akhir ini, entah mengapa, jam berapapun aku tidur, mo cepet mo telat, jam 3.44 aku selalu kebangun. Jujur, sering banget tak abaikan, lalu aku tidur lagi, karena aku mikirnya, aku takut ngantuk waktu jam kerja? karena aku tipe yang kalo udh melek susah tidur lagi, sedangkan kadang aku tdr baru jam 12.. atau 12 keatas, jarang banget sebelum jam 12. Jadi kayak kasian aja sm diri sendiri, berasa kurang istirahat... Hingga suatu hari, salah satu temen update di IGstory, intinya cerita "Tanda-tanda ketika Tuhan merindukan hamba-Nya".. salah satunya kejadian yg aku alamin. Singkat kata, Tuhan tuh ingin aku bangun sholat tahajud, cerita sama Dia kekhawatiranku, minta ke Dia apa yang aku pengen. 

Kadang sering ngerasa banget, Tuhan emang sedekat itu ya? Apa yang aku ingin tau jawabannya, kdg secepet dan sejelas itu dijawab sm Allah. Tapi ada juga yang aku bingung hrs doa dan ngapain lagi supaya jawabannya segera dijawab dengan sejelas-jelas dan secepat-cepatnya, sampe yg udh se-hopeless- itu hingga akhrnya aku berenti menyebutnya scr detail dan lengkap dalam doa, cuma kukasih deadline hahaha

Oghey, kembali ke paragraf 1. Ternyata menurutku buku ini menarik banget dan menyuguhkan beberapa jawaban yg sedang aku cari. Yang ibaratnya membuatku tersadar atas beberapa hal mengapa segala pencarian akan keberadaan 'muara' ini sangat complicated... Jadi gimana ya, sbnrnya aku ga picky karena who am I to be picky? Jelas aku gak sedang milih-milih, karena aku bukan yang tipe nanggepin banyak orang terus nanti aku ambil satu pemenangnya. tapi, aku tipe yang aku tau apa yang aku mau, aku tau apa yang aku cari, tapi aku nggak nyari? HAHAHAHAHAHAHA apasih kok bego.

13.2.21

The basic question?


Sometimes I wish I could turn back the time, restart it to some moments in my life and did it the way I wanted it to be. But, well, no one can't master the time. It's just that.. a thing that we can't take back even for a second. Also, a thing that we can't take for granted even for the next second.

This one is gonna be the talk about love, probably. My hidden thought about it.

If I could be honest, there were many times I wish I could turn back the time and start it over with someone. Either someone that I ended up being with or someone that I wish I am being with. Sound similar but the second was more like a tragedy.

Speaking about relationship. There were many relationship (in many forms) that I wish wasn't like what it ended it to be. Sometimes, I could take a good care about my feeling toward other people (boys or girls), but the other subject didn't take it the same way I do. And that's, well, so feeling-consuming ya. People are so greedy, who aren't? When it talks about themselves, they always take it first.

If they give, they wanted us to give it back, the same amount. But wait, doesn't giving something when the other people doesn't even ask about it, should be followed with sincerity? Well, at least, you have to try.

As time goes by, I learned that, I can only control what's in me and anything outside of it should be other people's right and I shouldn't be offended with whatever it is. If I mean to give, I will not hoping they will giving back. And If I wanted them to give me back, then I better not give anything. I have so much improvement in making my self to be a careless person. I only mind about what's important and matters to me. If I want, I will say yes. If not, I will say no. At least, I will let you know what I feel about it.

When I say, one I wish I ended with, is something that has never been happened to me. Who to blame? None, but my self. I am not a fighter, I am a giver. I try so hard to show my feeling (every time I have one, but if the other party didn't take it back, I'd be- well- go and eat all the feelings my self).

So, it's like such a clichΓ© for me.. There are things I wish didn't happen and happened. But, I keep tend to take what is certain rather than seeking what I naturally interested just because I didn't have the gut to step out from my boundaries.

So, in this quarter terms of my life.. I probably still stuck in that problematic state of mind. Confused between the thought of "If it meant for me, It will come to me" and "Go seek what's important to you". But life always slapped me in the face.. when I go pursue it, it always ended not what I wanted it to be. In reverse, when I let the universe works for me, the end always become the unexpected. 

That's why I keep saying that I would take as much as it needed to think what's it that I'm looking for, what I need, what I want, where I want to go.. I won't rush thing off for the sake of releasing the social pressure. I believe, when I've done finish to acknowledge the basic question there will lies my answers.

Sincerely,

R

28.8.20

Work Out πŸ’ͺ


Ceileeh

Judulnya kok kayak meyakinkan gitu wkwkwkwk! Yaap, sesuai kataku aku bakal kasih updet tentang perkembangan, terancamnya nasib yoga mat yang mubadzir. hehehe alhamdulillah beneran enggak mubadzir kok. Dia akhirnya sudah kupakai. 

Dan, guuuyssss, aku berasa happy 😭

Sesungguhnya, aku bukan tipe orang yang gak suka olahraga gitu. cuma aku  mager aja. aku 6 tahun ikut ekstrakurikuler drumband. dari SD, SMA, kuliah masih suka main volly juga (meski gak pro juga sih sampe sekarang). tapi aku terbiasa sama latihan fisik gitu. Sampe kemarin waktu pelatihan ditanya sama komandan kompi ku aku atlet apa bukan, soalnya udah abis jalan cepet banget eh udah selese di jalan tanjakan masih kuat lari wkwkwk (padahal gr gr takut ae LOL).

Ohya, btw, aku mulai workout di kosan, kebanyakan nyari workout routine dari channel youtube nya Chloe Ting. Dan menurutku, buat beginner itu enggak berat kok. Seriusan, aku waktu pertama kali coba nggak kerasa eh tiba-tiba udah selese aja course-nya. Tapi kalo pertama kali coba, jangan lupa cari gerakan pemanasan nya dulu yah guys. Karena aku gitu, main tancep gas aja, eh akhirnya njarem khususnya di area bahu.

Selain itu, di HP aku juga download aplikasi namanya Workout Women. Tapi aku engga tau itu ada apa enggak di android. dan dia bagus juga guys aplikasinya. ada banyak pilihan course. bisa lihat progress juga. asal jangan lupa start app nya waktu kalian mulai workout. 

Saran lagi, jadi kemarin aku molor 1 minggu dari agenda yang tak jadwalkan untuk mulai workout, karena kepotong libur juga, jadi aku enggak di kos. Ohya, sebelum memulai rutinitas ini, aku siapin beberapa perlengkapan mulai dr yoga mat, baju, celana olahraga, kaos kaki, sepatu. Karena aku ngerasa kalo males aku langsung ganti kaos sama celana olahraga terus kaos kaki, aku bs langsung mulai. tp kalo aku dasteran apa koloran baju tidur gitu, kagak mulai-mulai alias ogah banget.

Dan yang sering aku alemin, aku tuh bingung kapan workout yang pas di hari kerja. karena pulang kantor makan, abis makan masa olahraga? malem dikit, mandi, udah mandi masa olahraga? gitu aja terus wkwkwk. jadi aku siasati, aku pulang kerja jam 5 harus langsung beli makan dan makan. terus aku mulai olahraga paling cepet jam 8. abis itu baru mandi. Dan insyaAllah karena ada aktivitas tambahan jadi lebih gampang tidur gitu.

Kayaknya itu aja sih tips dari aku.. Selamat mencoba ya guys! semoga istiqomah dan terus ketagihan!πŸ’ͺ

Cheers,
R.

12.8.20

Stay Organized!

Holaaa, mi amor!

Selama hampir 5 bulan pandemi ini berlalu, rasanya masih belum terbiasa dengan banyak hal yang sekarang harus dibiasakan. Semuanya terasa asing masih suka berandai-andai, kapan ya semua ini akan kembali normal?

Padahal sebenernya, kita juga harus sadar kalau enggak ada kata "kembali". Ya beginilah adanya sekarang dan apa yang ada kedepannya. Rasanya, hanya ingin bertemu dengan teman yang jarang ditemui pun masih merasa insecure, sangsi juga sama kondisi teman tersebut. Sehingga, memilih untuk tetap menjaga jarak atau dengan stay at home. Yang aku yakin, di satu titik tuh pikiran dan tubuh kita akan menjadi jenuh, resah, dan merindukan kebiasaan yang lama. 

Hahaha, ini aku gatau mau cerita apaan sih. Cuma mau berbagi tips ajah. Jadi meskipun sekarang semuanya sudah berubah. Aku punya satu kebiasaan yang aku selalu lakukan, dari jaman aku masih SD. Yaitu, aku selalu melakukan journaling. Bikin agenda. Rencana hal-hal apa yang mau aku lakuin. Secara general biasanya bisa aku tulis untuk sebulan kedepannya. Kalo detail, tiap minggu bisa aku updet. Dan menurutku dengan adanya itu akan bermanfaat banget to keep our self sane. Karena meskipun kondisinya sudah berubah, tapi kita tetep harus punya aktivitas dan selalu produktif. Jadi, misal kita ngga journaling nih, mungkin cuma kepikiran 'aduh gabisa gini gabisa gitu'.. tapi mungkin, kalo kalian coba bikin agenda, kalian jadi memikirkan kan mau ngapain yaa sbg pengganti aktivitasnya. Atau sederhana aja nulis hal-hal yang menarik dalam journal kita itu. 

Nah salah satu contohnya nih, kalian tau gaksih, aku lagi ngerasa badanku mulai "padat" lagi hahahaha. Karena, pas beberapa awal tahun kemarin aku udah mulai bisa merutinkan jadwal olahraga, tp semenjak pandemi, olahraga di tempat umum menjadi suatu yang tidak mungkin. (aku olahraganya biasanya ikut senam atletik gitu, atau jogging santai di hari Sabtu). Aku anak kos, gapunya sepeda, jarang pulang rumah. Ditambah mager. Ngemall pun juga jarang hahahaha. Jadi aktivitas ya berangkat kerja itu aja. Nah, tapi anehnya aku sering ngerasa banget capek sebadan. Naik tangga ke lt.3 ngos-ngos an. wkwkwk! dan akhirnya aku bikin resolusi baru.. aku coba beli yoga mat! Dan jujur, sampe detik aku ngetik ini, aku belum nyobain dia sama sekali. Karena deadline kerja lagi numpuk. Sampe harus dibawa dikerjain di kos huhu. Tapi! Aku gamau dia jadi mubadzir. So, aku coba membuat, jadwal rutin harianku yang baru sebagai acuanku buat meluangkan waktu berolahraga. Dan aku udah ngumpulin banyak tutorial olahraga yang cuman 10 menit doang. Jadi, RIZ, PLEASE JANGAN BANYAK ALASANN! haha. maka tercetus lah aku menulis post ini. sebagai reminder buat diriku sendiri!

Jadi tunggu updet lebih lanjut dariku ya guys! Akan updet mengenai home work out routine ku setelah ini! Dan jangan lupa! Mulai lah journaling & stay organized! 

Salam, 

R.

3.7.20

Gravity

  • Is it wrong trying to fight the gravity? 

Trying to go the other side from what I know exactly the world is telling me to?

Been missing this space for sure. Honestly, i don't know why it's sooo sooo hard to spare times to blab at here, but hopefully I could finish what I write this time. We all know, 2020 went unpredictable. Start with few nature's disaster followed by the coming of corona pandemic. Well, let's say that the phrase which said "man may make plans, but only God who decides" is not debatable. We all know 2020 supposed to provide many "pretty dates" they say, when people planned for held some special events such as, marriage, engagement, birth, etc. But, who knows? Allah turns it upside down. We are prohibited to do things and stuffs we used to do. from the basic into the most complicated things. 



2020 is somehow a special year, for me. It marks my quarter of century living as a human. They say, 25 comes with its quarter life crisis. But, what was it? I thought, every year bring us another problem to conquer, another self identity to discover, another feeling to feel, and another goals to pursue. And among those phase we need to pass, we all may and normally to feel lost and be bitter.

Every year, we are wandering unlocking our hidden destiny while our consciousness still telling us where we want to go, but the reality doesn't always goes the way we want it and that's when the crisis come. That's when we feel lost and upmost from our own gravity. Then, asking about our existence.

By the way, nothing much happened on my 25's birthday. Beside, we were all in self-distancing mode. I didn't even celebrate it with my family. I bought my own birthday cake two weeks after it. I bought a cheesecake as a self-appreciation. I didn't even light my candle because I couldn't find the lighter at my own home- haha. By the way, my family has been moving to Malang since the beginning of Corona started. So, my home at Surabaya temporarily empty. I rarely go there and mostly stay at Gresik due to the regulation.

Well, that's all I can tell about the birthday. 

*--------*

  • "Do not chase people. Be you and do your own thing and work hard. The right people who belong in your life will come to you, and stay."

7.5.20

Minimalism

pic courtesy: google.

Hehe, ini adalah salah satu topik menarik yang baru aku bener-bener pelajari di tahun 2020. Jadi ceritanya, waktu itu aku dengerin salah satu podcast nya Raditya Dika sama Mbak Wina Hananto (seorang financial planner) yang tentu aja topiknya tentang keuangan. It's worth the half and  hour of mine. So, let's just jump into the topic, minimalism.

Jadi, sebenernya minimalism adalah sebuah pengembangan dari gaya hidup sederhana. Dan pesan yang dibawa sama minimalism adalah live more with less. Menurutku, penting banget buat menanamkan nilai-nilai itu apalagi di dunia serba digital kayak sekarang. Dimana mengakses segala sesuatu itu sangat-mudah-sekali, salah satunya adalah berbelanja online. Dan jujur aja, aku juga salah satu korbannya. Stay at the social media nowadays are so tempting. Kita tahu sendiri ada berapa banyak influencer yang bisa setiap jamnya menawarkan barang-barang untuk dibeli. Kadang hidup emang seklise itu sih, disatu sisi itu adalah cara mereka mencari uang, di sisi lain juga mereka udah ngebantu usaha seseorang, yang juga berarti ngebantu perkembangan ekonomi- yang mana itu penting juga. Selain itu, dengan mengakses internet tiap hari, kita bisa lihat betapa banyak iklan yang berseliweran yang isinya promo-promo atau diskon-diskon. 

Jadi intinya, emang zamannya yang udah berubah. Dan itulah tantangannya dan kenapa mindset untuk hidup minimalis itu esensial juga buat kita tanemin. Dan dari survey singkat ke temen-temen sekitarku, sebenernya lebih mudah buat ngejalanin minimalism buat cowo-cowo dibandingin oleh cewek-cewek. Percaya gak percaya, silahkan tanyakan ke diri kalian sendiri, girls! hahaha

Kalo kalian pengen coba juga buat hidup minimalis. Hal pertama paling penting yang perlu kalian lakukan menurutku adalah cari tujuan utama kalian untuk menerapkan gaya hidup ini. Karena, godaan nya banyak banget bok. Dan yang kalian harus inget, aku yakin proses buat jadi orang yang minimalis itu ngga bisa instan. Karena kalian akan merubah mindset dan gaya hidup kalian. Apalagi kalo case nya adalah kalian sama sekali gapunya financial issues kayak makin susah buat menggali urgensi nya kalian buat jadi minimalis. Karena menurutku, impact paling besar dari menganut gaya hidup ini adalah ke sisi keuangan sih. Tapi sebenernya gak itu doang! 

In my opinion, nantinya salah satu goals dr hidup minimalis adalah kita bisa sehat secara mental diantara perkembangan dunia saat ini. Maksudnya?

Sederhananya, di sosmed, kita bisa dengan sangat mudah ngelihat status kehidupan seseorang. Ya gak sih? Gaya hidupnya, barang-barangnya, kehidupan sosialnya, kondisi ekonominya. Yang kalo kita bukan tipe orang yang bodo amat, kita bisa dengan mudah banget ngerasa minder akan apa yang kita punya. Karena kita bisa dengan mudah juga buat ngebandingin hidup orang sama hidup kita. 

Sekarang, udah jalan 2 bulan aku melatih diriku biar bisa jadi orang yang minimalis. HAHAHA dan asli susah bangetttt :') Apalagi kalo ada diskon-diskon gitu, kadang masih pingin. :') Nah, aku pengen share gimana perjalananku buat jadi minamalism yah!

1. Menumbuhkan kesadaran

Jadi, dalam rangka buat mencari urgensi jadi minimalism, aku coba menumbuhkan kesadaran kalo aku butuh jadi orang yang seperti itu. Gimana? waktu itu aku beres-beres kamarku. Dan ceritanya waktu itu aku habis bikin workspace gitu di kamar. Dan aku mau mindahin tempat barang2ku sebelumnya ke workspace itu. Nah saat itulah aku menemukan, aku punya benda-benda yang sebenernya ga kepakai. Dan akhirnya aku rid-off kan barang-barang itu. Akhirnya kamarku lebih rapi dan spacious. Tapi ada yang lebih bikin frustasi, yaitu saat ngerapihin lemari. Karena, aku sadar aku punya banyak banget baju dan itu belum termasuk baju-baju di rumahku Malang. Dan parahnya lagi, dari sekian baju, cuma baju-baju tertentu yang aku sering pakai dan banyak yang udah sekali pakai, aku ternyata ga suka, akhirnya ga aku pakai lagi. Kayak gitu terus. Dan itu adalah salah satu efek dari beli baju online sih menurutku. 

Nah, disitulah perasaan guilty mulai muncul dalam diriku wkwkwk. Disitulah aku mulai menghitung-hitung, berapa banyak uang yang bisa aku simpan dengan gak membeli mereka. Dan emang biasanya aku suka mikir "aku gaksuka pake baju yang itu-itu aja" jd kalo ada acara apa aku cenderung beli baju baru (dan ini aku nurun dari mamaku sumpah) hahaha. NAH JADI GITU GAIS mulanya aku mulai cari tahu tentang minimalism. 

2. Set your goals dan peraturan dasar dari pola minimalism kalian

Lanjut! jadi, setelah perasaan guilty dan kesadaran itu muncul. aku mulai bikin goals dan aturan-aturan dasar gaya hidup minimalis yang ingin aku terapkan. Jadi, minimalis itu luas banget loh cakupannya, sampe ke kayak bangun rumah itu minimalis cat nya putih modelnya ga aneh-aneh. Punya baju minimalis, coraknya jumlahnya modelnya. Macem-macem lah. Nah tapi, inti yang di passed on dalam minimalism adalah kita harus bisa bahagia dengan hidup yang minimalis. Makanya, penting banget bikin aturan main yang akan kalian anut dengan berprinsip dari minimalism itu sendiri. Jadi kalian tetep bisa merasa bahagia dan cukup dengan gaya hidup kayak gitu. Dan rootnya adalah merubah mindset kita.

Set goals, jadi karena aku masih umur 25 an dan punya penghasilan sendiri baru 3 tahun an ini. Salah satu goals aku adalah aku pengen punya keuangan yang baik dengan salah satu caranya bisa nyimpen uang dengan baik (saving money) yang teramat sangat bisa didukung kalo aku hidup minimalis. Nah, karena hubungannya ini dengan uang dan menabung, jadi jangan sampe setelah kalian menganut minimalism kalian jadi pelit HAHAHA. NO! Jadi, kalo aku nih, aku udah daridulu sih bikin rencana keuangan tiap bulan. Jadi aku punya income berapa, dan yang aku harus keluarin berapa yang akan aku simpan berapa. Bedanya... adalah cara aku spend money nya.

Jadi misal aku punya anggaran buat self appreciation 20% dari income ku ya. Nah tapi sekarang aku agak strict sama akan aku apakan 20 persen ku itu. Gitu. Tapi jangan lupa, intinya kita harus tetep bahagia. Jadi kita bisa hidup dengan hal-hal yang gak berlebihan tapi berkualitas. Dan apakah aku bahagia? Alhamdulillah aku tetep bahagia. Aku tetep bisa beli apa yang aku butuhkan kok. Inget ya butuh! Jadi kalo itu karena aku pengen, aku bener-bener consider ulang keinginanku itu. 

3. Decluttering barang-barang kalian

Dan saat kalian udah masuk ke tahap ini, itu artinya kalian udah mulai menjadi minimalis. Decluttering itu esensinya adalah kalian bisa mendefinisikan barang-barang kalian.. mana yang penting dan mana yg engga. Mana yang bener-bener kalian butuhin dan mana yang engga. Nah, kalo di titik ini kalian masih susah untuk merelakan barang-barang yang "just in case..." atau "takutnya butuh..." maka cek ulang niatnya... Ohya, dan gausah jadi mubadzir yang buang2 yaa! Kalian bisa ngasih itu ke orang yang lebih butuh dari kalian atau di preloved juga bisa :)

4. Lebih bijaksana dalam menggunakan uang

Terutama, dalam hal berbelanja. No more.. mumpung sale padahal engga butuh. No more.. beli ini buat acara ini, padahal acaranya cuma terjadi sekali. No more.. beli ini ah murah dan lucu, padahal sekali pakai rusak. Nah ini, kalian bisa banget googling karena banyak banget referensinya. Intinya kebanyakan mereka mencoba menggantikan barang yang cuma sekali pake jadi yang re-usable jd sekalian jadi orang yang eco-friendly deh :)) Juga mereka lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Jd bener-bener memiliki sesuatu yang ngga berlebih tp berkualitas. Jd secara jangka panjang awet, nyaman, multifungsi meskipun hrs spend uang lebih banyak. Tapi pada akhirnya tetep, dependency on money is much lower. 

Selain itu, coba menggantikan kebahagiaan dr yang biasanya misal bisa bahagia kalo abis belanja jadi ke bisa bahagia karena memberi ke orang. Ibaratnya, cari replacement of how to satisfy the fulfilment of your happiness. 

(it's a good video contains of the minimalism's perspective)

Intinya, minimalis ini banyak banget loh positifnya, jadi gak ada salahnya coba diterapkan (bagi yang belum hehehe) (bagi yang masih suka susah buat jadi orang minimalis). Gaya hidup ini amat sangat lekat dengan nilai-nilai kebaikan dan sudah diajarkan juga dalam agama kita, yakan? Seperti misalnya mengajarkan untuk tidak mubazir, membiasakan sedekah, disiplin, melatih keikhlasan dan bersyukur dengan apa yang dimiliki sekarang dan masih banyak lagi. Nanti kapan-kapan kita sambung lagi 😊

Salam,
R.

15.4.20

Career womans = Housewives


If there’s any statement that said 

“housewives need less ability than a career woman does”, 


or 

“woman can’t be a career woman, they must be a housewife”,


I’d really disagree with that. for example, if there’s a career woman who works as an accountant, she only needs to be expert in accounting field, but not the housewives do. Being a housewife means that a woman should role many characters in a day. Sometimes, she needs to be a chef who can cook various menus of meals. Sometimes, she needs to be a good cleaner who make up the bed, clean the house, and do the dishes. Sometimes, she need to be a driver who picks her children up from school or just simply go out for buying the house’s needs when it ran out of stock. Sometimes, she has to be a teacher who teaches her children all the lesson about life. Sometimes, she needs to be a good manager for her husband and children. Sometimes she needs to be a good accountant who sets up the monthly’s budgets and manages the money from her husband so it will be enough to take care the whole needs at home. And so many else role that she needs to take from the simplest thing to the most complicated ones.

But, that doesn’t mean that a career woman can’t role them both. That’s why, woman needs to be smart (not only about what score that she got when she graduated), but woman needs to be smart and able in many aspects. Because, woman holds a big duties in this world. 

Being a full time housewife or a part time housewife and career woman is a choice that I believe, it’s made upon ones reasons that a woman has to choose, and we should respect it.. Because, this thing called life happens within every second that past. Maybe beyond any career woman’s heart they actually want to be a full time housewife but, maybe there are conditions that made her needs to be a career woman. And, i think, as long as she didn’t leave her nature job as a housewife for her family, that really is not a big problem.

If you are still a teenage or a young adult lady, I suggest you to do chores at home (if you haven’t done it for awhile), and you will see how important is the role of a women, especially ‘a mother’ at home that we will take, someday, soon, insyaAllah. Maybe, that’s why my religion teaches its followers to place our ‘mother’ before any other person in our life. And this is, one of my favorite quotes about woman which said by one of Indonesian Actress, Dian Paramita Sastrowardoyo,

“Whether being a career woman or being a housewife, a woman needs to have a high education because one day she will be a mother. Smart mothers will raise smart children.”

Being a career woman or being a housewife, it’s the same thing - because however, a married woman needs to be a housewife for her family. It is not a formal duty like what a career woman’s got at her office, but it’s the gift from Allah that woman has to take :) The key is so simple, be wise enough and keep remember which thing that need to be prioritized. So, the question is, have you prepare yourself enough? And which role that you would choose in the future? :) 

20.3.20

Human; A well camouflage creature.



This tittle has been hanging on my mind for the past weeks. Trying to write what it means here. But I couldn't find the exact words to explain it. This thought, came in my mind when I was in the middle of crowds weeks ago. I looked at people who walked by, chatted here and there.. Smiled through the camera with their friend, or couple. While, I discover how lonely I am in a handful moments like that and realize how I camouflage my self all the time at so many time. 

Well, honestly, I am not sure what I am going to share within this writing.. Just missing my routines to write on this blog.. But it's so hard these days to write, cause I don't think I had enough interesting stuff to share, or any tea to spill. But, I always wish you guys have a good life at anywhere you are now and I wish that you are happy.

So, I will just try to update how is my life going lately. Well, it just an usual day with an usual routine. Wake up, take a bath, go to the office, have some hectic days and most of the time just a chill day with an absurd task to do, then go back to my boarding house, buy dinner, playing my phone or read some books, then sleep. But, there is also this day, when I realize that I am already a 24 years old woman, who is going to be 25, in three months. So, honestly, sometimes I get in a moment when I am asking about my life to my own self. 

What you want to do next?

Then, I stuck. I am not sure with the answer. I used to have many dreams with details. But, I guess I stopped being that person these last several years. I let myself withdrawn in the flow. Sometimes, this thought, came, I need someone to company me and enter the new chapter together. Because I think, I had completed my 'most basic and main' visions. E.g entering school that I dreamed of, being a bachelor, get job, buying stuffs that I couldn't afford before.

I need to level up, that's what I am thinking

Months go by, but the sign of 'Muara' has not ever really came. Never expected that finding the one is actually hard at this crucial age. I don't know, am I too hard with my self? or too picky? or too clueless what I should do? Can't lie, I also felt that feeling of anxious at my several gloomy nights. But, this is the "turning point" came from. One day, I said to one of my friend, that I wanted to get married, but have no idea with who. Then she sent me, a wisdom quotes from an account, which said, "..rather than spending your time, being worry and anxious about your future spouse, better to prepare your self by reading any source of knowledge, improving your self, join group studies.."

And it was like an awakening moment to me. I started to (literally) listen (with maximum level of focus) to many online studies, listen to many podcasts, reading self improvement books, and keep praying. Now I have so many notes about it. It's so satisfying 😁 I think, you guys should try it too. It really can distract your times instead of doing nothing and being so blue.

See you soon, Muara. Hope you don't disappointed to meet me, then. 😊

4.1.20

My First Hiking to Watu Jengger!




Hallo, semua! Aku kembali lagi! Hehe
Oh iya, sebelumnya, mau ngucapin selamat tahun baru semua! Wah gilaa sih, kita udah melewati 2,5 dekada guys! Tua gasih? iya lah. Tahun baru kali ini, berbeda dari sebelumnya loh, gimana enggak, beberapa tahun belakangan ini, aku cuma tidur doang di kamar. Bangun-bangun cuma kayak "oh tahun nya udah ganti ya?" udah gitu aja. Kalo dulu pas masi jaman-jaman sekolah, aku masih rajin, bikin resolusi-resolusi trs aku pasang di meja belajar gitu. Dan lucunya, kalo aku lihat lagi, alhamdulillah... banyak loh yg sudah terwujud sampe di tahun sekarang ini.

Nah, oke kembali ke poinnya! Jadi apa yg beda? hehe.
Tahun ini, aku ngabisin malam tahun baru dengan naik perbukitan sama empat teman kantorku. Kita pilih buat naek bukit Watu Jengger di Mojokerto, mengingat aku masih pemula. Di tengah-tengah perjalanan dalam gelap itu, diem-diem aku merenungkan banyak hal.

Jadi, malem itu, kita jalan, bener-bener di dalem pepohonan gelap, gatau kondisi sekitar, dan waktu perjalanan naik itu, cuma ada rombongan kita. Ditengah jalan, ketemu anjing lah, ketemu jalan yang susah (licin, lengket, dan sejenisnya). Tapi, waktu hari mulai terang dan kita udah sampe ditempat yang lebih tinggi, ada perasaan lega dalem hati, lalu juga sebuah rasa syukur karena ternyata aku bisa juga sampe di atas (meskipun ga seberapa). 

Intinya, aku sangat bersyukur hari itu aku tau gimana rasanya naik gunung, aku sangat bersyukur hari itu aku naik sama temen-temen, mas, mbak, yang sangat baik. Mengingat aku anaknya adalah introvert, jadi kadang bisa tiba-tiba ngerasa gak nyaman aja gitu, tp jujur huhu terharu. Ternyata, perjalanan naik gunung itu, bener-bener perjalanan memahami diri sendiri ya. Perjalanan untuk belajar mengalahkan ego dalam diri kita, perjalanan untuk nggak mudah menyerah, perjalanan yang intinya penuh makna kalau kita bisa memetik arti setiap jejak yang  kita  buat saat itu. Bukan cuma nginget rasa lelahnya, nggak nyamannya, ataupun jauhnya jarak yang harus kita lewati.


Perjalanan hari itu adalah gambaran kecil tentang hidup ini. Kadang kita gaktau apa yang harus kita lewatin dalam hari-hari di hidup kita, kita gak tau hambatan apa yang ada di depan, kita gaktau konsekuensi apa dari setiap pilihan yang kita buat, yang mana kita pasti berharap akan ada hal baik di depan sana. Tapi ya itulah hidup, indah dengan segala ke abu-abu annya. Gakada yang seratus persen baik bahagia ataupun menyenangkan begitu juga tidak ada seratus persen sedih mengecewakan ataupun menyakitkan. Layaknya, pemandangan indah yang bisa kita lihat ketika sampai di puncak yang juga sebenarnya diiringi dengan rasa lelah dan ketidaknyamanan yang kita terima di waktu yang bersama-an.

Terima kasih kepada Sang Sutradara Hidup yang masih memberikan kesempatan untuk bernafas sampai hari ini. Sungguh, Tuhan, Engkau lah yang Maha Mengetahui begitu juga mengetahui apa doa-doaku untuk tahun-tahun ke depan, begitu juga doa setiap insan-Mu. Semoga aku mampu senantiasa menjadi hamba yang menjaga perintahMu dan menjauhi laranganMu. Semoga aku mampu menjadi hamba yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Di tahun ke-25 ku ini, salah satunya, aku berdoa, agar aku dipertemukan dengan muara-ku. Minta doanya ya temen-temen..

Terima kasih 2019 untuk segala pengalaman, pembelajaran, dan kenangannya. πŸ’›


Salam rindu,
R.